Gencatan Senjata Lebanon Picu Perdebatan Panas

tvrinews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews – Naharia

Warga dan politisi skeptis terhadap keputusan pemerintah yang dianggap mendadak dan mengabaikan keamanan jangka panjang.

Saat kabar mengenai gencatan senjata mulai tersebar ke seluruh komunitas di wilayah utara Israel, sirene peringatan serangan udara justru meraung tiga kali  Kamis, 16 April 2026 malam.

Suara tersebut memperingatkan datangnya roket dari arah Lebanon, sebuah pengingat tajam akan rapuhnya stabilitas di perbatasan.

Di langit kota Nahariya, sistem pertahanan udara Israel meluncurkan pencegat untuk melumpuhkan proyektil tersebut, memicu ledakan keras yang menggetarkan udara. 

Petugas ambulans melaporkan sedikitnya tiga orang terluka akibat serpihan peluru beberapa jam sebelum gencatan senjata resmi berlaku, termasuk dua orang dalam kondisi serius.

Di lapangan, sentimen ketidakpastian menyelimuti warga. Muncul skeptisisme mendalam mengenai alasan pemimpin Israel menyetujui gencatan senjata ini.

"Saya merasa pemerintah telah membohongi kami," ujar Gal, seorang mahasiswa di Nahariya. "Mereka berjanji kali ini akan berakhir berbeda, namun tampaknya kita sekali lagi menuju kesepakatan gencatan senjata yang tidak menyelesaikan apa pun." Kuitp BBC News.

Senada dengan Gal, Maor (32), seorang pengemudi truk yang rumahnya hancur terkena roket tahun lalu, menyatakan kekecewaannya terhadap pemerintah Lebanon. 

"Kami memberi kesempatan kepada pemerintah Lebanon dan mereka gagal menegakkan kesepakatan; mereka tidak melucuti senjata Hezbollah," tuturnya.

*Tekanan Diplomasi dan Kejutan Politik*

Pengumuman gencatan senjata ini mengejutkan publik Israel, bahkan dilaporkan memicu ketegangan di dalam kabinet keamanan pemerintahan sendiri. 

Sebuah outlet berita terkemuka Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadakan rapat kabinet keamanan dengan pemberitahuan hanya lima menit sebelum pengumuman resmi dibuat.

Bocoran dari pertemuan tersebut mengungkapkan bahwa para menteri bahkan tidak diberikan kesempatan untuk melakukan pemungutan suara terkait kesepakatan ini. 

Bagi banyak pihak, ini dipandang sebagai bentuk tunduknya Netanyahu terhadap tuntutan Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan pertempuran, meskipun persyaratan atau waktunya tidak selaras dengan keinginan Israel.

Mantan Kepala Staf IDF dan ketua partai Yashar, Gadi Eisenkot, memberikan kritik tajam:

"Gencatan senjata harus datang dari posisi kuat demi melayani kepentingan nasional Israel. Sebuah pola telah berkembang di mana gencatan senjata dipaksakan kepada kita di Gaza, di Iran, dan sekarang di Lebanon. Netanyahu tidak tahu bagaimana mengubah pencapaian militer menjadi keuntungan diplomatik."

*Posisi Netanyahu: Tanpa Konsesi?.*

Dalam pidatonya, Netanyahu membingkai gencatan senjata ini sebagai "kesempatan untuk membuat perjanjian perdamaian bersejarah dengan Lebanon." Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak memberikan konsesi besar di lapangan.

Netanyahu mengungkapkan bahwa Hezbollah bersikeras pada dua syarat utama: penarikan pasukan Israel dari Lebanon dan prinsip "ketenangan dibayar ketenangan" (quiet for quiet).

"Saya tidak menyetujui yang pertama, maupun yang kedua," tegas Netanyahu. "Kedua syarat ini tidak terpenuhi. Kami tetap berada di Lebanon dalam zona keamanan yang dipertebal. Kami ada di sana, dan kami tidak akan pergi."

*Geopolitik dan Bayang-bayang Washington*

Langkah ini juga dipengaruhi oleh dinamika regional yang melibatkan Teheran. Iran dilaporkan telah menuntut penghentian operasi Israel terhadap proksi mereka, Hezbollah, sejak menyetujui gencatan senjata dua minggu dengan AS awal bulan ini.

Presiden Trump menyatakan pekan ini bahwa ia mencoba menciptakan apa yang disebutnya sebagai "sedikit ruang bernapas antara Israel dan Lebanon," di tengah tersendatnya negosiasi AS dengan Iran. 

Meski demikian, jajak pendapat oleh saluran berita Channel 12 menunjukkan bahwa hampir 80% responden Israel mendukung kelanjutan serangan terhadap Hezbollah.

Kekecewaan warga utara dirangkum secara lugas oleh Moshe Davidovich, kepala dewan regional Mateh Asher:

"Kesepakatan mungkin ditandatangani dengan dasi di Washington, tetapi harganya dibayar dengan darah dan rumah-rumah yang hancur. Penduduk di utara bukanlah pemeran figuran dalam pertunjukan hubungan masyarakat internasional."

Kesepakatan ini secara eksplisit menyatakan bahwa Israel tetap menjaga haknya untuk mengambil semua tindakan pertahanan diri yang diperlukan terhadap serangan yang direncanakan maupun yang sedang berlangsung. 

Namun, bagi mayoritas warga Israel, gencatan senjata ini bukanlah jalan keluar dari konflik, melainkan bukti nyata bahwa kepentingan politik sekutu utama mereka di Washington tidak selalu sejalan dengan tujuan perang mereka sendiri.

Editor: Redaktur TVRINews


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Catat! Ini Tanggal Sidang Perdana Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
KP2MI Pastikan Kendala Pengiriman Barang Pribadi Almarhum Reza Valentino Simamora Berjalan Transparan dan Akuntabel
• 12 jam lalujpnn.com
thumb
Kasatgas PRR Sebut 12 Daerah Terdampak Sudah Ajukan Huntap, Pemda Lain Diminta Segera
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Tinjau Kampung Nelayan Merah Putih di Tangerang, Menko AHY Yakin Produktivitas dan Pendapatan Meningkat
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Runtuhnya Diplomasi Islamabad: Mengurai Kebuntuan Perdamaian Iran-AS
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.