Pantau - Industri perhotelan mulai membidik Generasi Alpha sebagai pasar potensial baru untuk meningkatkan tingkat hunian kamar hotel di tengah tren okupansi yang fluktuatif.
Generasi Alpha Jadi Target BaruKetua Umum Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) I Gede Arya Pering Arimbawa menyatakan Generasi Alpha memiliki pengaruh besar terhadap keputusan perjalanan keluarga.
"Generasi Alpha suka traveling dan pasti mengajak orang tua. Prilaku seperti itu yang berdampak terhadap peningkatan hunian kamar hotel," ujarnya.
Ia menjelaskan kelompok yang lahir sejak 2013 hingga pertengahan 2023 tersebut memiliki karakteristik akrab dengan teknologi serta menyukai pengalaman interaktif dan destinasi ramah anak.
Menurutnya, perubahan perilaku ini mendorong industri perhotelan untuk beradaptasi dengan menghadirkan layanan yang tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga anak-anak.
"Ketika Generasi Alpha muncul, maka perlu percepatan dalam beradaptasi melihat peluang," kata dia.
Tren Okupansi dan Peluang PasarArimbawa menyebut tren okupansi hotel mulai menunjukkan pemulihan terutama saat periode libur panjang seperti Lebaran, Nyepi, dan libur sekolah.
Selain Generasi Alpha, industri juga melihat peluang dari kelompok generasi sebelumnya seperti Generasi X, Y, hingga Z yang masih memiliki minat tinggi untuk bepergian.
Ia menambahkan fenomena keluarga transmigran generasi ketiga yang pulang ke kampung halaman turut mendorong permintaan kamar hotel.
"Orang tidak melihat itu sebagai segmen pasar. Itu musiman, tapi inilah yang sedang terjadi," ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Februari 2026, tingkat penghunian kamar hotel berbintang tercatat 44,89 persen, turun dibandingkan Januari 2026 sebesar 47,53 persen.
Rata-rata lama menginap tamu tercatat 1,64 hari pada Februari 2026, sedikit meningkat dari 1,59 hari pada Januari 2026.




