Mataram (ANTARA) - Kementerian Sosial memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas Mataram dan PT Sanindo Pangan Rinjani untuk memperluas program pemberdayaan petani porang di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan Menteri Sosial Saifullah Yusuf bersama Rektor Universitas Mataram (Unram) Sukardi, perwakilan PT Sanindo Pangan Rinjani yang disaksikan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Bupati Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri di Auditorium Unram, Kamis.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan program itu dirancang dengan pembagian peran yang jelas antarpihak.
"Bibit dari Kementerian Sosial, pelatihan dari CSR perusahaan, pendampingan dari perguruan tinggi, monitoring dan evaluasi dari pemerintah daerah, dan perusahaan sebagai off-taker," ujarnya.
Ia mengatakan proyek ini menjadi model awal (pilot project) yang akan terus dikembangkan jika menunjukkan hasil positif.
"Kalau nanti ini berhasil, Pak Gubernur akan melakukan perluasan dan duplikasi di beberapa titik. Ini semacam uji coba tahap awal," kata Gus Ipul.
Baca juga: Mensos & Mendes hadiri Musrenbang NTB, apresiasi Program Desa Berdaya
Aspek pemasaran turut menjadi perhatian utama dalam setiap program pemberdayaan. Sebelum melakukan pemberdayaan, para pihak memikirkan pembeli hasilnya. Lantaran keberadaan pembeli sangat penting untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi petani.
"Pembelinya harus dijaga supaya harganya terjaga dan petani tidak dirugikan ketika panen. Apalagi porang ini membutuhkan waktu 3 sampai 4 tahun sebelum bisa dipanen," tuturnya.
Ia juga membuka peluang keterlibatan lebih luas dari sektor swasta ke depan. Melalui kolaborasi ini, pemerintah berharap pemberdayaan tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan dan mampu memutus rantai kemiskinan.
Sementara Rektor Unram, Sukardi menegaskan kesiapan kampus untuk terlibat aktif dalam program pemberdayaan masyarakat.
"Kampus tidak bisa hanya berada di menara gading. Kita harus hadir di tengah masyarakat, menjawab persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial," ujarnya.
Baca juga: Kehadiran pabrik porang gairahkan produksi petani di Bulukumba
Ia menegaskan Unram siap mengerahkan sumber daya akademik untuk mendukung program tersebut seperti dukungan dosen dan tenaga akademik yang siap turun langsung melakukan pendampingan di masyarakat.
"Ada 200 hektare lahan yang disiapkan di Lombok Utara untuk penanaman porang ini," katanya.
Ada dua penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan Mensos. Pertama MoU antara Kemensos, Unram, dan PT Sanindo Pangan Rinjani tentang pelaksanaan pemberdayaan sosial. Kedua, Kemensos dan Unram tentang sinergitas penyelenggaraan kesejahteraan sosial dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Selain itu, Gus Ipul turut menyerahkan bibit porang kepada keluarga penerima manfaat (KPM) serta bantuan simbolis untuk mendukung pengembangan program pemberdayaan di daerah.
Kolaborasi ini melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dalam satu ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi mulai dari hulu hingga hilir, termasuk aspek produksi, pendampingan, hingga pemasaran hasil panen.
Baca juga: Kemensos-Agrinas matangkan skema berdayakan PKH Koperasi Merah Putih
Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan Menteri Sosial Saifullah Yusuf bersama Rektor Universitas Mataram (Unram) Sukardi, perwakilan PT Sanindo Pangan Rinjani yang disaksikan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Bupati Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri di Auditorium Unram, Kamis.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan program itu dirancang dengan pembagian peran yang jelas antarpihak.
"Bibit dari Kementerian Sosial, pelatihan dari CSR perusahaan, pendampingan dari perguruan tinggi, monitoring dan evaluasi dari pemerintah daerah, dan perusahaan sebagai off-taker," ujarnya.
Ia mengatakan proyek ini menjadi model awal (pilot project) yang akan terus dikembangkan jika menunjukkan hasil positif.
"Kalau nanti ini berhasil, Pak Gubernur akan melakukan perluasan dan duplikasi di beberapa titik. Ini semacam uji coba tahap awal," kata Gus Ipul.
Baca juga: Mensos & Mendes hadiri Musrenbang NTB, apresiasi Program Desa Berdaya
Aspek pemasaran turut menjadi perhatian utama dalam setiap program pemberdayaan. Sebelum melakukan pemberdayaan, para pihak memikirkan pembeli hasilnya. Lantaran keberadaan pembeli sangat penting untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi petani.
"Pembelinya harus dijaga supaya harganya terjaga dan petani tidak dirugikan ketika panen. Apalagi porang ini membutuhkan waktu 3 sampai 4 tahun sebelum bisa dipanen," tuturnya.
Ia juga membuka peluang keterlibatan lebih luas dari sektor swasta ke depan. Melalui kolaborasi ini, pemerintah berharap pemberdayaan tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan dan mampu memutus rantai kemiskinan.
Sementara Rektor Unram, Sukardi menegaskan kesiapan kampus untuk terlibat aktif dalam program pemberdayaan masyarakat.
"Kampus tidak bisa hanya berada di menara gading. Kita harus hadir di tengah masyarakat, menjawab persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial," ujarnya.
Baca juga: Kehadiran pabrik porang gairahkan produksi petani di Bulukumba
Ia menegaskan Unram siap mengerahkan sumber daya akademik untuk mendukung program tersebut seperti dukungan dosen dan tenaga akademik yang siap turun langsung melakukan pendampingan di masyarakat.
"Ada 200 hektare lahan yang disiapkan di Lombok Utara untuk penanaman porang ini," katanya.
Ada dua penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan Mensos. Pertama MoU antara Kemensos, Unram, dan PT Sanindo Pangan Rinjani tentang pelaksanaan pemberdayaan sosial. Kedua, Kemensos dan Unram tentang sinergitas penyelenggaraan kesejahteraan sosial dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Selain itu, Gus Ipul turut menyerahkan bibit porang kepada keluarga penerima manfaat (KPM) serta bantuan simbolis untuk mendukung pengembangan program pemberdayaan di daerah.
Kolaborasi ini melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dalam satu ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi mulai dari hulu hingga hilir, termasuk aspek produksi, pendampingan, hingga pemasaran hasil panen.
Baca juga: Kemensos-Agrinas matangkan skema berdayakan PKH Koperasi Merah Putih





