Amerika Serikat diperkirakan akan segera menyetujui penjualan senjata ke Taiwan. Hal ini menyusul adanya kepastian yang diberikan oleh elompok senator bipartisan dalam surat kepada parlemen dari Taipei.
Anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat Amerika Serikat, Jeanne Shaheen dalam suratnya menyebut bahwa hal tersebut akan disetujui dan menyatakan bahwa penjualan senjata yang tertunda kemungkinan akan diumumkan dalam waktu dekat.
Baca Juga: Amerika Serikat Tolak Usulan Rusia, Perang Iran Masih Akan Membara
"Kongres Amerika Serikat sepenuhnya berkomitmen untuk pengiriman kemampuan penting ke Taiwan tepat waktu dan kami berharap penjualan yang tertunda akan diumumkan dalam beberapa minggu mendatang," kata Shaheen, dikutip dari Reuters.
Dalam surat itu, ia juga menyebut paket senjata akan mencakup sistem anti-drone, sistem komando tempur terintegrasi hingga amunisi jarak menengah. Peralatan ini ditujukan untuk memperkuat sistem pertahanan udara dari Taiwan.
Selain memastikan dukungan militer, para senator juga mendesak wilayah tersebut untuk mempercepat pembahasan anggaran pertahanan yang tertunda di parlemen. Mereka menilai langkah ini penting untuk mendukung pengadaan senjata dari Amerika Serikat.
Sebelumnya, Presiden Taiwan, Lai Ching-te mengusulkan tambahan anggaran pertahanan sebesar US$40 miliar. Namun, proposal tersebut masih tertahan karena perbedaan pandangan politik dengan oposisi yang dipimpin oleh Partai Kuomintang.
Adapun China terus memberikan tekanan ke Taiwan. Beijing diketahui menolak berkomunikasi dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te. Ia disebut sebagai “separatis”. Sementara Taiwan menegaskan bahwa masa depan pulau tersebut harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri.
China sendiri mengkritik intervensi dari Amerika Serikat di Taiwan. Juru Bicara Kantor Urusan Taiwan China, Chen Binhua menyebut bahwa intervensi dari negara tersebut mencerminkan niat jahat dari Amerika Serikat. Urusan Taipei sendiri menurutnya adalah urusan internal dari Beijing.
“Ini adalah distorsi fakta sepenuhnya dan mengandung niat yang tidak baik,” ujarnya.
China kembali menegaskan bahwa wilayah tersebut merupakan bagian dari wilayahnya dan tidak boleh ada campur tangan pihak luar. Beijing memperingatkan agar rivalnya tersebut lebih berhati-hati dalam menangani isu dari Taiwan.
Adapun China baru-baru ini juga menawarkan sejumlah keuntungan reunifikasi kepada Taiwan. Hal itu termasuk pelonggaran wisata, akses tayangan televisi, pembukaan kembali penerbangan lintas wilayah, kemudahan perdagangan pangan hingga izin penayangan drama dan konten dari Taipei.
Ia juga membuka peluang pembentukan mekanisme komunikasi rutin dari Partai Komunis China dan Partai Kuomintang. Namun, hal ini akan tergantung pada langkah yang diambil oleh pemerintah dari Taiwan.
Baca Juga: Piala Dunia Terancam, Isu Keamanan Jadi Perhatian di Amerika Serikat
Beijing menegaskan bahwa sejumlah kebijakan bergantung pada posisi politik wilayah itu, khususnya terkait penolakan terhadap kemerdekaan. Konten Taiwan juga harus memenuhi syarat seperti orientasi yang benar dan konten yang sehat.





