Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Indeks Diperkirakan Bergerak Sideways Saat Rupiah Menguat Tipis
Pasar modal Indonesia diproyeksikan akan mengalami fase konsolidasi pada perdagangan akhir pekan ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak mendatar (sideways) setelah mencatatkan pelemahan minor sebesar 0,03 persen ke posisi 7.621,3 pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Analisis dari Phintraco Sekuritas menunjukkan bahwa pasar saat ini sedang menyeimbangkan antara sentimen positif global dan tekanan teknikal domestik. Harapan akan adanya deeskalasi konflik melalui perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, serta melandainya harga minyak mentah dunia, menjadi katalis positif bagi kepercayaan investor.
Namun, penguatan indeks tertahan oleh indikator teknikal yang menunjukkan jenuh beli.
“Secara teknikal, kondisi IHSG yang masih berada di area overbought mendorong terjadinya aksi ambil untung (profit taking). Sehingga diperkirakan IHSG masih akan bergerak sideways pada kisaran 7.550 hingga 7.700,” tulis Phintraco Sekuritas dalam riset resminya yang dirilis Jumat 17 April 2026.
Stabilitas Rupiah dan Instrumen SRBI
Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah ditutup menguat terbatas sebesar 0,02 persen ke level Rp17.136 per dolar AS pada Kamis 16 April kemarin. Penguatan ini sejalan dengan tren positif mata uang di kawasan Asia.
Menanggapi fluktuasi nilai tukar, Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Instrumen ini kian diminati investor karena menawarkan imbal hasil (yield) yang kompetitif di tengah ketidakpastian geopolitik.
Sebagai langkah strategis menjaga likuiditas dan stabilitas, BI telah meningkatkan frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali sepekan sejak Februari 2026.
Dinamika Pasar Global
Dari Benua Biru, bursa Eropa dibuka menguat mengikuti performa positif pasar Asia. Investor global tengah mencermati rilis data ekonomi Inggris yang mencatatkan pertumbuhan PDB sebesar 0,5 persen (MoM) pada Februari 2026 performa terkuat sejak awal 2024.
Kendati demikian, tantangan inflasi masih membayangi kawasan Euro. Data terbaru menunjukkan inflasi meningkat ke angka 2,6 persen pada Maret 2026, dipicu oleh lonjakan biaya energi.
Ini merupakan level tertinggi dalam dua tahun terakhir, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral ke depan.
Editor: Redaktur TVRINews





