TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com — Kehadiran komunitas Bike2School di wilayah Serpong Lagoon, Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), tidak hanya mendorong anak-anak bersepeda ke sekolah, tetapi juga menyoroti minimnya fasilitas ramah pesepeda di kawasan perkotaan.
Penggerak Bike2School Serpong Lagoon, Dimas Gilang Pamungkas (37), menilai pembangunan kota di Indonesia, termasuk di Tangerang Selatan, masih cenderung berorientasi pada kendaraan bermotor. Akibatnya, ruang bagi pesepeda dan pejalan kaki belum menjadi prioritas.
"Menurut saya, mayoritas di Indonesia ini, kotanya ini dibangun bukan buat manusia lebih ke condong ke car-centric," ujar Dimas saat ditemui Kompas.com di Serpong Lagoon, Setu.
Baca juga: Dulunya Pakai Mobil Jemputan Saat Anak-anak Tangsel Bersepeda Bersama ke Sekolah
Kondisi tersebut, kata dia, berdampak pada kebiasaan masyarakat yang semakin bergantung pada kendaraan bermotor, bahkan untuk jarak dekat.
"Dulu sebelum motor, orang masih mau tuh jalan kaki. Orang mau tuh sepeda. Sekarang ketika ada kendaraan, kenapa dekat ke depan saja sudah pakai motor gitu," jelas dia.
Dimas menilai keterbatasan infrastruktur menjadi salah satu penyebab utama rendahnya minat masyarakat bersepeda sebagai transportasi harian. Ia mencontohkan kondisi trotoar yang belum layak serta belum meratanya jalur sepeda di berbagai wilayah.
Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara yang mulai serius membangun fasilitas ramah pesepeda dan pejalan kaki.
"Di luar negeri kayak Singapura, Malaysia aja, sudah agak lebih baik, friendly lah bahasanya. Tapi di Indonesia, enggak usah kayak plosok ya, Bodetabek aja itu, gimana? Apakah sudah se-friendly itu kah?" kata dia.
Melalui gerakan Bike2School, Dimas berupaya mengedukasi anak-anak di lingkungan sekitar bahwa sepeda masih dapat digunakan sebagai alat transportasi harian.
Baca juga: Jumat Pagi di Serpong Lagoon Tangsel, Saat Anak-anak Mengayuh Sepeda Menuju Sekolah
Namun, ia mengakui masih ada tantangan, terutama terkait budaya pengguna jalan yang belum sepenuhnya ramah terhadap pesepeda.
Ia berharap gerakan serupa dapat berkembang di wilayah lain sekaligus menjadi dorongan bagi pemerintah untuk menghadirkan kebijakan serta infrastruktur yang lebih berpihak pada pesepeda.
"Ini sentilan buat pemerintah, kenapa? Kenapa di sini (Serpong Lagoon) bisa? Karena lingkungannya terjaga aman untuk pesepeda," ucap dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





