Anak Usaha BUMA Internasional (DOID) Bangun Ekosistem Pemberdayaan Pekerja

idxchannel.com
7 jam lalu
Cover Berita

Anak perusahaan dan social impact arm dari PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) meresmikan Pusat Pelatihan (Training Center) terintegrasi di Depok, Jawa Barat

Anak Usaha BUMA Internasional (DOID) Bangun Ekosistem Pemberdayaan Pekerja (FOTO:Dok Ist)

IDXChannel - PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU), anak perusahaan dan social impact arm dari PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) meresmikan Pusat Pelatihan (Training Center) terintegrasi di Depok, Jawa Barat, dan Pusat Tes (Test Center) di Jakarta.

Inisiatif ini merupakan respons terhadap tantangan kesiapan tenaga kerja di Indonesia, dengan tujuan membekali peserta melalui pelatihan yang selaras dengan kebutuhan industri, sertifikasi kompetensi, serta akses ke peluang kerja internasional. 

Baca Juga:
Presiden Prabowo Perintahkan Eksekusi Cepat Tambang di Kawasan Hutan

Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim menuturkan, peresmian BIRU Training Center dan Test Center mencerminkan komitmen jangka panjang Grup dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan, dengan pengembangan sumber daya manusia sebagai inti utamanya. 

"Peresmian ini menandai tonggak penting dalam perjalanan BIRU untuk memperkuat kesiapan kerja, sekaligus memperluas akses terhadap lapangan kerja melalui pendidikan vokasi dan pengembangan keterampilan," katanya Kamis (16/4/2026).

Baca Juga:
Rusia Siap Suplai Alutsista ke Indonesia, Dubes: Tinggal Tunggu Permintaan

Indonesia masih menghadapi tantangan signifikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi generasi muda. Data BPS menunjukkan bahwa 19,44 persen penduduk Indonesia usia 15–24 tahun tidak sedang bersekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan (Not in Education, Employment, or Training/NEET) pada 2025.

Sementara itu, tingkat pengangguran pada lulusan SMK mencapai 8,63 persen pada tahun yang sama, tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.

Menanggapi hal tersebut, BIRU menghadirkan ekosistem pelatihan dan sertifikasi terintegrasi yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara pelatihan dan kebutuhan industri, memperkuat kesiapan kerja, serta membuka akses yang lebih luas terhadap peluang kerja, termasuk di pasar internasional seperti Jepang.

BIRU Training Center dan Test Center merupakan bagian dari upaya BIRU untuk memperluas akses terhadap pendidikan vokasi yang berkualitas serta memperkuat jalur menuju pekerjaan yang layak. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan Nomor 4 (Pendidikan Berkualitas) dan Nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). 

"Ekosistem terintegrasi ini menggabungkan pelatihan, persiapan kompetensi, dan sertifikasi dalam satu platform yang dirancang untuk mencerminkan kondisi industri serta kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang," tuturnya.

Melalui pendekatan ini, BIRU berupaya mempersiapkan talenta Indonesia agar siap memanfaatkan peluang di sektor-sektor dengan permintaan yang berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Melalui BIRU, pihaknya berupaya turut menjawab tantangan yang dihadapi generasi muda yang tidak sedang bersekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan, dengan memperkuat keterkaitan antara pelatihan dan dunia kerja, sekaligus membuka akses yang lebih luas terhadap peluang kerja bagi talenta Indonesia.

Salah satu contoh dari pendekatan ini adalah program Japan Building Cleaning BIRU, yang mendukung penempatan tenaga kerja melalui skema Pekerja Berketerampilan Spesifik/Specified Skilled Worker (SSW/Tokutei Ginou) di Jepang. Skema ini dirancang untuk membantu menjawab kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor yang terus mengalami kekurangan tenaga kerja, termasuk bidang pengelolaan kebersihan gedung.

Keunggulan program ini terletak pada penggunaan peralatan pembersih dan perlengkapan pendukung yang diimpor khusus dari Jepang, sehingga peserta dapat berlatih dengan standar dan kondisi kerja yang mendekati praktik sebenarnya. Program ini dibawakan oleh instruktur bersertifikat yang memiliki pengalaman industri yang relevan, dengan kurikulum yang disusun selaras dengan standar Jepang. 

Pendekatan ini memungkinkan peserta untuk mengembangkan keterampilan teknis, disiplin, serta etos kerja yang sesuai dengan ekspektasi pasar kerja di Jepang.

Kanya Stira Sjahrir, Chief Executive Officer BIRU, menambahkan, sejak didirikan, BIRU terus berkomitmen untuk membantu menjembatani kesenjangan antara pelatihan dan dunia kerja. 

"Kami fokus menyiapkan peserta melalui pelatihan yang mencerminkan kondisi kerja nyata, didukung oleh proses penguatan kompetensi dan sertifikasi dalam satu ekosistem yang terintegrasi," tutur dia.

Melalui kombinasi kurikulum yang relevan, praktik berbasis peralatan industri, serta pembelajaran yang berorientasi pada industri, pihaknya ingin membantu peserta membangun keterampilan, disiplin, dan kesiapan yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja dengan lebih percaya diri.

Sejak akhir 2025 hingga awal 2026, lebih dari 60 peserta telah menyelesaikan pelatihan di BIRU Training Center, dan beberapa lulusannya telah mulai bekerja di Jepang pada Maret 2026. 

Berangkat dari capaian awal tersebut, BIRU menargetkan melatih lebih dari 30 peserta setiap bulan guna mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di sektor pemeliharaan gedung di Jepang. Peluang ini didukung oleh permintaan yang tetap kuat terhadap tenaga kerja asing di Jepang, di mana Badan Layanan Imigrasi mencatat terdapat 287.882 individu dengan status Pekerja Berketerampilan Spesifik hingga akhir Januari 2025, termasuk di sektor pengelolaan kebersihan gedung.

Peluncuran ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat kesiapan tenaga kerja, melalui dukungan dari pemerintah dan mitra institusional yang memiliki visi bersama dalam memperluas akses terhadap pendidikan vokasi berkualitas serta peluang kerja.

Leontinus Alpha Edison, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat 

(Kemenko PM), menyampaikan apresiasinya atas kontribusi BIRU dalam mendukung agenda 

pemerintah.

Melalui program Perintis Berdaya, kami berupaya membangun ekosistem pemberdayaan yang lebih kuat bagi UMKM, koperasi, dan pekerja migran Indonesia, mulai dari penguatan kapasitas, akses, pembiayaan, hingga tata kelola pemberdayaan dan perlindungan. 

"Khusus melalui pilar Berdaya Global, kami ingin mempersiapkan talenta Indonesia agar lebih siap bersaing di pasar kerja internasional melalui penguatan pelatihan, orientasi pra-penempatan yang relevan secara keterampilan dan budaya, serta tata kelola pekerja migran yang lebih baik. Kami percaya upaya ini tidak dapat dijalankan sendiri," kata dia.

Karena itu, pihaknya mengapresiasi kolaborasi dengan BIRU dan berharap kerja sama ini dapat terus diperluas, sehingga semakin banyak pihak dapat saling terhubung dan membuka peluang yang lebih besar bagi calon pekerja migran Indonesia.

Senada dengan hal tersebut, Dwi Setiawan Susanto, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), mengatakan, kesempatan bekerja ke luar negeri, termasuk ke Jepang, pada dasarnya terbuka bagi talenta dari berbagai daerah di Indonesia, selama mereka memiliki standar kompetensi, kemampuan bahasa, dan pemahaman budaya yang memadai. 

Sejalan dengan itu, Pemerintah telah mencanangkan penempatan pekerja migran Indonesia secara bertahap hingga 500.000 orang. Ini adalah tantangan sekaligus peluang, terutama menuju 2029 ketika bonus demografi kita diharapkan diisi oleh penduduk muda yang produktif, bertalenta, dan memiliki kualifikasi global. 

"Kami berharap inisiatif yang dilakukan BIRU ini dapat menjadi inspirasi untuk terus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan jejaring secara global," tutur dia. 

Ke depan, kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas kapasitas pelatihan, sekaligus berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja global, termasuk di sektor pengelolaan gedung di Jepang yang diproyeksikan akan membutuhkan 

sekitar 37.000 pekerja pada tahun 2029.

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sikap ITB Usai Viral Video Lama Mahasiswa Nyanyi Lagu Muatan Pelecehan
• 17 jam laludetik.com
thumb
Kolaborasi Jangka Panjang, AIESEC Indonesia dan Bakrie Center Foundation (BCF) Perkuat Kepemimpinan Generasi Muda
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Balita 3,5 Tahun di Purbalingga Tewas Tersedak saat Makan Jelly, Nenek Korban Histeris
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Satgas Operasi Damai Cartenz Terlibat Kontak Tembak dengan KKB di Yahukimo
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Wapres AS Dicemooh saat Mengkritik Paus Leo Terkait Teologi
• 19 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.