Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menerima Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, di kediamannya di Menteng, Jakarta, Jumat (17/4).
Megawati didampingi Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah, serta Direktur Eksekutif Megawati Institute Hilmar Farid.
Hasto menyebut pertemuan yang berlangsung lebih dari satu jam itu membahas berbagai isu geopolitik, termasuk situasi di Timur Tengah serta peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-71.
"Ibu Megawati dan Dubes Ralf Beste membahas geopolitik termasuk situasi saat ini di Timur Tengah dan tentang Konferensi Asia Afrika (KAA Bandung) yang besok akan diperingati ke-71 tahun," kata Hasto.
Dubes Jerman Soroti Peran Bung KarnoDalam pertemuan tersebut, Dubes Ralf mengaku baru mengunjungi Bandung dan Museum KAA.
"Saya berkeliling untuk lebih mengenal Indonesia. Saya baru saja ke Bandung dan mengunjungi Museum KAA," kata Ralf.
Ia mengapresiasi peran Presiden pertama RI, Soekarno, dalam mendorong kebangkitan negara-negara Asia dan Afrika melalui KAA.
"Tergores sejarah kepeloporan Bung Karno dalam KAA tersebut. Menurut Dubes Jerman, pemikiran dan spirit KAA masih relevan," ujar Hasto.
Megawati Kenang Pengalaman di Forum InternasionalMenanggapi hal itu, Megawati menceritakan pengalamannya saat mendampingi Soekarno dalam Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok di Beograd, Yugoslavia, pada 1961, saat berusia 14 tahun.
Ia mengenang pertemuannya dengan sejumlah tokoh dunia seperti Jawaharlal Nehru dari India dan Gamal Abdel Nasser dari Mesir.
"Saat itu mereka saya panggil uncle (paman)," kata Megawati.
Menurut Basarah, dalam kesempatan itu Megawati juga memberikan sejumlah buku kepada Dubes Jerman, antara lain teks pidato Bung Karno saat KAA, pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa berjudul To Build The World A New, serta buku Lahirnya Pancasila.
Soroti Ancaman Krisis GlobalDalam pembahasan isu terkini, Megawati menekankan pentingnya mengantisipasi potensi krisis global.
Basarah menyebut Megawati turut membagikan pengalamannya saat menghadapi krisis ekonomi 1997.
"Ibu Megawati memaparkan bagaimana pemerintahannya saat itu berhasil menstabilkan nilai tukar rupiah, membayar utang luar negeri Indonesia, dan berhasil menyelesaikan krisis," kata Basarah.
"Ibu Megawati juga menceritakan pengalamannya yang tidak mudah menyelesaikan krisis multidimensi ketika menjadi Presiden Kelima RI dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan di BPPN hingga melunasi pinjaman ke IMF. Mengapa itu disampaikan? Karena perang terhadap Iran dan dampak pemblokiran Selat Hormuz menjadikan dunia dihadapkan pada krisis yang harus diantisipasi," lanjutnya.
Pertemuan ditutup dengan pertukaran cinderamata. Dalam suasana santai, Megawati juga sempat menyinggung tinggi badan Dubes Ralf saat sesi foto bersama.





