JAKARTA, KOMPAS.TV - Pendiri Lembaga Riset SMRC, Saiful Mujani dan Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi dilaporkan ke Bareskrim terkait dugaan penghasutan dan makar.
Akademisi Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Asfinawati, menyoroti adanya relasi kuasa dan ketimpangan dalam penegakan hukum.
Menurutnya, bagi masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan, suara menjadi satu-satunya alat untuk menyampaikan keresahan.
Asfinawati juga menilai, pernyataan kontroversial harus dilihat dalam konteks psikologis dan sosial.
“Kalau saya justru melihatnya begini, kenapa seorang seperti beliau itu, saya mau menjani, mengatakan hal seperti itu, apakah dia bodoh? Apakah dia nekat? Apakah dia memang kepingin masuk penjara? Kan pasti jawabannya enggak, enggak ada orang yang ingin masuk penjara. Jadi alam kebatinan kenapa orang ngomong itu, itu harus dilihat bahwa ada suatu hal yang frustasi dengan kondisi Indonesia,” katanya.
Di sisi lain, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ulta Levenia Nababan, mengingatkan adanya potensi ancaman terhadap stabilitas negara.
Ia menegaskan, pernyataan dari tokoh berpengaruh harus disampaikan dengan kehati-hatian.
“Saya tanya, Prof. Mujani orang kecil atau tidak? Beliau punya lembaga survei, beliau guru besar, beliau orang yang berpengaruh, suara beliau, makanya jadi seperti ini sekarang,” ujarnya.
Ulta juga menyoroti posisi sosial tokoh yang bersangkutan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses hukum tetap terbuka bagi semua pihak.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/uPAoXoLI5gw
#prabowo #kritik #saifulmujani
Penulis : Elisabeth-Widya-Suharini
Sumber : Kompas TV
- saiful mujani
- prabowo
- makar
- kritik
- kebijakan





