JAKARTA - Salah satu ujung tombak TNI dalam konflik Aceh adalah aktivitas intelijen yang berhasil masuk ke dalam lingkaran pusat kekuasaan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Anggota Kopassus Sersan Badri (nama samaran) menyamar masuk ke sarang musuh, meski harus bertaruh nyawa guna menumpas kelompok separatis tersebut.
"Saya pernah menyamar jadi tukang durian yang mengirim dagangan dari Medan ke Lhokseumawe," ujar Sersan Badri, Dikutip dari buku Koppasus untuk Indonesia karangan Iwan Santosa E.A Natanegara, Sabtu (18/4/2026).
Anggota Sandi Yudha Kopassus itu harus melewati pos penjagaaan dan pemeriksaan aparat selama perjalanan. Saat melintas, dirinya kerap diminta jatah durian.
"Saya beri dua buah durian justru dimarahi lalu ditempeleng. Katanya, kalau untuk GAM pasti saya memberi banyak. Di sini ada satu peleton anggota yang berjaga, mana cukup kalau cuma dua buah durian," katanya menirukan aparat tersebut.
Bukan tanpa alasan Badri melakukan penyamaran. Dengan situasi konflik saat itu, sulit untuk masuk ke dalam masyarakat Aceh yang trauma akibat konflik berkepanjangan. Sehingga, dirinya menyamar sebagai tukang buah Aceh perantauan.
Menjadi tukang buah membuat Badri leluasa untuk bergerak dari Medan, Sumatera Utara, Lhokseumawe di Aceh Utara untuk menjalankan bisnis buahnya yang mengantarnya masuk ke sarang GAM. Prosesnya sangat panjang untuk bisa mendapatkan kepercayaan GAM.




