Bukan Hanya Persebaya Surabaya, Demi Selamatkan PSM, Bernardo Tavares Harus Kalahkan Madura United

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA — Di tengah panasnya persaingan BRI Super League musim 2025/2026, satu laga di Stadion Gelora Bung Tomo mendadak memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar perebutan tiga poin. Pertemuan antara Persebaya Surabaya dan Madura United dalam Derbi Suramadu kini ikut menentukan nasib tim lain—yakni PSM Makassar.

Di atas kertas, ini adalah laga bagi Persebaya untuk bangkit setelah kekalahan telak 0-3 dari Persija Jakarta. Namun di balik itu, terselip kepentingan lain yang membuat pertandingan ini semakin sarat tekanan: kemenangan Persebaya menjadi “titipan harapan” bagi PSM yang tengah berjuang menjauh dari zona degradasi.

Situasi klasemen menjelaskan segalanya. PSM saat ini berada di posisi ke-13 dengan 28 poin, sementara Madura United di peringkat ke-16 dengan 23 poin—tepat di zona merah. Selisih lima poin memang terlihat aman, tetapi dalam kompetisi dengan sisa laga yang semakin sedikit, jarak itu bisa menyusut drastis dalam satu pertandingan saja.

Jika Madura United mampu mencuri kemenangan di Surabaya, mereka akan naik menjadi 26 poin—hanya terpaut dua angka dari PSM. Dalam skenario ini, tekanan akan langsung berpindah ke Juku Eja, terutama jika mereka gagal meraih hasil positif di laga berikutnya melawan Borneo FC.

Artinya, duel Persebaya vs Madura United bukan lagi sekadar urusan dua tim. Ini adalah simpul penting dalam peta persaingan papan bawah.

Dan di tengah semua itu, berdiri satu sosok kunci: Bernardo Tavares.

Bagi publik Makassar, nama ini bukan asing. Ia adalah arsitek kesuksesan PSM saat menjuarai Liga 1 musim 2022/2023. Kini, takdir menempatkannya di sisi yang berbeda—melatih Persebaya, tetapi secara tidak langsung memegang peran dalam menentukan nasib mantan timnya.

Ironisnya, tugas itu datang di saat kondisi Persebaya sendiri tidak ideal.

Tavares tengah menghadapi badai cedera yang menggerus kekuatan timnya. Sejumlah pemain kunci absen, sementara yang tersedia pun tidak semuanya dalam kondisi prima. Dalam beberapa laga terakhir, Persebaya bahkan harus memainkan pemain yang belum sepenuhnya fit—sebuah kompromi yang tentu berdampak pada performa tim.

Kekalahan dari Persija menjadi cerminan situasi tersebut. Meski menciptakan beberapa peluang—termasuk bola yang membentur tiang dan mistar—Persebaya gagal mengonversinya menjadi gol. Penyelesaian akhir yang tumpul dan kesalahan-kesalahan kecil menjadi faktor utama kegagalan mereka.

Tavares sendiri tidak menutup mata terhadap hal ini. Ia mengakui bahwa timnya belum berada di level terbaik, baik secara teknis maupun mental. Pergantian pemain yang terus terjadi akibat cedera juga membuat ritme permainan sulit terbentuk.

Lebih dari itu, aspek mental menjadi tantangan tersendiri.

Kekalahan besar, ditambah kondisi skuad yang tidak stabil, berpotensi menurunkan kepercayaan diri pemain. Dalam situasi seperti ini, peran pelatih tidak hanya sebagai penyusun taktik, tetapi juga sebagai motivator yang mampu mengangkat kembali mental tim.

Menghadapi Madura United, Persebaya dituntut untuk tampil lebih solid—bukan hanya demi kepentingan mereka sendiri, tetapi juga karena implikasi yang lebih luas.

Di sisi lain, Madura United datang dengan motivasi yang tidak kalah besar. Sebagai tim yang berada di zona degradasi, setiap pertandingan adalah final. Mereka akan bermain dengan determinasi tinggi, mencoba memanfaatkan setiap celah yang ada untuk mencuri poin.

Inilah yang membuat laga ini begitu kompleks.

Persebaya harus bangkit di tengah keterbatasan. Madura United berjuang untuk keluar dari tekanan. Sementara PSM Makassar “menonton” dengan penuh harap, menggantungkan nasib mereka pada hasil pertandingan yang tidak mereka jalani sendiri.

Dalam sepak bola, situasi seperti ini bukan hal baru. Namun tetap saja, ada ironi yang sulit diabaikan—nasib sebuah tim bisa ditentukan oleh performa tim lain, bahkan oleh mantan pelatihnya sendiri.

Bagi Tavares, ini adalah ujian profesionalisme. Ia tentu tidak bermain untuk PSM, tetapi kemenangan atas Madura United akan menjadi “hadiah tak langsung” bagi klub yang pernah ia bawa ke puncak.

Sementara bagi PSM, harapan itu sederhana: Persebaya harus menang.

Karena di tengah persaingan papan bawah yang semakin ketat, satu hasil pertandingan bisa menjadi pembeda antara bertahan atau terjerumus ke jurang degradasi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Miris! Anak-anak Bermain di Tengah Tumpukan Limbah di Semper Barat
• 19 jam laludetik.com
thumb
Kejagung: Riza Chalid Ditangkap di Dubai Tidak Benar
• 16 jam laludisway.id
thumb
Iran Peringatkan AS Jika Berlagak Jadi Polisi di Selat Hormuz, Kapal Perang Mereka bakal Dihancurkan
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Tingkatkan Perjalanan 29x Lipat, Kolaborasi Grab dan Hotel Raih Gold di Ajang MEA
• 15 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kewenangan Audit Negara Dinilai Tumpang Tindih, DPR Sebut Situasi Kusut Pasca Putusan MK
• 18 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.