Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Kunjungan ke Moskow dan Paris perkuat kerja sama sektor perdagangan, teknologi, hingga pengembangan kapasitas pertahanan
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memaparkan hasil kunjungan kerja Presiden Republik Indonesia ke Rusia, dan Prancis yang berlangsung pada 13-14 April 2026.
Lawatan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis, mulai dari penguatan ekonomi, ketahanan energi, hingga isu perdamaian dunia.
Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyampaikan bahwa kunjungan Presiden ke Moskow pada 13 April mencakup rangkaian pertemuan bilateral, pertemuan tête-à-tête (empat mata) hingga working luncheon.
Fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah peningkatan kerja sama di sektor ekonomi, perdagangan, pertanian, energi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Dalam pertemuan itu juga, Indonesia menyampaikan apresiasi pada Rusia terkait dengan dukungan terhadap keanggotaan Indonesia dalam BRICS," ujar Vahd Nabyl di Kemlu RI, Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Kedua pemimpin negara juga menaruh perhatian besar pada penguatan ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global saat ini.
Selain itu, Rusia secara resmi mengundang pemerintah Indonesia untuk berpartisipasi dalam sejumlah agenda internasional di Kazan pada bulan Mei, serta pameran industri "Innoprom" di Yekaterinburg pada Juli mendatang.
Kunjungan ke Paris: Kerja Sama Pertahanan dan Deeskalasi Timur Tengah
Menyusul lawatan ke Rusia, Presiden RI melanjutkan kunjungan kerja ke Paris, Prancis, pada 14 April. Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menyebutkan bahwa Presiden melakukan pertemuan tête-à-tête (empat mata) dengan Presiden Prancis untuk membahas penguatan kemitraan strategis kedua negara.
Yvonne mengatakan bahwa salah satu poin utama yang disepakati adalah penguatan kerja sama di bidang pertahanan.
Foto: Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang dalam Konferensi Pers di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Kamis, 16 April 2026
"Kedua pemimpin sepakat untuk terus memperkuat kerja sama pertahanan, termasuk riset dan pengembangan bersama, transfer of knowledge, serta pengembangan kapasitas," jelas Yvonne.
Selain sektor pertahanan, pembahasan juga mencakup kerja sama energi, infrastruktur, transportasi, pendidikan, dan ekonomi kreatif.
Di level global, kedua pemimpin negara memberikan perhatian khusus pada stabilitas keamanan di Timur Tengah. Indonesia dan Prancis sepakat mengenai pentingnya mendorong deeskalasi dan negosiasi damai sebagai solusi penyelesaian konflik di kawasan tersebut.
"Kedua leaders membahas perkembangan situasi geopolitik dan sepakat mengenai pentingnya kerja sama untuk terus mendorong deeskalasi dalam penyelesaian konflik di Timur Tengah," pungkas Yvonne.
Editor: Redaksi TVRINews





