Peringati Hari Hemofilia Sedunia, HMHI Serukan Pentingnya Diagnosis, First Step To Care 

jpnn.com
5 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) dan The World Federation of Hemophilia (WFH) mengajak masyarakat untuk memahami pentingnya deteksi dini hemofilia dan gangguan perdarahan lainnya, termasuk von Willebrand Disease sebagai langkah awal tata laksana penyakit tersebut.

Ajakan tersebut dilakukan sekaligus dalam memperingati hari Hemofilia Sedunia 2026 yang jatuh setiap tanggal 17 April melalui kampanye dengan “menyalakan” beberapa ikon atau penanda kota Jakarta yaitu Monas dan Bundaran Hotel Indonesia (HI), dengan warna merah.

BACA JUGA: Hemofilia dan VWD Perlu Diwaspadai Meski Prevalensinya Rendah

Hal ini merupakan bentuk realisasi upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan hemofilia dan kelainan perdarahan lainnya.

Mengusung tema “Diagnosis: First step to care”, World Federation of Hemophilia memiliki keyakinan bahwa peningkatan laju diagnosis kelainan perdarahan bisa mendorong pengobatan yang lebih optimal guna meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.

BACA JUGA: Ade Rai dan PT AI Indonesia Kembangkan Platform AI Interaktif

"Diagnosis yang akurat merupakan pintu gerbang menuju pelayanan dan pengobatan bagi orang dengan gangguan perdarahan. Namun, di dunia, berbagai hambatan masih memperlambat bahkan menghalangi proses diagnosis sehingga angka diagnosis tetap sangat rendah,” ujar Cesar Garrido, Presiden WFH.

"Oleh karena itu pada 17 April, saya mengajak komunitas global untuk bersatu memperjuangkan penguatan kapasitas diagnosis di seluruh dunia—karena tanpa diagnosis tidak ada pengobatan, dan tanpa pengobatan tidak akan ada kemajuan," imbuhnya.

BACA JUGA: Sambut Era CoreTax, Akuntara Hadir untuk Berdayakan Lulusan SMK

Hemofilia merupakan gangguan pembekuan darah yang terjadi akibat kekurangan faktor VIII pada hemofilia A dan kekurangan faktor IX pada hemofilia B.

Gejala khas yang sering muncul adalah lebam-lebam, pembengkakan sendi yang disertai nyeri dan gangguan gerak, perdarahan sulit berhenti pada organ lain seperti mimisan, gusi berdarah hingga perdarahan setelah tindakan medis seperti cabut gigi atau sunat.

Jika abai terhadap gejala yang mungkin muncul, diagnosis hemofilia sering kali terluput. Selain gejala yang telah disebutkan, diagnosis hemofilia perlu dicurigai pada anak lelaki dengan anggota keluarga lelaki yang mempunyai gejala yang sama.

Diagnosis hemofilia dimulai dengan pengenalan gejala perdarahan, diikuti pemeriksaan sederhana seperti darah tepi lengkap dan activated partial thromboplastin time (aPTT) yang dapat dilakukan di rumah sakit.

Konfirmasi kelainan hemofilia dilakukan melalui pmeriksakan kadar faktor VIII dan kadar faktor IX di rumah sakit yang mempunyai fasilitas memadai.

WFH memperkirakan sekitar 3/4 populasi dunia dengan hemofilia belum terdiagnosis, bahkan proporsi tersebut lebih besar pada kelainan perdarahan lainnya. Hingga 2025, sebanyak 3801 pasien hemofilia sudah terdiagnosis di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan jumlah pasien yang diprediksi mengalami hemofilia, hanya 1 dari 10 pasien hemofilia yang terdiagnosis di Indonesia.

Walaupun jumlah pasien yang teregistrasi saat ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, langkah deteksi dini masih menjadi tugas bersama.

Adapun kendala yang menyebabkan rendahnya laju deteksi dini hemofilia dan kelainan perdarahan lainnya di Indonesia adalah rendahnya kesadaran dan wawasan masyarakat.

“Indonesia masih memiliki keterbatasan dalam aspek fasilitas laboratorium, terutama persebarannya. Hanya 11 provinsi yang dapat memeriksakan kadar faktor pembekuan darah untuk menkonfirmasi diagnosis hemofilia. Konsultan hemato-onkologi di Indonesia juga baru tersedia di 26/38 provinsi untuk pasien anak-anak dan 33/38 provinsi untuk pasien dewasa. Tentu kondisi ini tidak sebanding dengan perkiraan jumlah pasien yang tersebar di Indonesia,” jelas Dr. dr. Novie Amelia Chozie, Ketua HMHI.

Belum lagi kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan membuat terhambatnya akses fasilitas kesehatan di beberapa wilayah.

Jika laju diagnosis hemofilia tetap rendah, sambung dr Novie, hal yang ditakutkan adalah dampak jangka panjang terhadap status fungsional dan kualitas hidup seseorang secara signifikan.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy Artada


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polda Metro Jaya Belum Terima Laporan Polisi terkait Dugaan Pelecehan Seksual di FH UI
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Jamin Keamanan Pangan, KPKP Jaksel Telusuri Olahan Ikan Sapu-sapu
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cerita Pemkot Probolinggo Sulitnya Sediakan Sekolah Rakyat untuk Siswa SD
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Wali Kota Muslim Zohran Mamdani Mau Naikkan Pajak Orang Kaya New York, Trump Ngamuk!
• 9 menit laluviva.co.id
thumb
Rupiah Menguat Tipis ke 17.138 per US$, Ada Harapan Konflik Timur Tengah Mereda
• 17 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.