Perkembangan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) mendorong perusahaan di berbagai sektor untuk berinvestasi besar dalam transformasi digital. Di balik geliat tersebut, tantangan utama terletak pada visibilitas sistem, bukan lagi pada teknologi.
Hal ini disampaikan Country Director WhaTap Indonesia & Malaysia, Andy Phan, dalam sesi “AI in Action” di ajang IDE Katadata Future Forum 2026, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Menurut Andy, banyak organisasi sebenarnya tidak memiliki masalah sistem akan tetapi lebih ke arah masalah visibilitas atau kejelasan (visibility problem). Tanpa visibilitas yang memadai terhadap aplikasi, infrastruktur, hingga pengalaman pengguna, AI berisiko menghasilkan wawasan yang tidak akurat.
Oleh sebab itu, konsep pengamatan (observability) menjadi fondasi penting agar AI dapat bekerja secara lebih terukur, transparan, dan dapat diandalkan. WhaTap mengembangkan platform observability yang mengintegrasikan berbagai lapisan sistem menjadi satu tampilan terpadu.
Data dari sistem tersebut kemudian menjadi bahan bakar bagi AI untuk menghasilkan analisis yang lebih kontekstual dan relevan.
“Outcome-nya bukan sekadar monitoring, tetapi bagaimana kita bereaksi lebih cepat, mengambil keputusan lebih tepat, dan mengurangi waktu penyelesaian masalah,” ujar Andy.
3 Tantangan UtamaBesarnya potensi AI juga tercermin dari proyeksi global. Analisis PwC memperkirakan AI dapat berkontribusi hingga US$15,7 triliun terhadap ekonomi dunia pada 2030. Nilai tersebut berasal dari peningkatan produktivitas dan efisiensi sebesar US$6,6 triliun serta efek pengganda konsumsi hingga US$9,1 triliun.
Namun demikian, ada sejumlah tantangan adopsi AI itu. Di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, terdapat tiga tantangan utama dalam adopsi AI. Pertama, minimnya visibilitas sistem. Kedua, lingkungan teknologi yang terfragmentasi, mulai dari system legacy hingga multi-cloud. Ketiga, kesenjangan eksekusi antara strategi AI dan implementasi nyata di operasional bisnis.
Dalam konteks Indonesia, Andy menilai, pasar bukan semata sensitif terhadap harga namun lebih pada nilai (value-sensitive). Sebuah perusahaan akan mempertimbangkan manfaat signifikan dari AI, seperti peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional.
Pendekatan modular, mulai dari contoh kasus sederhana hingga berkembang, papar Andy, menjadi strategi untuk memperluas adopsi, termasuk di segmen usaha kecil dan menengah (UMKM).
Kendati demikian, isu kepercayaan (trust) menjadi tantangan besar dalam pemanfaatan AI. Risiko seperti bias, halusinasi data, hingga over-automation tanpa kontrol perlu diantisipasi.
Untuk mengatasinya, WhaTap menekankan tiga prinsip utama. Yakni, penggunaan data internal berkualitas tinggi, analisis berbasis korelasi lintas sistem, serta pendekatan human-in-the-loop.
Pendekatan ini menegaskan bahwa AI tidak menggantikan manusia, akan tetapi sebagai tools dalam memperkuat pengambilan keputusan. AI berperan dalam menganalisis pola, memberikan rekomendasi, dan mengidentifikasi akar masalah secara cepat. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
“Ini bukan soal menghilangkan human judgment, tetapi meng-augmentasi dengan data yang lebih akurat,” kata Andy.
AI Awasi AIKe depan, peran AI diperkirakan semakin besar dalam meningkatkan produktivitas, terutama melalui otomatisasi pekerjaan repetitif dan analisis data berskala besar. Namun, nilai terbesar AI justru terletak pada kemampuannya memberikan pemahaman (insight) bagi manusia dalam mengambil keputusan strategis.
Andy juga memprediksi munculnya tren baru, yakni AI yang mengawasi AI lain, khususnya dalam konteks agentic AI. Sistem ini akan memastikan kepatuhan terhadap kebijakan, transparansi, serta tata kelola yang baik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang besar untuk mempercepat transformasi digital. Yang perlu diingat, kunci keberhasilan tetap terletak pada keseimbangan antara teknologi dan peran manusia. AI hanyalah alat sementara arah dan keputusan tetap ditentukan oleh manusia.
Digelar sejak 2019, IDE Katadata Future Forum 2026 menghadirkan para pembicara berbobot. Mulai dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Prof. Stella Christie, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, General Manager and Technology Leader IBM ASEAN Catherine Lian, hingga Vice President of Civility and Partnership at Roblox Tami Bhaumik.
Event ini sendiri disponsori oleh KONEKSI, BYTEPLUS, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), WhaTap Labs, PT PLN (Persero), dan PT Pupuk Indonesia (Persero).




