EtIndonesia. Saat Amerika Serikat mempertimbangkan untuk kembali memulai negosiasi dengan Iran, seorang mantan juara gulat nasional Iran mendesak AS agar memasukkan tuntutan kemanusiaan sebagai syarat utama dalam perundingan dengan Teheran. Ia juga memperingatkan bahwa eksekusi sedang digunakan untuk menekan perbedaan pendapat di dalam negeri Iran.
Seorang aktivis perempuan Iran bernama Bita Hamati dijatuhi hukuman mati karena berpartisipasi dalam pemberontakan anti-pemerintah yang terjadi pada Januari lalu. Ia dan suaminya termasuk di antara lebih dari 1.600 warga Iran yang saat ini menghadapi hukuman mati. Hamati juga akan menjadi perempuan pertama yang dihukum mati karena ditangkap akibat ikut serta dalam aksi tersebut.
Mantan pelatih kepala tim nasional gulat Iran, Sardar Pashaei, dalam wawancara dengan Fox News mengatakan bahwa selain Hamati, masih ada tiga perempuan lain yang juga menghadapi eksekusi. Ia memperingatkan bahwa rezim sedang mengirimkan pesan yang jelas kepada rakyat Iran: siapa pun yang berani melawan akan membayar harga seperti ini.
Pashaei mendesak Donald Trump: “Jika Anda mencapai kesepakatan apa pun dengan mereka… satu-satunya permintaan kami rakyat Iran adalah: pastikan untuk memasukkan aspek kemanusiaan ke dalamnya.” “Presiden Trump, Anda dapat menyelamatkan nyawa para perempuan ini.”
Pashaei juga mengatakan: “Jika Anda bernegosiasi dengan mereka, satu-satunya permintaan rakyat Iran adalah memasukkan faktor kemanusiaan. Jadi, ketika mereka berbicara tentang tidak boleh membuat senjata nuklir, itu juga harus mencakup bahwa mereka tidak boleh mengeksekusi siapa pun.”
“Presiden Trump, Anda bisa menyelamatkan nyawa perempuan-perempuan ini.”
Menurut statistik organisasi hak asasi manusia, dalam tiga bulan terakhir, rezim Iran telah mengeksekusi 656 orang. Hanya pada Januari saja, sebanyak 341 orang telah dieksekusi.
Pashaei juga memohon kepada Presiden Trump agar tidak memberikan kesempatan kepada rezim tersebut, melainkan memberikan kesempatan kepada rakyat Iran.
Laporan disusun oleh Lin Yutang dan Chen Lingzhi dari New Tang Dynasty Asia-Pacific.





