Jakarta, VIVA - Pertumbuhan transaksi digital di Indonesia tetap menunjukkan tren positif, bahkan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.
Ketika berbagai negara menghadapi tekanan ekonomi, aktivitas transaksi domestik Indonesia justru tetap tumbuh, mencerminkan tingkat resiliensi yang tinggi dalam ekosistem ekonomi digital. Salah satu indikatornya terlihat pada periode Lebaran 2026, di mana terjadi aktivitas transaksi yang tetap meningkat.
Dalam hal ini, sebagai salah satu backbone industri pembayaran di Indonesia, PT Alto Network mencatat kenaikan pertumbuhan volume transaksi sebesar 50 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Tren tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan ekonomi yang dinamis. Pada beberapa tahun terakhir, skala transaksi digital berkembang pesat, dengan volume transaksi mencapai ratusan juta hingga miliaran Rupiah per tahun.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan transaksi digital banking tumbuh lebih dari 20–30 persen (YoY), sementara QRIS bahkan melampaui 100 persen pada fase awal adopsi, hal ini menegaskan kontribusinya terhadap ekosistem pembayaran nasional.
Tingginya adopsi pembayaran digital di Indonesia juga tercermin dari pertumbuhan signifikan transaksi QRIS yang diproses oleh Alto Network, dengan volume transaksi meningkat sebesar 89,56 persen dan nilai transaksi tumbuh 94,18 persen YoY (Maret 2025 dibandingkan Maret 2026).
Kepala Eksekutif Alto Network, Gretel Griselda, mengatakan bahwa meskipun kondisi global menghadirkan berbagai tantangan, ekosistem pembayaran di Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat.
“Di tengah kondisi ekonomi global saat ini yang cenderung memiliki volatilitas tinggi, kami melihat trend pembayaran di Indonesia masih stabil bahkan cenderung menguat. Saat ini, kami memproses hingga 30 juta transaksi per hari,” ungkapnya di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.





