HARIAN FAJAR, PAREPARE – Stadion Gelora BJ Habibie bersiap menjadi saksi perjuangan hidup mati Pasukan Ramang. Besok, Sabtu, 18 April, PSM Makassar bertarung memperebutkan tiga angka saat menjamu Borneo FC. Laga ini juga pertaruhan harga diri dan napas terakhir untuk tetap bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. PSM pun dituntut bermain “gila” di depan pendukung sendiri.
Secara statistik dan head-to-head, PSM Makassar memang berada di bawah bayang-bayang kebesaran Borneo FC. Dari 17 kali bentrokan di Liga 1, Juku Eja tercatat hanya mampu mencuri lima kemenangan. Sebaliknya, Pesut Etam tampil dominan dengan mengamankan delapan kemenangan, sementara empat laga sisanya berakhir imbang.
Kondisi dalam lima pertemuan terakhir pun kian memprihatinkan. PSM hanya mampu memetik satu kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kali dipaksa menyerah. Artinya, Juku Eja hanya mampu mengais 5 poin dari potensi 15 poin, sebuah catatan yang menjadi alarm bahaya bagi sang juara bertahan.
Kalah Produktivitas
Lini serang Borneo FC juga terbukti menjadi momok bagi pertahanan PSM. Dari total pertemuan kedua tim, Borneo sukses mengoyak jala PSM sebanyak 23 kali (rata-rata 1,35 gol per laga). Bandingkan dengan PSM yang baru mengoleksi 19 gol (rata-rata 1,1 gol per laga) ke gawang Pesut Etam.
Pengamat sepak bola, Budiardjo Thalib, menegaskan bahwa kualitas tim maupun individu Borneo FC saat ini memang sangat terjaga.
“Kita tahu rekor saat ini masih memihak Borneo FC. Di pertemuan terakhir pun PSM harus takluk. Catatan ini harus menjadi atensi besar dan bahan evaluasi tim pelatih sebelum turun ke lapangan,” ujar Budiardjo kepada FAJAR, Kamis, 16 April.
Meski begitu, Budiardjo optimis kejutan bisa terjadi jika analisis taktik dilakukan dengan tepat. “Bukan berarti PSM tidak bisa menang. Tugas tim adalah berbenah total agar tidak terus kehilangan poin dan terhindar dari zona degradasi,” tegasnya.
Harga Mati: Siri’ Na Pacce!
Tekanan tidak hanya datang dari pengamat, tapi juga dari tribun penonton. Suporter setia Makassar, Alamsyah Herman, menegaskan bahwa laga ini sudah masuk kategori “Harga Mati”. Menurutnya, kemenangan adalah satu-satunya obat untuk mendongkrak mental pemain yang sedang terpuruk.
“Ini pertandingan harga mati! Kalau menang, mental pemain akan naik. Tapi kalau sampai kalah di kandang, akan sangat sulit membangkitkan motivasi tim kembali,” ungkap Alamsyah.
Ia berharap seluruh punggawa Pasukan Ramang tampil all-out dan tidak kenal menyerah. “Pemain harus paham filosofi kita. Harus menjunjung tinggi prinsip Siri’ Na Pacce—bertarung sampai peluit akhir demi harga diri orang Makassar,” pungkasnya.
Akankah keajaiban muncul di Parepare, ataukah statistik pahit akan kembali terulang? Satu yang pasti, PSM Makassar wajib tampil habis-habisan jika tak ingin “nyawa” mereka di Super League terancam padam. (wid)





