JAKARTA, KOMPAS.com — Ketidakpastian dunia kerja mendorong semakin banyak lulusan perguruan tinggi beralih ke usaha mandiri dan sektor gig economy.
Ketika peluang kerja formal dinilai semakin sempit, syarat rekrutmen kian kompleks, serta batas usia menjadi penghalang, jalur nonformal dianggap sebagai alternatif yang lebih realistis untuk bertahan.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian lulusan memilih membangun usaha sendiri, sementara lainnya masuk ke sektor informal yang dinilai lebih fleksibel meski tidak selalu menjanjikan stabilitas.
Baca juga: 52 Lamaran Kerja Tanpa Jawaban, Sarjana Beralih ke Lapak Sederhana
Hal tersebut pula yang dialami Yanti (32), lulusan Diploma III Administrasi dan Keuangan yang kini memilih menjalankan usaha jasa setrika dari rumah.
Yanti bercerita, ia menyelesaikan pendidikannya pada 2015 dan sempat bekerja di beberapa perusahaan, mulai dari penerbit buku hingga perusahaan ritel dan rental mobil. Kariernya sempat berkembang dengan kenaikan gaji dan tanggung jawab.
Namun, setelah memutuskan berhenti bekerja pada 2021 untuk mengurus anak, ia menghadapi realitas berbeda ketika mencoba kembali ke dunia kerja pada 2023. Usianya yang mendekati kepala tiga menjadi hambatan utama.
Ia mengaku banyak lowongan kerja yang mensyaratkan usia maksimal 27 tahun, bahkan untuk posisi staf.
“Melamar Posisi staf pun dibatasi maksimal 27 tahun. Melamar posisi selevel supervisor, terhambat sertifikat brevet, yang mana waktu saya bekerja saya tidak terpikirkan untuk mengambil kursus pajak," kata dia saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/4/2026).
Selain itu, ia juga dihadapkan pada persyaratan lain yang menurut dia tidak relevan untuk posisi back office.
“Selain itu hambatan lainnya adalah persyaratan "good looking" membuat saya semakin bingung, saat 2023 itu cukup banyak loker di back office namun meminta persyaratan itu," katanya.
Baca juga: Saat Upah Tak Sejalan dengan Pendidikan, Sarjana Tinggalkan Jalur Karier Konvensional
Kondisi tersebut membuat dia menyadari bahwa kembali ke jalur formal bukanlah hal yang mudah. Alhasil, Yanti memutuskan beralih ke sektor usaha mandiri. Keputusan itu juga tidak lepas dari faktor ekonomi.
Yanti menyebutkan, dirinya dan suami termasuk generasi sandwich yang harus memikirkan kebutuhan keluarga inti sekaligus orang tua.
“Gaji suami hanya cukup untuk keluarga kecil kami dan tabungan kami yang belum seberapa," kata dia.
Kebutuhan yang terus meningkat, mulai dari biaya hidup hingga pendidikan anak, membuatnya harus mencari tambahan penghasilan.
“Terlebih anak tunggal kami akan mulai masuk ke jenjang sekolah dasar, dimana biaya biaya pendidikan mulai akan keluar satu per satu," ujarnya.





