Di balik rudal-rudal balistik yang meluncur dalam perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, sebenarnya ada kartu strategis yang akan menjadi penentu perang, yaitu Selat Hormuz. Setidaknya ada 800 kapal tangker yang tertahan di Selat Hormuz.
Tertahannya ratusan kapal tangker tersebut akan membuat pemerintah dan warga seantero belahan dunia merana dan sengsara, bahkan bisa menjadi krisis ekonomi global yang sangat serius. Setidaknya, ada 20% minyak dunia yang melewati Selat Hormuz setiap hari—dan jumlah yang sangat besar berasal dari gas.
Harga minyak bisa terus melambung jika Amerika-Israel terus membabi-buta. Kemudian, jika harga minyak menyentuh USD 200 perbarel, bencana krisis ekonomi akan menyengsarakan warga seantero dunia, disusul dengan krisis pangan—karena pertanian membutuhkan pupuk yang bahan dasarnya fosfat. Selain itu, dunia juga akan menghadapi krisis bahan dasar produk-produk teknologi dan digital. Barang-barang strategis tersebut dibawa melewati Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi kartu strategis Iran yang berhasil memaksa Amerika Serikat-Israel untuk memilih jalur diplomasi di Pakistan dan gencatan senjata selama kurang lebih dua minggu. Meskipun ada silang pendapat dan ketidakcocokan perihal penghentian perang dengan Hizbullah, tapi lagi-lagi, Selat Hormuz memaksa AS-Israel untuk menempuh jalur diplomasi dan meja perundingan yang dilakukan secara intensif.
Amerika Serikat berusaha menekan Iran dengan mengepung perairan laut menuju pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menekan pasokan pangan dan bahan-bahan yang dibutuhkan Iran. Lebih dari itu, AS mendesak agar Selat Hormuz dikelola bersama. Namun, upaya AS tersebut tidak membuat gentar sedikit pun, karena Iran paham perihal kartu strategis Selat Hormuz yang dapat menekan AS-Israel.
Iran telah lama mempersiapkan Selat Hormuz sebagai kartu strategis dengan meletakkan ranjau-ranjau peledak yang sangat berbahaya, bahkan mematikan pihak lawan secanggih apa pun. Selain itu, Iran juga sudah menyediakan kapal-kapal laut pengintai nir-awak dan drone-drone yang telah berhasil mendesak mundur kapal-kapal perang AS untuk keluar dari kawasan Selat Hormuz yang saat ini di bawah teritorinya.
Secara geopolitik, Selat Hormuz telah memainkan peran sentral, karena minyak dunia yang diekspor dari negara-negara Teluk ke negara-negara Eropa dan Asia melewati kawasan yang berada di bawah teritori laut Iran ini.
Selat Hormuz telah berhasil menekan negara-negara Eropa untuk tidak bermakmum pada Amerika Serikat yang selama ini menjadi mitra-strategisnya. Di samping ketidaksetujuan negara-negara Eropa terhadap politik luar negeri Trump, mereka sudah sangat mengerti posisi strategis Selat Hormuz.
Krisis energi akan sangat berdampak pada negara-negara Eropa, yang bisa menyebabkan krisis ekonomi global. Begitu pula dengan negara-negara Teluk sebagai negara penghasil minyak dan gas, mereka juga punya banyak kepentingan pada Selat Hormuz untuk mengamankan bisnis mereka. China juga sangat berkepentingan pada Selat Hormuz sebagai importir minyak dan gas terbesar dari Iran dan negara-negara Teluk.
Maka dari itu, Iran telah berhasil memainkan kartu strategis Selat Hormuz, khususnya agar Amerika Serikat dan Israel menerima tekanan negara-negara mitra strategisnya untuk memilih jalur diplomasi melalui perundingan. Yang teranyar, perang Israel dan Hizbullah di Lebanon berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Namun pertanyaannya: Apakah kartu strategis Selat Hormuz akan mampu menghasilkan kesepakatan permanen antara Amerika Serikat dan Iran? Bagaimana penyelesaian kapal-kapal tanker yang masih tertahan dan tidak bisa melewati Selat Hormuz?
Jujur, kita tidak bisa memprediksi secara pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Yang jelas, Iran saat ini berhasil mendesak Amerika Serikat dan Israel untuk menggunakan jalur diplomasi. Negara-negara Eropa, Teluk, dan Asia menghendaki agar ada penyelesaian secara diplomatik. Oleh sebab itu, perundingan dan gencatan yang berlangsung dalam dua minggu ini akan sangat menentukan masa depan perang AS-Israel melawan Iran.
Terdapat beberapa poin penting dalam perundingan saat ini, yaitu perihal pengayaan uranium persenjataan nuklir Iran, embargo ekonomi, pengembangan persenjataan rudal balistik, dan puncaknya adalah kemerdekaan Palestina. Semua poin tersebut bukanlah hal yang mudah dibicarakan dan dirundingkan.
Namun dengan kepala dingin dan hati yang jernih, Amerika Serikat-Israel dan Iran bisa menempuh kesepakatan yang bersejarah. Semua warga dunia saat ini menghendaki hidup damai, mengakhiri perang dan penjajahan. Apa yang dilakukan AS-Israel terhadap Iran serta dunia-dunia lain yang terjajah sangat melukai hati dan tidak dibenarkan sama sekali.
AS dan Israel harus mendengarkan dan melihat desakan kuat dari warganya serta warga dunia, bahwa penjajahan di muka bumi mesti dihentikan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan—sebagaimana tertuang dalam konstitusi kita.
Dan kita sejatinya berjuang serius untuk menghentikan penjajahan di muka bumi. Apa yang dilakukan AS-Israel terhadap Iran dan beberapa negara terjajah lainnya merupakan tindakan yang sama sekali tidak dibenarkan. Kita harus serius menghentikan perang yang sebenarnya bertujuan untuk penjajahan.





