Grid.ID – Mengupas Bali dari sudut pandang seni. Buku Warna Bali hadir sebagai upaya memperkaya pemahaman publik terhadap budaya Bali melalui perspektif warna.
Harian Kompas bersama Yayasan Satya Djaya Raya (YSDR) meluncurkan buku “Warna Bali: Ketika Sistem & Pertemuan Menjadi Identitas” di Bentara Budaya Jakarta pada Kamis (16/4/2026). Buku Warna Bali merupakan karya dari lima seniman dan akademisi dari Bali, yakni I Wayan Seriyoga Parta, I Made Susanta Dwitanaya, Dewa Gede Purwita, Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan, dan I Gede Gita Purnama Arsa Putra.
Bersamaan dengan momen peluncurannya, sesi bedah buku juga berlangsung dengan menghadirkan 4 narasumber. Di antaranya I Wayan Seriyoga Parta - Akademisi, Peneliti Gurat Institute, Putu Fajar Arcana - Akademisi, Budayawan Bali, Mikke Susanto - Staf Pengajar ISI Yogyakarta, dan Muhammad Hilmi Faiq - Kadesk Budaya Harian Kompas.
Sesi Bedah Buku Warna Bali
Sesi bedah buku ini menarik garis besar bahwa Bali Lebih dari Estetika, Ini Soal Sistem dan Identitas. Bali tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga memancarkan kedalaman spiritual dalam setiap ekspresi budayanya.
Dikutip dari salah satu halaman buku Warna Bali, dipaparkan bahwa warna, motif, dan bentuk bukan sekadar hiasan, melainkan mengandung makna yang lahir dari perjalanan panjang dialog budaya.
Makna tersebut terbentuk melalui proses pertemuan berbagai pengaruh yang saling berinteraksi dari waktu ke waktu. Dari situlah, warna menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana identitas budaya Bali berkembang dan bertahan.
Warna-warna seperti biru dari daun talang, merah dari cinnabar, kuning dari kunyit, hingga hitam dari arang tidak hadir secara kebetulan. Semua muncul melalui proses yang berakar pada kebutuhan spiritual, bukan semata pertimbangan estetika.
Dalam praktiknya, warna hadir sebagai narasi yang hidup dalam sajen, topeng, lukisan, hingga batik. Ia menjadi medium yang menceritakan waktu, ruang, serta relasi mendalam antara manusia, leluhur, dan alam.
Demikian yang juga dipaparkan Putu Fajar Arcana - Akademisi, Budayawan Bali, dalam sesi bedah buku. Dalam praktik seni rupa tradisional Bali, dikenal empat warna dasar yang menjadi fondasi utama, yakni merah, kuning, hitam, dan putih.
“Nah, empat warna ini, itu semuanya berasal, sebagian besar dari unsur-unsur alam. Jadi tidak pernah ada satu warna pun, kecuali yang merahnya. Gincu itu memang, nanti kalau dibaca bukunya, itu berhubungan sama Gincu,” papar Putu Fajar Arcana - Akademisi, Budayawan Bali, dalam sesi bedah buku Warna Bali.
Sementara itu, warna-warna lain seperti hitam diperoleh melalui proses alami yang tidak sederhana. Hitam bisa dihasilkan dari jelantah minyak kelapa yang diproses hingga mengendap, dari arang, atau bahkan dari buah camplung yang dibakar, menunjukkan bagaimana alam menjadi sumber utama dalam penciptaan warna.
Proses ini menggambarkan bahwa seorang perupa, khususnya dalam tradisi lukisan Kamasan, tidak bisa sekadar menggunakan cat instan seperti yang tersedia di toko. Dibutuhkan tahapan panjang dan pemahaman mendalam terhadap bahan serta prosesnya, sehingga setiap warna yang hadir dalam karya tidak hanya memiliki nilai visual, tetapi juga mengandung makna dan perjalanan yang menyertainya.
Hadir dalam sesi bedah buku, Mikke Susanto - Dosen ISI Yogyakarta, menyampaikan pandangannya tentang perkembangan seni rupa di Bali yang sebagian besar juga dituangkan dalam buku Warna Bali. Menurutnya, perkembangan seni rupa di Bali sejak awal abad ke-20 hingga sekarang tidak bisa dilihat hanya dari satu aspek semata, selain warna, ada juga tekstur dan garis.
“Warna itu kan hanya salah satu bagian identitas paling penting dalam sebuah karya seni rupa. Selain warna ada yang namanya tekstur, dan satu lagi garis. Ini hanya salah satu yang dibahas,” ujar Mikke Susanto, dalam sesi bedah buku yang diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta.
Mikke menjabarkan bahwa dalam perjalanan perubahan tersebut, terdapat sejumlah proses yang membentuk dinamika seni di Bali. Salah satunya adalah preaktualisasi, di mana para seniman menggali kembali warisan masa lalu untuk kemudian dihadirkan ulang dalam karya-karya mereka saat ini.
Melalui preaktualisasi, banyak seniman Bali mempertahankan akar tradisi yang kuat, meski tetap memberikan sentuhan personal dalam setiap karyanya. Perubahan yang terjadi tidak selalu bersifat drastis, melainkan lebih pada penyesuaian yang dipengaruhi oleh kemampuan dan interpretasi individu terhadap warisan budaya yang ada.
Selain itu, proses dekonstruksi juga menjadi bagian penting dalam perkembangan seni rupa Bali. Dalam tahap ini, seniman mulai berani mengolah kembali makna dan bentuk, termasuk warna, sesuai dengan cara pandang baru yang dipengaruhi oleh perubahan zaman, dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga era kosmopolitan saat ini.
Diskusi yang berlangsung secara interaktif ini juga menjadi ruang untuk mengaitkan pemikiran dalam buku dengan konteks kekinian, khususnya dalam menghadapi arus globalisasi yang berpotensi mereduksi makna simbolik budaya menjadi sekadar elemen visual.
Melalui peluncuran dan diskusi buku ini, publik diajak untuk tidak hanya melihat warna sebagai unsur estetika, tetapi sebagai bagian dari sistem pengetahuan yang merekam perjalanan sejarah, pertemuan budaya, serta nilai-nilai yang membentuk identitas. Kegiatan ini menegaskan pentingnya memahami budaya secara utuh sebagai fondasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Artikel Asli




