Rahudin Hasan (61 tahun) membuka kembali memori lamanya pada 2009. Saat itu, Udin—sapaan akrab Rahudin—setiap hari bekerja sebagai tukang kebun di sebuah sekolah.
Udin gelisah. Gajinya sebulan hanya cukup untuk menghidupi keluarga selama dua minggu. Sementara itu, putri satu-satunya hendak masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP).
"Kok gaji sebulan hanya cukup untuk hidup dua minggu. Kemudian anak saya waktu itu kelas 6 SD, mau masuk SMP. Gimana ini mau masuk SMP, nggak punya uang sama sekali," kata Udin membuka kisah, Kamis (16/4).
Udin yang beralamat di Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, memutar otak mencari jalan keluar dari persoalan ekonomi. Bersama istrinya, Siti Koringah (52 tahun), Udin memutuskan mencari pinjaman untuk modal.
"Saya beranikan diri utang uang Rp 1 juta untuk modal usaha," katanya.
Modal sudah di tangan. Lalu apa yang harus dilakukan Udin? Di tengah kondisi yang mendesak, terbesit ide untuk berjualan gudeg. Karena tidak memiliki tempat, keduanya memutuskan berjualan di bawah pohon rambutan.
"Waktu itu merintisnya di bawah pohon rambutan sini. Belum ada ruko ini, jadi jualannya di bawah pohon rambutan," katanya.
Pagi hari, Udin memasang tenda untuk berjualan. Setelah selesai, tenda kemudian dibongkar.
Udin tak asal berjualan gudeg. Ia meramu gudegnya dengan rasa yang tidak terlalu manis. Hal ini dinilai penting karena tidak semua orang menyukai gudeg yang manis.
Inovasi rasa itu ternyata membuahkan hasil. Gudegnya disukai banyak orang. Pelanggannya mayoritas adalah pekerja yang membutuhkan lauk untuk sarapan.
"Alhamdulillah laris, banyak yang cocok masakan saya. Jadi gudeg di sini nggak terlalu manis, jadi alhamdulillah banyak yang cocok. Terutama dari luar daerah (orang yang bukan asli Yogya) banyak yang cocok," katanya.
"Jadi kalau pagi nggak sempat masak, itu pada beli lauknya saja. Kadang juga ada yang beli nasi, tapi rata-rata beli lauknya saja," ujarnya.
Tidak disangka, usaha yang lahir dari kondisi serba terbatas ini berkembang. Udin dan istrinya meraih keuntungan hingga bisa membuka warung gudeg di sebuah kios.
Rezeki makin mengalir. Pada 2012, Udin dan istri memutuskan mendaftar haji.
"Mendaftar haji itu tahun 2012. Waktu itu saya nabung selama kurang lebih tiga tahun," kisahnya.
Kini, setelah penantian 14 tahun, pada 24 April mendatang pasangan suami istri ini akan berangkat ke Tanah Suci untuk berhaji. Sebelumnya, pada 2023 keduanya sudah sempat umrah.
Warung Tutup SementaraKarena ditinggal berhaji, warung miliknya akan tutup sementara. Udin telah menyampaikan hal ini kepada pelanggannya agar tidak kecewa.
"Ini ditinggal haji harus tutup, kalau anak saya nggak bisa masaknya," katanya.
Putri Udin lebih tertarik pada bidang kecantikan dan telah memiliki usaha salon. Sehingga, mau tak mau warung harus tutup sementara.
Kumpulkan Uang Sedikit demi SedikitSiti yang duduk di samping Udin turut berkisah perjuangannya mengumpulkan uang untuk berhaji.
"Kita belanja, nanti kalau ada sisa itu ditabung dulu di rumah, disisihkan. Nanti kalau sudah cukup baru dimasukkan ke bank. Soalnya kalau langsung juga nggak bisa, yang penting disisihkan sedikit-sedikit," katanya.
Uang yang disisihkan tiap hari bervariasi antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Uang kembalian juga dirawat dengan baik agar bisa ditabung.
"Alhamdulillah, dari titipan snack itu juga bisa nambah untuk nabung," tuturnya.
Dahulu, bisa ke Tanah Suci, apalagi berhaji, merupakan mimpi bagi Siti.
"Apa mungkin bisa ke sana, soalnya biaya juga mahal. Kita cuma jualan kayak gini, rasanya nggak sampai kepikiran sejauh itu," kisahnya.
Siti masih tak menyangka dirinya bisa berangkat haji secepat ini.
"Alhamdulillah, Gusti Allah maringi kelancaran," pungkasnya.





