Produsen biskuit PT Mega Global Food Industry (Kokola) terkena dampak kenaikan harga plastik. Perusahaan yang berbasis di Gresik, Jawa Timur, ini pun menaikkan harga produk.
Perusahaan selama ini mengekspor produk ke 55 negara, termasuk Jepang, Australia, dan Korea Selatan.
Direktur PT Mega Global Food Industry, Richard Cahyadi mengungkapkan, harga plastik naik hingga 45%. "Pasokannya pun sangat terbatas. Di ujung supply bahan kemasan plastiknya itu semua minta, karena ketidakpastian ya," kata Richard di Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4).
Oleh karena itu, perusahaan menyiapkan pembiayaan belanja yang besar untuk mengamankan stok bahan baku.
"Jadi kami bayar di depan, kami bayar tuna. Kami harus punya kekuatan pendanaan finansial yang kuat untuk kemasan itu," kata dia.
Ia mengungkapkan, perusahaan juga melakukan penyesuaian harga jual sekitar 5% hingga 10%, yang telah diterapkan mulai 15 April.
Selain itu, perusahaan 'mengakali' dampak kenaikan harga plastik dengan menggunakan kemasan alternatif, sebagai salah satu cara efisiensi. "Sebelumnya, satu keping dikemas satu kemaren. Sekarang dua keping satu kemasan," ujar dia.
Di sisi lain, ia menegaskan kenaikan harga bahan baku tidak berdampak terhadap para karyawan yang berjumlah sekitar 350 tenaga kerja.
PT Mega Global Food Industry mencatatkan nilai ekspor US$ 19,96 juta tahun lalu, atau naik 45% dibandingkan tahun sebelumnya US$ 13,71 juta.
Di sisi lain, pemerintah menggenjot pembiayaan ekspor melalui skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE). Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis 2 Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Suleman menggambarkan hingga kini total realisasi mencapai Rp 13,7 triliun, 25% di antaranya diserap oleh pelaku usaha di Jawa Timur.
Suleman menyebut, Jawa Timur menjadi salah satu wilayah dengan pemanfaatan PKE terbesar secara nasional. Dari sisi nilai, total pembiayaan yang telah disalurkan di Jawa Timur mencapai sekitar Rp 9 triliun.
“Kalau kita lihat, sekitar 25% PKE itu disalurkan di Jawa Timur. Total yang sudah di-disburse (dicairkan) mencapai kurang lebih Rp 9 triliun dan dimanfaatkan oleh 61 pelaku usaha,” kata Suleman, dalam kegiatan media briefing dan kunjungan industri di Gresik, Jawa Timur, pada Jumat (17/8).
Ia mengatakan, puluhan eksportir tersebut telah memanfaatkan fasilitas PKE untuk menembus lebih dari 30 negara tujuan ekspor.
Sulaeman menuturkan, PKE dirancang sebagai instrumen pembiayaan yang komprehensif, selain menyediakan modal kerja kredit, juga dilengkapi dengan penjaminan dan asuransi, termasuk perlindungan terhadap risiko gagal bayar melalui asuransi kredit perdagangan.
“Dengan skema ini, pelaku usaha bisa lebih percaya diri masuk ke pasar ekspor karena risikonya juga kita bantu mitigasi,” kata dia.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Tony Prianto menjelaskan, PKE menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam mendorong ekspor sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Dikatakannya, dukungan melalui PKE mencakup berbagai aspek mulai dari pembiayaan, akses ke pasar non-tradisional, hingga penanganan hambatan yang dihadapi eksportir.
“PKE ini memang dirancang untuk mendukung pelaku usaha, baik yang sudah ekspor maupun yang baru akan masuk pasar global. Harapannya, ekspor kita semakin kuat dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Tony.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, yang juga hadir dalam acara itu menyebut tingginya serapan PKE di wilayahnya tidak terlepas dari kuatnya basis industri manufaktur, khususnya sektor makanan dan minuman yang menjadi kontributor utama ekspor.
“Industri manufaktur menyumbang 31% perekonomian Jawa Timur, dan sektor makanan-minuman menjadi yang terbesar. Ini yang mendorong ekspor kita terus tumbuh,” kata Emil.




