Jakarta: Indonesia merupakan negara yang kaya akan flora dan fauna dan dianugerahi sekitar lebih dari 4.000 spesies ikan di ibu pertiwi.
Meskipun begitu, satu jenis ikan kini menjadi pusat perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yaitu ikan dari keluarga Loricariidae dan genus Pterygoplichthys dan yang di tanah air lebih populer dengan sebutan ikan sapu-sapu dan kerap dikategorikan sebagai ikan invasif.Pemprov DKI Jakarta kini mengambil langkah dengan untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di perairan ibu kota
Lantas apa yang membuat ikan ini digolongkan menjadi ikan invasif? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Ikan Tangguh yang Cepat Berkembang Biak
Pterygoplichthys disjunctivus. (Dok. U.S. Geological Survey?)
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gema Wahyu Dewantoro, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu berpotensi merusak ekosistem secara signifikan.
"Ikan sapu-sapu merupakan ikan introduksi yang bersifat invasif sesuai Permen KP 19 tahun 2020. Ikan sapu-sapu sudah termasuk mencemari perairan karena sifatnya merusak dan reproduksinya tinggi, merusak jaring nelayan, melubangi pinggiran sungai atau danau," kata Gema kepada wartawan, Rabu, 15 April 2026.
Melansir laman Texas Invasive Species Institute, ikan sapu-sapu adalah mampu menghasilkan lebih dari 300 telur di dalam sarangnya dan telur-telur tersebut hanya butuh waktu kurun 4 hingga 20 hari untuk menetas. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup benihnya sangat tinggi karena adanya perlindungan intensif dari induk.
Selain strategi perkembangbiakan yang efektif, keluarga Loricariidae merupakan ikan yang sangat tangguh dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi ekologi.
Berkat lambung vaskularnya yang besar, ikan ini bahkan dapat menghirup udara dan bertahan hidup di luar air selama lebih dari 20 jam. Ikan ini sangat toleran dan mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan dan mampu bertahan bahkan dalam kondisi kekeringan jangka pendek.
Baca Juga:
Pabrik Siomay Bakal Disidak Cegah Peredaran Ikan Sapu-sapu Bahaya Mengkonsumsi Ikan Sapu-Sapu Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menilai keberadaan ikan sapu-sapu yang semakin masif saat ini perlu ditangani secara serius karena bersifat invasif dan merusak ekosistem.
Populasi ikan tersebut juga sukar dikontrol dengan dikonsumsi masyarakat.
Pramono mengungkapkan adanya kandungan residu berbahaya di dalam tubuh ikan tersebut. Berdasarkan laporan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kadar residu di dalam tubuh ikan sapu-sapu rata-rata sudah melampaui 0,3 persen, sehingga sangat berisiko bagi kesehatan manusia apabila dikonsumsi.
“Kalau dikonsumsi, tentu berbahaya. Selain itu, ikan ini juga merusak lingkungan karena membuat sarang dengan cara menggerogoti dinding sungai,” ungkap Pramono.
Melimpahnya populasi ikan sapu-sapu di ekosistem air tawar dapat menyebabkan spesies asli setempat kalah bersaing hingga jumlahnya menurun drastis. Fenomena ini berisiko memicu kelumpuhan pada sektor perikanan air tawar selain bahaya ekologis yang nyata.
Di Indonesia, larangan impor sejumlah ikan dari genus Pterygoplichthys secara ilegal telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014.




