PT Bank Jago Tbk menghadirkan fitur tampilan terintegrasi yang memungkinkan nasabah memantau seluruh portofolio investasi dalam satu aplikasi. Melalui fitur ini, berbagai aset yang sebelumnya tersebar di sejumlah platform kini dapat dilihat dalam satu tab di aplikasi Jago.
Head of Digital Lending Business Bank Jago, Irene Santoso, mengatakan semakin banyak nasabah yang mulai mendiversifikasi portofolionya ke berbagai instrumen, seperti reksa dana, saham, hingga deposito.
Namun, kondisi ini justru memunculkan tantangan baru, yakni kurangnya visibilitas terhadap keseluruhan portofolio karena aset tersebar di berbagai platform. Akibatnya, Irene menyatakan pengguna kesulitan memantau kinerja investasinya secara menyeluruh.
“Jadi kita bawa investasi portofolio itu bisa dilihat oleh user di aplikasi Jago, jadi walaupun dia investasi saham di platform A, mutual fund di platform B itu bisa terlihat, ini juga berkat kerja sama (Bank) Jago dengan KSEI,” ucap Irene dalam Media Wellness Experience Bank Jago di Roemah Koffie Gunawarman, Jakarta Selatan, Jumat (17/4).
Dengan demikian, meskipun pengguna berinvestasi di berbagai platform, seperti saham di satu aplikasi dan reksa dana di aplikasi lain, seluruhnya dapat dipantau secara terintegrasi di aplikasi Jago.
“Basically role kita seterusnya itu akan tetap sama ya, jadi kita mau coba jadi layer yang mau connect everything,” lanjut Irene.
Ia menjelaskan, fitur ini memungkinkan pengguna melihat total aset bersih secara terkonsolidasi, sehingga memudahkan pemahaman terhadap posisi keuangan mereka. Kemudahan ini dinilai tidak hanya relevan bagi investor berpengalaman, tetapi juga sangat membantu investor pemula.
“It's very easy to understand gitu kan sebagai investor, bukan cuma investor yang udah sering invest ya, tapi apalagi untuk yang pemula,” sebut Irene.
Ke depan, Bank Jago menyatakan akan terus mengambil peran sebagai penghubung yang mengintegrasikan berbagai layanan keuangan. Meskipun telah bekerja sama dengan sejumlah mitra seperti Bibit dan Stockbit, perusahaan tetap membuka kemungkinan untuk menghubungkan data dari platform lain, selama berada dalam koridor regulator dan sumber yang tepercaya.
“Dan tetap berdasarkan koridor-koridornya kita connect-nya ke yang otoritas yang memang tepercaya, itu data-data dari KSEI, kita coba untuk mengkonsolidasi itu supaya di satu platform ini user tuh bisa take decision,” jelas Irene.
Irene melanjutkan, untuk dapat mengakses fitur ini, pengguna perlu memiliki Rekening Dana Nasabah (RDN) Bank Jago yang menjadi kunci integrasi dengan sistem KSEI. Saat ini, RDN Jago telah tersedia di beberapa sekuritas, termasuk yang terhubung dengan Bibit dan Stockbit.
“Tapi kalau punya RDN jago tuh just have one ini, kantong ini bisa digunakan untuk seluruh kebutuhan investasi,” tutur Irene.
Fitur ini juga dilatarbelakangi oleh banyaknya informasi terkait investasi, terutama di media sosial, serta kebiasaan investor yang harus berpindah antar beberapa aplikasi. Dengan adanya konsolidasi portofolio dalam satu platform, Bank Jago berharap dapat mendorong partisipasi masyarakat, khususnya investor pemula, untuk lebih aktif berinvestasi.
43,2 Juta Kantong Digunakan oleh 15,2 Juta Nasabah hingga Maret 2026
Hingga Maret 2026, tercatat sekitar 43,2 juta Kantong telah dimanfaatkan oleh 15,2 juta pengguna. Rata-rata, setiap nasabah memiliki hampir tiga Kantong yang digunakan untuk mengelola keuangan sesuai kebutuhan.
“Dan sampai saat ini kalau kita lihat pengguna jago sudah 15,2 juta pengguna aplikasi jago. Kantong yang sudah dibuat ada 43,2 juta,” ucap Irene.
Dari berbagai jenis yang tersedia, Kantong Pengeluaran menjadi fitur yang paling dominan digunakan, terutama untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan, jajan, dan pengeluaran rutin lainnya.
Selain itu, Kantong juga dimanfaatkan untuk pembayaran tagihan, keperluan bisnis, hingga pengaturan dana musiman seperti Tunjangan Hari Raya (THR), Lebaran, dan kurban.
Irene juga memaparkan tren peningkatan aktivitas investasi. Ia mencatat pengguna aplikasi yang terhubung dengan platform investasi mitra, yaitu Bibit dan Stockbit, yang tumbuh sebesar 38,2 persen secara tahunan hingga 31 Desember 2025.
Dari sisi komposisi investasi, reksa dana masih menjadi instrumen yang paling banyak diminati dengan porsi 44 persen, diikuti saham sebesar 42 persen, serta obligasi sebesar 14 persen.
“Minat investasi yang meningkat di pasar saham juga terlihat dari pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN) Bank Jago yang naik lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025,” ujar Irene.




