Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam bahwa seluruh peradaban Iran akan mati jika Republik Islam itu tidak membuka Selat Hormuz. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengatakan Trump tidak berhak mengancam negara lain.
"Trump tidak berhak bangun pagi dan mengancam suatu negara," kata Lula kepada harian Spanyol El Pais, seperti dilansir AFP, Kamis (16/4/2026). Dia mengingatkan bahwa Konstitusi AS membagi wewenang atas perang dan kebijakan luar negeri antara Kongres dan presiden.
"Sangat penting bahwa para pemimpin yang berkuasa mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga perdamaian," tambah presiden sayap kiri berusia 80 tahun itu.
Lula dan Trump berada di pihak yang berseberangan dalam isu-isu termasuk multilateralisme, perdagangan internasional, dan perjuangan melawan perubahan iklim.
Hubungan Brasília-Washington masih tegang, meskipun pertemuan antara para pemimpin dua negara tahun lalu membantu meredakan ketegangan dan menyebabkan pengurangan tarif perdagangan.
Lula kembali menyerukan reformasi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk penghapusan hak veto yang dipegang oleh lima anggota tetap dan dimasukkannya lebih banyak negara dari Afrika dan Amerika Latin.
"Sudah saatnya mendefinisikan kembali Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memberikan kredibilitas, jika tidak, Trump benar," kata Lula, merujuk pada kritik presiden AS bahwa sistem internasional pasca Perang Dunia II tidak lagi efektif.
Lula berbicara kepada surat kabar tersebut menjelang kunjungannya ke Spanyol. Dalam lawatan itu, dia akan bertemu dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dan menghadiri forum para pemimpin progresif.
Peserta lain dalam pertemuan di Barcelona pada hari Sabtu (18/4) mendatang termasuk Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa.
Ancaman Trump ke IranPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya mengeluarkan ancaman terbaru terhadap Iran. Ancaman ini diutarakan Trump menjelang tenggat waktu pembukaan Selat Hormuz, yang ditutup akibat perang yang dimulai oleh Trump dan Israel.
"Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali," kata Trump dalam unggahan platform Truth Social miliknya seperti dilansir Aljazeera, Selasa (7/4).
Dalam unggahan selanjutnya, dia mengaku tak menginginkan hal tersebut terjadi. Dia mengklaim ingin ada perubahan rezim di Iran.
Simak juga Video 'Qatar Desak Pembukaan Selat Hormuz Tanpa Syarat di Tengah Blokade AS':
(lir/lir)





