Bisnis.com, JAKARTA — Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menegaskan bahwa ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan sekadar proyeksi, melainkan telah mulai terlihat di sejumlah sektor industri.
Presiden KSPI Said Iqbal mengungkapkan, berdasarkan laporan serikat pekerja di tingkat pabrik, terdapat potensi PHK terhadap sekitar 9.000 buruh di sedikitnya 10 perusahaan.
“[PHK itu terjadi] terutama di sektor tekstil, garmen, plastik, otomotif, dan petrokimia. Ancaman tersebut diperkirakan terjadi dalam 3 bulan ke depan,” jelas Said Iqbal dalam keterangan resmi, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang mendorong potensi gelombang PHK tersebut. Pertama, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri non-subsidi yang mengikuti mekanisme pasar sehingga meningkatkan biaya produksi secara signifikan.
Kedua, lonjakan harga bahan baku impor akibat konflik global serta fluktuasi nilai tukar rupiah yang semakin membebani struktur biaya industri.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan dinilai cenderung melakukan langkah efisiensi dengan menekan biaya tenaga kerja, yang pada akhirnya berujung pada PHK.
Baca Juga
- Said Iqbal: KSPI Tak Bakal Terlibat Jadi Pengurus Satgas PHK
- Mengukur Risiko PHK Sektor Manufaktur
- Efek Domino Sudah Terasa, Bos Tekstil Peringatkan Risiko PHK
“Kalau biaya produksi naik dari dua sisi [BBM dan bahan baku] maka efisiensi pasti dilakukan. Dan biasanya yang dikorbankan adalah buruh,” kata Said Iqbal yang juga merupakan Presiden Partai Buruh.
Lebih lanjut, KSPI juga menyoroti indikasi perlambatan aktivitas industri. Data yang dihimpun menunjukkan sekitar 65% perusahaan tidak berencana merekrut karyawan baru, sedangkan 50% lainnya tidak akan melakukan ekspansi usaha dalam waktu dekat.
Adapun, dalam konferensi pers, KSPI bersama Partai Buruh menegaskan tidak akan ikut dalam perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 yang digelar di Monas. Rencananya, perayaan May Day di Monas bakal dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Said Iqbal menjelaskan bahwa KSPI bersama Partai Buruh akan menggelar rangkaian aksi peringatan May Day 2026 di depan Gedung DPR RI, sebelum dilanjutkan dengan kegiatan May Day Fest di Istora Senayan.
“KSPI dan Partai Buruh kembali menegaskan bahwa hanya akan melakukan aksi May Day pada 1 Mei 2026 di depan gedung DPR,” kata Said dalam konferensi pers daring.
Menurutnya, KSPI dan Partai Buruh tidak ikut ke dalam perayaan May Day di Monas lantaran dipandang lebih kepada aksi seremonial belaka. Sementara aksi yang digelar KSPI dan Partai Buruh berfokus pada penyampaian tuntutan konkret atas sejumlah janji pemerintah yang dinilai belum terealisasi.
“Perayaan di Monas lebih kepada seremonial,” tegas Said.





