EtIndonesia. Akhir pekan lalu di Islamabad, setelah melalui malam tanpa tidur dengan suasana yang tegang, Amerika Serikat dan Iran mengakhiri pertemuan tingkat tinggi pertama mereka dalam beberapa dekade. Meskipun tidak menghasilkan terobosan, ada laporan bahwa kedua pihak kemungkinan akan kembali ke meja perundingan paling cepat akhir pekan ini. Selain itu, berdasarkan wawancara yang dipublikasikan Reuters, sejumlah detail mengejutkan dari negosiasi tersebut terungkap.
Menurut sumber di lokasi, pertemuan di Hotel Serena Islamabad dibagi menjadi tiga area: satu untuk pihak AS, satu untuk Iran, serta satu ruang pertemuan bersama yang dimediasi oleh Pakistan. Di ruang utama, penggunaan ponsel dilarang.
Seluruh perundingan berlangsung lebih dari 20 jam. Sumber menggambarkan suasana saat itu sangat tegang dan kurang bersahabat. Bahkan dari luar ruangan, terdengar suara perdebatan dengan nada tinggi.
Pejabat Pakistan harus bolak-balik sepanjang malam untuk melakukan mediasi, termasuk menyajikan minuman dan memisahkan kedua pihak sementara waktu untuk meredakan ketegangan.
Baru pada Minggu pagi, kemungkinan karena kelelahan, suasana mulai sedikit mereda.
Salah satu peserta mengungkapkan bahwa sebenarnya kedua pihak sempat “sangat dekat mencapai kesepakatan”, bahkan “sekitar 80% telah disepakati”. Namun negosiasi terhenti pada beberapa isu yang tidak dapat diputuskan langsung, termasuk program nuklir, pembukaan Selat Hormuz, dan besaran pencairan aset yang dibekukan.
Ada juga detail yang cukup mengejutkan. Disebutkan bahwa ketika membahas “jaminan keamanan” dan “pencabutan sanksi”, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat emosi dan bahkan membentak Vance dengan berkata: “Bagaimana kami bisa mempercayai kalian?”
Pada Senin (13 April), Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran sebenarnya sangat ingin mencapai kesepakatan.
Trump mengatakan: “Saya bisa beritahu Anda, mereka sudah menelepon. Mereka sangat, sangat ingin mencapai kesepakatan.”
Trump juga menegaskan bahwa garis merah tidak akan berubah: Iran sama sekali tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Iran—catat ini—Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.”
“Jika mereka tidak setuju, maka tidak akan ada kesepakatan—tidak akan pernah ada kesepakatan.”
Meskipun akhirnya tidak tercapai kesepakatan, Wakil Presiden AS JD Vance setelah pertemuan menyatakan bahwa pihaknya telah mengajukan “versi paling sederhana, final, dan terbaik” dari proposal, dan kini tergantung apakah Iran akan menerimanya.
Sumber pada Selasa (14 April) menyebutkan bahwa tim negosiasi kedua pihak kemungkinan akan kembali ke Islamabad paling cepat akhir pekan ini untuk melanjutkan putaran berikutnya.
Dilaporkan oleh reporter NTD, Liu Jiajia dari Amerika Serikat.





