Kisah Elang dan Aulia Menyusun Mimpi dari Sekolah Rakyat Probolinggo

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Deru kipas angin berputar pelan di sudut kelas, menemani suasana siang di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Probolinggo, Jawa Timur. Di depan layar laptop masing-masing, belasan siswa tampak fokus mengikuti jalannya pembelajaran.

Jemari mereka bergerak lincah mengarahkan kursor, sesekali menekan keyboard dengan cepat. Di layar, barisan kode dan tampilan sederhana gim perlahan terbentuk. Siang itu pelajaran coding tengah berlangsung.

Di depan kelas, guru memberi arahan dengan nada tenang. Suasana terasa hening namun tetap hangat. Mata para siswa tertuju pada layar masing-masing, sesekali terpancar raut puas saat program yang mereka susun perlahan mulai berjalan.

Usai pembelajaran, seorang siswa tampak tersenyum ramah saat ditemui. Ia memperkenalkan dirinya dengan tenang.

“Perkenalkan nama saya Elang Khoirul Ramadan. Saya berumur 13 tahun dan saya sekarang menduduki bangku kelas 7 SMP, bersekolah di Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo,” kata Elang saat ditemui usai jam pelajaran, Kamis (16/4).

Elang bukan datang dari latar belakang yang mudah. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Di rumah sederhana, Elang tumbuh bersama neneknya.

Setelah kehilangan ibunya saat duduk di bangku kelas 1 SD, sang ayah tidak tinggal bersama mereka dan kini berada di Solo.

Sejak itu, neneknya menjadi sosok yang merawat sekaligus menghidupi cucu-cucunya.

“Pekerjaan orang tua (nenek) saya sebagai penjual gorengan dan kopi,” katanya.

Rumah Elang tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar satu kilometer. Sebelum tinggal di asrama, ia terbiasa membantu neneknya di rumah, baik untuk pekerjaan kecil sehari-hari maupun sesekali ikut membantu berjualan gorengan dan kopi yang menjadi sumber penghidupan keluarga.

“Sebenarnya aku dulu nggak tahu apa-apa, tapi waktu itu sempat pendamping PKH saya datang ke rumah nawarin itu bersekolah di Sekolah Rakyat. Habis itu nenek bilang kalau ditawarin untuk sekolah di Sekolah Rakyat," ujarnya.

"Terus keesokan harinya pendamping PKH-nya datang lagi mengonfirmasi saya mau atau nggak sekolah di Sekolah Rakyat. Saya sebenarnya awalnya nggak mau, tapi semenjak masuk di sini mau,” lanjutnya.

Kini, kehidupan Elang berubah jauh. Hari-harinya diisi dengan rutinitas yang lebih terstruktur dan disiplin.

“Kalau biasanya dulu di SD pulang sekolah langsung istirahat di rumah, mungkin kebanyakan main HP, bermain sama teman, tapi kalau di sini lebih disiplin. Soalnya kegiatannya ada pulang sekolah itu salat Asar, mengaji, habis itu bersih diri sore atau mandi sore, lanjut salat Magrib, habis itu kajian. Habis kajian sampai salat Isya, salat Isya berjemaah, habis itu makan. Habis makan, maaf-maaf, belajar malam. Setelah belajar, kita melaksanakan apel malam," terangnya.

Di tengah rutinitas itu, Elang justru menemukan ruang untuk berkembang. Ia berhasil menorehkan prestasi di bidang akademik.

“Untuk sementara ini prestasi saya di Olimpiade IPA juara 1 se-kota dan kabupaten,” ujarnya.

Prestasi itu bukan datang tiba-tiba. Bahkan sejak SD, ia sudah menunjukkan minat di bidang sains.

“Oh, Olimpiade. Saya terakhir itu masuk 10 besar di perlombaan SD sekota sama kabupaten. Gugur di 10 besar itu. Tapi alhamdulillah sekarang bisa mendapatkan juara,” kata Elang.

Ia bercerita bagaimana perjuangannya mengikuti lomba tersebut.

“Habis itu dikasih waktu seminggu, ternyata ada lanjutannya langsung ke final. Waktu final itu pengerjaannya saya cukup pusing karena soalnya cukup susah. Dan setelah lomba sempat nangis karena poinnya saya kirain sangat rendah, tapi ternyata alhamdulillah bisa mendapatkan juara,” tuturnya.

"360," ungkapnya dengan bangga saat menyebut jumlah poin yang didapat dalam lomba tersebut.

Di tengah cerita itu, sosok yang selama ini menjadi sandaran hidupnya datang menghampiri, Neneknya, Sri Aminah Ningsih (64). Wajahnya tampak haru saat melihat cucunya.

Air matanya tak terbendung saat menceritakan kebanggaannya.

“Terharu karena dia juara satu IPA itu, Nak. Saya nggak ngira kalau cucu saya sehebat ini, Nak," katanya sambil berlinang air mata.

Sehari-hari, sang nenek berjuang sendiri menghidupi keluarga dari hasil berjualan gorengan dan minuman seperti kopi atau teh. Penghasilannya tak menentu.

“Nggak tentu, Nak. Kadang ramai, kadang tidak. Perkiraan Rp 100.000 ke atas ya, Rp 100.000-an untuk per harinya itu," ungkapnya.

Namun di tengah keterbatasan itu, ia tetap memegang satu prinsip sederhana, “Biarpun makan sama garam, makan sama garam, yang penting kamu kumpul sama Mbah, Nak”.

Kini, harapannya sederhana, melihat cucunya berhasil, “Semoga Elang sukses, adik-adiknya sukses, kakaknya juga sukses. Itu aja".

Elang pun menyimpan mimpi besar. Ia ingin menjadi tentara.

"Karena ingin mengangkat derajat orang tua serta ingin membela negara," imbuhnya.

Tak jauh dari Elang, kisah serupa juga datang dari sosok Riski Aulia. Siswa kelas tujuh itu bercerita dengan nada ringan, namun penuh yakin. Ia berasal dari keluarga sederhana.

“Keluarga aku itu, kalau ibu kerja laundry. Kalau ayah itu serabutan.”

Awalnya, Aulia bahkan sudah diterima di sekolah lain sebelum akhirnya memilih Sekolah Rakyat.

“Jadi awalnya tuh aku enggak tahu Sekolah Rakyat itu apa. Jadi aku sudah diterima di SMP lain, SMPN 7 Probolinggo. Terus pas hampir masuk SMP tiba-tiba tuh ada pendamping PKH yang namanya Bu Novi itu datang ke rumah buat nawarin aku sekolah di Sekolah Rakyat,” katanya.

Keputusan itu tidak mudah, bahkan sempat ditolak oleh ayahnya.

“Pertamanya ayah tuh enggak bolehin aku buat sekolah di Sekolah Rakyat, soalnya kan jauh dari orang tua,” ungkapnya.

Namun Aulia punya pertimbangannya sendiri.

“Terus aku juga mikir kalau misalkan aku enggak sekolah di Sekolah Rakyat, takutnya ekonomi di keluarganya aku tuh kan kayak kurang gitu. Jadinya aku buat keputusan buat sekolah di Sekolah Rakyat," jelasnya.

Di sekolah ini, ia menemukan pengalaman belajar yang berbeda.

“Yang aku rasakan sekarang tuh senang sih waktu belajar di Sekolah Rakyat. Soalnya kan fasilitas di sini juga lengkap. Terus gurunya, wali asuhnya, wali asrama itu juga baik-baik, ceria gitu, juga bisa ngajarin aku belajar,” kata Aulia.

“Aku enjoy aja, soalnya kan aturan di sana kan juga bisa jadiin kedisiplinan," ujarnya.

Di balik itu, Aulia menyimpan mimpi yang berbeda, menjadi seniman dan belajar hingga ke luar negeri.

“Aku tertarik sama Bahasa Jepang itu pengin kuliah di luar negeri. Aku belajar lewat aplikasi bahasa,” ucapnya.

Bahkan ia berkesempatan untuk membacakan pidato berbahasa Jepang di depan Presiden Prabowo beberapa waktu sebelumnya.

Baginya, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tapi juga ruang membuka peluang.

“Perasaan aku sekolah di sini tuh seneng banget. Soalnya dapet fasilitas yang lengkap tanpa ngeluarin biaya sepeser pun. Makan tiga kali sehari, dapet teman banyak, sekolah berasrama,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Skenario Terburuk IMF soal Dampak Perang Iran: Ekonomi Dunia di Ambang Resesi
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
Dubes Rusia Sindir Standar Ganda Donald Trump, Tak Serang Korut Padahal Miliki Senjata Nuklir
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Tak Dampingi di Pelaminan, Tamara Bleszynski Dapat Dukungan Penuh dari Krisdayanti
• 14 jam lalueranasional.com
thumb
BRI Super League: Teppei Yachida Makin Klop di Bali United, Johnny Jansen Sudah Belajar dari Kesalahan Jelang Hadapi Malut United
• 22 jam lalubola.com
thumb
AALI Siapkan Capex Rp1,4 Triliun di 2026, Termasuk untuk Replanting 8.000 Hektare
• 22 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.