jpnn.com, JAKARTA - Pendakwah Miftah Habiburrahman alias Gus Miftah, kembali menjadi sorotan publik setelah ceramahnya yang memuji kinerja Prabowo Subianto dalam diplomasi Selat Hormuz viral di media sosial.
Dalam ceramah tersebut, Gus Miftah menyinggung peran pemerintah dalam membuka jalur strategis Selat Hormuz untuk kepentingan Indonesia.
BACA JUGA: Ajakan Istigasah Dasco Direspons Gus Miftah dengan Doa Untuk Negeri
Pernyataan itu kemudian menuai beragam respons dari publik. Sebagian pihak menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah.
Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik isi ceramah tersebut karena dianggap terlalu memihak kepada pemerintah.
BACA JUGA: Gus Miftah Mengajak Warga NU Hadiri Doa Untuk Negeri
Menanggapi hal itu, Gus Miftah membantah bahwa dirinya melakukan pujian berlebihan atau menjilat pemerintah.
Dia menegaskan bahwa pernyataannya disampaikan berdasarkan fakta yang ia yakini terkait kinerja pemerintah dalam diplomasi internasional.
BACA JUGA: Gus Miftah Donasikan Rp 1 Miliar Untuk Korban Banjir di Aceh dan Padang
“Saya berbicara berdasarkan fakta yang ada. Loyalitas saya bukan karena kedekatan, tetapi karena keyakinan,” ujar Gus Miftah saat ditemui awak media, Kamis (16/4/2026).
Dia juga menyinggung peran Menteri Luar Negeri Sugiono dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam upaya diplomasi tersebut.
Menurutnya, langkah diplomasi yang dilakukan pemerintah bertujuan untuk membuka akses strategis bagi Indonesia di jalur Selat Hormuz.
Gus Miftah menambahkan, pernyataan dalam ceramahnya tidak dimaksudkan untuk berpihak secara politik, melainkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kepemimpinan yang dinilai kuat dan berani.
Dia juga menegaskan bahwa sikapnya merupakan bentuk konsistensi dalam mendukung kepemimpinan yang dianggap berpihak pada kepentingan rakyat.
Viralnya ceramah tersebut kembali menempatkan Gus Miftah dalam perhatian publik, sekaligus memicu diskusi luas mengenai batas antara dukungan dan kritik terhadap pemerintah.
Sebelumnya, pernyataan Gus Miftah terkait diplomasi Selat Hormuz juga sempat ramai diperbincangkan karena dinilai menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. (jlo/jpnn)
Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh




