Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja emiten properti PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) belum optimal sepanjang 2025 seiring pasar properti yang masih berada dalam fase penyesuaian.
Kondisi ini tercermin dari tekanan pada baik dari sisi top line maupun bottom line MTLA sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2025, pendapatan MTLA tercatat Rp1,78 triliun atau turun 11,89% dari Rp2,02 triliun pada 2024.
Sejalan dengan penurunan pendapatan tersebut, perseroan mengantongi laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp412,93 miliar di 2025 yang juga turun 12% secara tahunan dari Rp469,25 miliar pada 2024.
Direktur MTLA Olivia Surodjo mengatakan permintaan properti selama 2025 cenderung tidak merata. Segmen menengah masih menjadi penopang utama, sementara segmen atas justru menunjukkan sikap lebih selektif dalam berbelanja. Ketimpangan ini berdampak langsung terhadap penjualan perusahaan yang belum mampu tumbuh agresif.
Di sisi lain, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil serta ketidakpastian global turut menahan daya beli masyarakat. Tekanan tersebut tidak hanya memengaruhi penjualan, tetapi juga merembet ke kinerja laba.
“Dampaknya juga terlihat pada laba, meskipun tetap dijaga melalui strategi selektif dan pengelolaan yang hati-hati dan terukur,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (17/4/2026).
Memasuki 2026, MTLA menargetkan perbaikan kinerja, meskipun tantangan belum sepenuhnya mereda. Dari sisi pendapatan, segmen residensial masih diharapkan menjadi kontributor utama. Sementara itu, pertumbuhan laba ditopang oleh kombinasi penjualan residensial dan peningkatan pendapatan berulang atau recurring income yang dinilai lebih stabil.
Namun, prospek tahun ini tetap dibayangi berbagai risiko. Olivia menyebut dinamika global seperti konflik geopolitik dan isu energi berpotensi mendorong kenaikan biaya konstruksi sekaligus menekan daya beli masyarakat. Kondisi ini membuat ruang pemulihan kinerja menjadi terbatas.
Untuk mengatasi hal tersebut, MTLA menyiapkan sejumlah strategi. Perseroan akan fokus pada peluncuran produk residensial yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar, mengoptimalkan penjualan proyek yang sudah berjalan, serta memperkuat kontribusi pendapatan berulang.
Selain itu, perusahaan juga meningkatkan pemasaran digital dan menjalin kolaborasi strategis guna memperluas jangkauan pasar.
Ke depan, Olivia menyebut segmen residensial masih menjadi andalan utama, dengan dukungan tambahan dari kinerja segmen hotel dan komersial yang relatif stabil.





