Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengaku optimistis ekosistem tekstil nasional tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan global imbas situasi geopolitik saat ini.
“Ekosistemnya di Indonesia itu bagus, dari bahan baku sampai hilirnya ada, ya, berarti kita bisa bersaing. Kita tidak terlalu khawatir dengan produk asing,” kata Mendag di Jakarta, Kamis.
Hal ini ia sampaikan merespons kekhawatiran adanya kendala produksi tekstil di dalam negeri dan potensi banjir produk tekstil impor menyusul dampak dari perang Iran dan Amerika Serikat-Israel belakangan ini.
Mendag pun mengakui bahwa harga komoditas energi yang kini lebih fluktuatif sangat berdampak pada keberlangsungan produksi di berbagai sektor industri termasuk tekstil dalam negeri.
Namun, ia meyakini bahwa para pelaku industri tekstil nasional tangguh karena didukung ekosistem yang lengkap, mulai dari bahan baku, pabrik, distribusi, desainer, hingga usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di dalam sektor ini.
Baca juga: API gunakan kesepakatan ART jadi momentum kebangkitan industri tekstil
“Ya, tapi kan kebanyakan kalau dari tekstil ini kan tadi disampaikan (bahwa) ekosistem di Indonesia sudah berjalan dengan bagus,” kata Budi.
“Sekarang ini kan (harga) minyak naik, ya. Jadi ya saya pikir wajar (berdampak ke industri tekstil), tapi ini kan memang krisis global. Semua (terpengaruh), tidak hanya Indonesia. Semua terdampak perang Timur Tengah ini. Ya, tapi ketika semua berdampak ya kita siap bersaing,” imbuhnya.
Selain itu, lanjut Budi, permintaan pasar domestik ia nilai juga masih tinggi untuk sektor tekstil.
“Jadi tidak perlu khawatir ya, industrinya jalan terus, pasar di dalam negeri itu sudah besar banget,” ujarnya.
Baca juga: Menperin yakin industri tekstil RI masuk fase "sunrise"
Tak hanya permintaan yang besar di dalam negeri, tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia juga menarik bagi pasar internasional.
Sektor ini sepanjang tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 3,55 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan menghasilkan nilai ekspor mencapai 12,08 miliar dolar AS dan surplus 3,45 miliar dolar AS.
“Jadi selain potensi dalam negeri, ekspor cukup bagus. Kualitasnya cukup bagus. Kalau kualitas bagus, punya daya saing, kita bisa mengendalikan impor,“ ujar Budi.
“Ekosistemnya di Indonesia itu bagus, dari bahan baku sampai hilirnya ada, ya, berarti kita bisa bersaing. Kita tidak terlalu khawatir dengan produk asing,” kata Mendag di Jakarta, Kamis.
Hal ini ia sampaikan merespons kekhawatiran adanya kendala produksi tekstil di dalam negeri dan potensi banjir produk tekstil impor menyusul dampak dari perang Iran dan Amerika Serikat-Israel belakangan ini.
Mendag pun mengakui bahwa harga komoditas energi yang kini lebih fluktuatif sangat berdampak pada keberlangsungan produksi di berbagai sektor industri termasuk tekstil dalam negeri.
Namun, ia meyakini bahwa para pelaku industri tekstil nasional tangguh karena didukung ekosistem yang lengkap, mulai dari bahan baku, pabrik, distribusi, desainer, hingga usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di dalam sektor ini.
Baca juga: API gunakan kesepakatan ART jadi momentum kebangkitan industri tekstil
“Ya, tapi kan kebanyakan kalau dari tekstil ini kan tadi disampaikan (bahwa) ekosistem di Indonesia sudah berjalan dengan bagus,” kata Budi.
“Sekarang ini kan (harga) minyak naik, ya. Jadi ya saya pikir wajar (berdampak ke industri tekstil), tapi ini kan memang krisis global. Semua (terpengaruh), tidak hanya Indonesia. Semua terdampak perang Timur Tengah ini. Ya, tapi ketika semua berdampak ya kita siap bersaing,” imbuhnya.
Selain itu, lanjut Budi, permintaan pasar domestik ia nilai juga masih tinggi untuk sektor tekstil.
“Jadi tidak perlu khawatir ya, industrinya jalan terus, pasar di dalam negeri itu sudah besar banget,” ujarnya.
Baca juga: Menperin yakin industri tekstil RI masuk fase "sunrise"
Tak hanya permintaan yang besar di dalam negeri, tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia juga menarik bagi pasar internasional.
Sektor ini sepanjang tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 3,55 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan menghasilkan nilai ekspor mencapai 12,08 miliar dolar AS dan surplus 3,45 miliar dolar AS.
“Jadi selain potensi dalam negeri, ekspor cukup bagus. Kualitasnya cukup bagus. Kalau kualitas bagus, punya daya saing, kita bisa mengendalikan impor,“ ujar Budi.





