Jakarta (ANTARA) - Pertemuan Khusus kedua Menteri Luar Negeri (Menlu) ASEAN pada 13 April membahas keselamatan dan kesejahteraan warga negara ASEAN di daerah yang terkena dampak konflik di Timur Tengah.
"Pertemuan tersebut juga menegaskan kembali komitmen bersama untuk memberikan bantuan darurat kepada warga negara ASEAN, khususnya selama masa sulit ini, sesuai dengan pedoman yang ada, menurut pernyataan Ketua ASEAN tentang hasil pertemuan tersebut di akun web resmi ASEAN Philippines 2026, Selasa.
Selain membahas perkembangan situasi di Timur Tengah hingga perlunya memastikan keamanan maritim dan kebebasan navigasi, seperti dalam pernyataan mereka sebelumnya, pertemuan tersebut juga membahas keselamatan dan kesejahteraan warga negara ASEAN di daerah yang terdampak.
Mereka mengakui bantuan dan upaya yang diberikan oleh negara-negara anggota ASEAN lainnya dalam hal ini, dan menggarisbawahi pentingnya menjajaki kerja sama yang saling menguntungkan dengan pihak eksternal.
Para menteri luar negeri (Menlu) menyampaikan belasungkawa kepada negara-negara anggota ASEAN lainnya atas kehilangan nyawa warga negara mereka di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Mereka menekankan pentingnya koordinasi berkelanjutan di antara negara-negara anggota ASEAN dalam upaya konsuler bersama untuk membantu warga negara ASEAN.
Pertemuan itu selanjutnya menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan di Lebanon dan meningkatnya ketegangan yang menelan korban jiwa tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia serta melukai beberapa pasukan penjaga perdamaian lainnya dari negara lain.
Pertemuan itu juga membahas dampak konflik di Timur Tengah terhadap aktivitas ekonomi global, khususnya pada pasar energi dan jalur transportasi maritim dan udara.
Mereka menggarisbawahi pentingnya menjaga rantai pasokan energi dan jalur perdagangan maritim yang stabil, aman, berkelanjutan, dan tangguh, serta mengurangi volatilitas pasar dan guncangan harga yang berlebihan, serta meminimalkan gangguan terhadap aliran energi dan barang-barang penting, termasuk pangan dan pupuk, guna menjaga stabilitas ekonomi di ASEAN.
Pertemuan tersebut mendorong Negara-negara Anggota ASEAN untuk bekerja sama secara erat, termasuk menjajaki respons regional terkoordinasi jika diperlukan, untuk mengurangi dampak konflik dengan meminimalkan gangguan terhadap perdagangan intra-ASEAN.
Pertemuan juga menyoroti pentingnya ratifikasi Protokol Kedua untuk Meningkatkan Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN (ATIGA), yang berisi ketentuan tentang Perdagangan dalam Situasi Krisis Kemanusiaan.
Lebih lanjut, para Menlu menggarisbawahi pentingnya memperkuat keamanan energi regional dan ketahanan ekonomi serta menekankan nilai solidaritas ASEAN.
Mereka juga menekankan pentingnya memastikan ketahanan keuangan dalam menanggapi guncangan eksternal dan mendorong koordinasi yang lebih erat dengan lembaga keuangan internasional guna mendukung Negara Anggota ASEAN dalam mengatasi ancaman yang muncul terhadap stabilitas sistem keuangan.
Pertemuan tersebut menyerukan pemanfaatan penuh mekanisme dan kerangka kerja ASEAN yang ada untuk meningkatkan koordinasi, konsultasi, dan menekankan bahwa ASEAN memiliki mekanisme dan inisiatif praktis yang dapat dimobilisasi dan diperkuat lebih lanjut untuk meningkatkan ketahanan energi regional.
Mereka juga menggarisbawahi perlunya meningkatkan ketahanan ekonomi ASEAN secara keseluruhan dengan memperdalam integrasi ekonomi, dan berinvestasi dalam infrastruktur yang tangguh guna mempercepat transisi dan diversifikasi energi, termasuk energi terbarukan.
Selain itu, para Menlu juga berkomitmen meningkatkan sinergi dan koordinasi di antara badan-badan sektoral ASEAN yang relevan, termasuk badan-badan yang bertanggung jawab atas kerja sama ekonomi, keuangan, transportasi, pangan dan pertanian, serta energi, guna memperkuat kesiapan dan ketahanan regional.
Selanjutnya, pertemuan juga menegaskan kembali pentingnya kerja sama lintas pilar di antara Komunitas Politik-Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN, dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN untuk secara efektif mengatasi tantangan geopolitik dan geoekonomi yang terus berkembang.
Mereka juga menugaskan para pejabat senior, berkoordinasi dengan badan terkait di ketiga pilar Komunitas ASEAN untuk mempersiapkan pertimbangan Dewan Koordinasi ASEAN (ACC).
Kemudian, mereka juga akan melakukan tindakan terkoordinasi untuk memastikan ketahanan regional dalam menanggapi implikasi situasi di Timur Tengah, untuk dipertimbangkan oleh para Pemimpin ASEAN pada KTT ASEAN ke-48 pada Mei 2026.
Terakhir, mereka juga menggarisbawahi pentingnya menjaga perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran regional, menjunjung tinggi hukum internasional, serta mempromosikan dialog dan diplomasi sebagai cara utama untuk mengurangi ketegangan dan mengatasi konflik.
Baca juga: Menlu RI dorong ASEAN perkuat ketahanan hadapi dampak perang
"Pertemuan tersebut juga menegaskan kembali komitmen bersama untuk memberikan bantuan darurat kepada warga negara ASEAN, khususnya selama masa sulit ini, sesuai dengan pedoman yang ada, menurut pernyataan Ketua ASEAN tentang hasil pertemuan tersebut di akun web resmi ASEAN Philippines 2026, Selasa.
Selain membahas perkembangan situasi di Timur Tengah hingga perlunya memastikan keamanan maritim dan kebebasan navigasi, seperti dalam pernyataan mereka sebelumnya, pertemuan tersebut juga membahas keselamatan dan kesejahteraan warga negara ASEAN di daerah yang terdampak.
Mereka mengakui bantuan dan upaya yang diberikan oleh negara-negara anggota ASEAN lainnya dalam hal ini, dan menggarisbawahi pentingnya menjajaki kerja sama yang saling menguntungkan dengan pihak eksternal.
Para menteri luar negeri (Menlu) menyampaikan belasungkawa kepada negara-negara anggota ASEAN lainnya atas kehilangan nyawa warga negara mereka di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Mereka menekankan pentingnya koordinasi berkelanjutan di antara negara-negara anggota ASEAN dalam upaya konsuler bersama untuk membantu warga negara ASEAN.
Pertemuan itu selanjutnya menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan di Lebanon dan meningkatnya ketegangan yang menelan korban jiwa tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia serta melukai beberapa pasukan penjaga perdamaian lainnya dari negara lain.
Pertemuan itu juga membahas dampak konflik di Timur Tengah terhadap aktivitas ekonomi global, khususnya pada pasar energi dan jalur transportasi maritim dan udara.
Mereka menggarisbawahi pentingnya menjaga rantai pasokan energi dan jalur perdagangan maritim yang stabil, aman, berkelanjutan, dan tangguh, serta mengurangi volatilitas pasar dan guncangan harga yang berlebihan, serta meminimalkan gangguan terhadap aliran energi dan barang-barang penting, termasuk pangan dan pupuk, guna menjaga stabilitas ekonomi di ASEAN.
Pertemuan tersebut mendorong Negara-negara Anggota ASEAN untuk bekerja sama secara erat, termasuk menjajaki respons regional terkoordinasi jika diperlukan, untuk mengurangi dampak konflik dengan meminimalkan gangguan terhadap perdagangan intra-ASEAN.
Pertemuan juga menyoroti pentingnya ratifikasi Protokol Kedua untuk Meningkatkan Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN (ATIGA), yang berisi ketentuan tentang Perdagangan dalam Situasi Krisis Kemanusiaan.
Lebih lanjut, para Menlu menggarisbawahi pentingnya memperkuat keamanan energi regional dan ketahanan ekonomi serta menekankan nilai solidaritas ASEAN.
Mereka juga menekankan pentingnya memastikan ketahanan keuangan dalam menanggapi guncangan eksternal dan mendorong koordinasi yang lebih erat dengan lembaga keuangan internasional guna mendukung Negara Anggota ASEAN dalam mengatasi ancaman yang muncul terhadap stabilitas sistem keuangan.
Pertemuan tersebut menyerukan pemanfaatan penuh mekanisme dan kerangka kerja ASEAN yang ada untuk meningkatkan koordinasi, konsultasi, dan menekankan bahwa ASEAN memiliki mekanisme dan inisiatif praktis yang dapat dimobilisasi dan diperkuat lebih lanjut untuk meningkatkan ketahanan energi regional.
Mereka juga menggarisbawahi perlunya meningkatkan ketahanan ekonomi ASEAN secara keseluruhan dengan memperdalam integrasi ekonomi, dan berinvestasi dalam infrastruktur yang tangguh guna mempercepat transisi dan diversifikasi energi, termasuk energi terbarukan.
Selain itu, para Menlu juga berkomitmen meningkatkan sinergi dan koordinasi di antara badan-badan sektoral ASEAN yang relevan, termasuk badan-badan yang bertanggung jawab atas kerja sama ekonomi, keuangan, transportasi, pangan dan pertanian, serta energi, guna memperkuat kesiapan dan ketahanan regional.
Selanjutnya, pertemuan juga menegaskan kembali pentingnya kerja sama lintas pilar di antara Komunitas Politik-Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN, dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN untuk secara efektif mengatasi tantangan geopolitik dan geoekonomi yang terus berkembang.
Mereka juga menugaskan para pejabat senior, berkoordinasi dengan badan terkait di ketiga pilar Komunitas ASEAN untuk mempersiapkan pertimbangan Dewan Koordinasi ASEAN (ACC).
Kemudian, mereka juga akan melakukan tindakan terkoordinasi untuk memastikan ketahanan regional dalam menanggapi implikasi situasi di Timur Tengah, untuk dipertimbangkan oleh para Pemimpin ASEAN pada KTT ASEAN ke-48 pada Mei 2026.
Terakhir, mereka juga menggarisbawahi pentingnya menjaga perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran regional, menjunjung tinggi hukum internasional, serta mempromosikan dialog dan diplomasi sebagai cara utama untuk mengurangi ketegangan dan mengatasi konflik.
Baca juga: Menlu RI dorong ASEAN perkuat ketahanan hadapi dampak perang





