Tekanan Global Meningkat, Pemerintah Komitmen Percepat Transisi Energi

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menegaskan percepatan transisi energi ke sumber energi baru terbarukan (EBT) sebagai salah satu strategi utama menghadapi tekanan global dan mencapai kemandirian serta ketahanan energi. 

Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Wanhar Abdurrahim memaparkan, pengembangan sumber energi EBT kini tidak lagi sekadar alternatif. Menurutnya, EBT kini telah menjadi kunci dalam membangun sistem energi yang tangguh dan berdaulat.

Wanhar menuturkan, pemerintah mendorong percepatan pengembangan berbagai sumber energi, mulai dari tenaga surya, angin, hidro, panas bumi, hingga membuka peluang energi baru termasuk nuklir. Langkah ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus memperkuat industri dalam negeri.

"Selain menjaga pasokan, pengembangan energi terbarukan juga dinilai mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan lapangan kerja melalui pemanfaatan sumber daya lokal," kata Wanhar dalam acara Launching Electricity Connect 2026 di Jakarta pada Jumat (17/4/2026).

Wanhar menjelaskan, di tengah dinamika global seperti konflik geopolitik, krisis energi, dan perlambatan ekonomi dunia, sektor ketenagalistrikan diposisikan sebagai tameng untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kondisi global tersebut memicu volatilitas harga energi dan gangguan rantai pasok yang berdampak langsung pada perekonomian. Hal ini menuntut adanya ketahanan dan adaptasi yang lebih dari setiap negara. 

Baca Juga

  • Dubes UEA Temui Pimpinan MPR, Tindaklanjuti Kerja Sama EBT
  • Pembangkitan Energi Fosil Global Turun pada Maret 2026, Pasokan EBT Jadi Penopang
  • PLN Siap Pensiunkan 2.396 PLTD, Genjot Transisi ke EBT

"Dalam konteks tersebut, tantangan global semakin menegaskan pentingnya memperkuat kemandirian energi dan industrialisasi berbasis realisasi sebagai fondasi ketahanan nasional," kata Wanhar. 

Wanhar memaparkan, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No. 20/2025 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian ESDM tahun 2025–2029, pemerintah telah menetapkan indikator ketahanan energi melalui dua dimensi utama, yakni kemandirian dan ketahanan energi. 

Kemandirian energi diukur dari optimalisasi sumber daya domestik, peningkatan komponen dalam negeri, serta peran tenaga kerja lokal.

Sementara itu, ketahanan energi tecermin dari keandalan pasokan listrik, kecukupan cadangan energi, rasio elektrifikasi, efisiensi jaringan, hingga kemampuan sistem memenuhi standar keandalan.

"Selain itu, peningkatan produksi listrik dari energi baru terbarukan juga menjadi faktor penting dalam memastikan ketahanan energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan," jelasnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dubes: Arab Saudi konsisten menahan diri dalam konflik kawasan
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Cedera Achilles, Hugo Ekitike Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Satu Keluarga Tewas Terjebak Asap Kebakaran di Grogol Petamburan, Rumah Digembok dari Dalam
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Bukan untuk Kaum Mendang-Mending, Xiaomi Tegaskan Tak Akan Rilis Mobil Listrik Murah
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Saiful Mujani Dilaporkan ke Polisi Sebut Jatuhkan Prabowo , Suara Kritis atau Ancaman Negara?
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.