JAKARTA, KOMPAS.com - TOEFL atau Test of English as a Foreign Language selama ini dikenal sebagai tes untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris seseorang, terutama dalam kebutuhan akademik dan profesional.
Sertifikatnya kerap dijadikan syarat sidang skripsi, wisuda, hingga rekrutmen kerja di perusahaan tertentu.
Izar (23), mahasiswa semester akhir di Depok, mengaku menggunakan jasa joki TOEFL setelah berkali-kali gagal memenuhi skor minimal kampus untuk syarat sidang skripsi. Padahal, semua tahapan akademik sudah ia selesaikan.
“Semua sudah beres, tinggal daftar sidang. Tapi TOEFL saya kurang terus. Saya udah tes tiga kali, tetap enggak tembus,” kata Izar saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Di Balik Syarat TOEFL, Muncul Pasar Gelap Joki yang Jadi Jalan Pintas Mahasiswa
Kampusnya hanya meminta sertifikat TOEFL prediction, bukan TOEFL resmi internasional.
Meski demikian, skor minimal tetap menjadi syarat wajib agar ia bisa mendaftar sidang.
Izar mengaku merasa dirugikan bila kelulusannya tertunda hanya karena satu dokumen.
“Kalau saya harus ulang semester cuma gara-gara TOEFL, rugi banget. Jadi saya cari jalan cepat,” ujar dia.
Ia mendapat informasi jasa tersebut dari teman satu jurusan. Setelah menghubungi admin via WhatsApp, ia diminta menentukan target skor dan deadline. Izar akhirnya memilih skor aman agar tidak mencurigakan.
Izar membayar sekitar Rp 700.000. Beberapa hari kemudian, sertifikat dikirim dalam bentuk PDF tanpa ia perlu datang ke lokasi tes.
“Saya enggak datang tes. Tiba-tiba sertifikatnya sudah jadi,” kata dia.
Hal serupa dialami Nabila (24) mahasiswa asal Jakarta Selatan. Ia sudah lulus dan yudisium, tetapi ijazahnya tertahan karena belum menyerahkan sertifikat TOEFL prediction.
“Saya sudah yudisium. Tapi pas mau ambil ijazah, akademik bilang harus ada TOEFL dulu,” kata Nabila saat dihubungi.
Masalahnya, saat itu ia sudah bekerja dan tak punya waktu mengikuti tes berulang kali. HR di tempatnya bekerja meminta ijazah asli untuk proses administrasi lanjutan.
“HR minta ijazah asli. Kalau enggak ada, proses pengangkatan juga bisa ketahan,” kata Nabila.
Akhirnya, ia memilih paket termurah senilai Rp 350.000 demi sertifikat yang diterima kampus.
Sementara itu, Rafi (22) asal Depok mengaku memakai joki karena terancam tidak bisa wisuda jika tidak menyerahkan sertifikat TOEFL prediction. Padahal ia sudah membayar biaya wisuda.
“Kampus saya bilang kalau enggak ada TOEFL, enggak bisa ikut wisuda. Padahal saya sudah bayar biaya wisuda,” kata Rafi saat dihubungi.
Ia mengaku sudah mencoba tes beberapa kali, tetapi skornya tak pernah naik. Akhirnya Rafi memilih pakai joki dengan permintaan skor yang tidak terlalu tinggi karena takut mencurigakan.
“Saya takut kalau skornya tinggi banget malah aneh. Jadi saya minta skor yang aman, sesuai batas kampus,” kata dia.
Baca juga: DJP Ingatkan Risiko Pakai Joki SPT, Tanggung Jawab Tak Hilang dari Wajib Pajak
Salsa (22), mahasiswa semester akhir asal Jakarta Timur, menyebut penggunaan jasa joki sudah menjadi rahasia umum di lingkungan mahasiswa, terutama menjelang sidang dan wisuda.
“Kalau di kalangan mahasiswa, ini kayak rahasia umum. Enggak dibahas di depan dosen, tapi kalau sama teman dekat pasti ada yang ngomong,” ujar Salsa saat dihubungi.
Ia mengaku sempat ketakutan saat menyerahkan sertifikat ke bagian akademik. Namun ketakutan itu mereda karena verifikasi kampus cenderung hanya administratif.
Ia menilai normalisasi ini berbahaya karena membuat mahasiswa terbiasa mencari jalan pintas.
“Kalau terus-terusan dianggap wajar, lama-lama mahasiswa jadi terbiasa cari jalan pintas,” tutur dia.





