Bill Gates Pilih Rekrut Orang Malas untuk Dipekerjakan, Alasannya Tak Terduga

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Pendiri Microsoft sekaligus miliarder dunia, Bill Gates, terkenal sebagai sosok yang vokal dan memiliki pandangan yang kuat terhadap bisnis maupun investasi. Fakta menarik yang belum banyak orang tahu, Gates ternyata memiliki perspektif unik dalam dunia kerja karena lebih memilih mempekerjakan pemalas.

Pernyataan Gates bukan tanpa alasan. Filantropis ini menilai orang malas bekerja justru mampu menemukan cara paling efisien untuk menyelesaikan pekerjaan yang sulit.

Baca Juga :
Pemerintah Siap Tanggung PPh 21 Sepanjang 2026, Cek Kriteria Karyawan dan Perusahaan yang Bebas Pajak
Gaji Tak Dipotong Pajak, Pekerja dan Industri Rasakan Manfaat PPh 21 DTP

"Saya memilih orang malas untuk melakukan pekerjaan berat karena orang malas akan menemukan cara mudah untuk melakukannya,” ungkap Gates dikutip dari AS USA pada Jumat, 17 April 2026. 

Kemalasan yang dimaksud Gates bukanlah sikap tidak peduli atau kurang komitmen. Sebaliknya, ia melihat perilaku para pemalas sebagai dorongan untuk menghindari pekerjaan yang tidak perlu dan berulang.

Ilustrasi pekerja
Photo :
  • U-Report

Dalam pandangannya, orang yang dianggap malas biasanya memiliki kecenderungan untuk menyederhanakan proses kerja. Mereka mencari cara tercepat dan paling efektif untuk menyelesaikan tugas, sehingga dapat menghemat waktu dan biaya.

Pendekatan ini sekaligus menjadi kritik terhadap budaya kerja yang selama ini terlalu menekankan jam kerja panjang dan produktivitas semu. Gates menegaskan, bekerja lebih lama tidak selalu berarti bekerja lebih baik tetapi yang penting adalah efisiensi dalam bekerja. 

"Tujuannya bukanlah untuk bekerja lebih banyak, tetapi untuk bekerja lebih baik,” tegas Gates.

Pandangan ini dianggap relevan di tengah dunia bisnis modern yang semakin menuntut inovasi. Alih-alih mengandalkan kerja keras tanpa arah, perusahaan kini dituntut untuk menciptakan sistem kerja yang lebih cerdas dan efisien.

Dengan cara pandang ini, orang dengan kekayaan bersih mencapai US$104,3 miliar ini menunjukkan bahwa produktivitas tidak selalu berasal dari kerja tanpa henti. Namun, pelaku usaha justru harus menyederhanakan proses dan menghilangkan hal-hal yang tidak perlu dilakukan para tenaga kerja.

Baca Juga :
BGN Sebut Dana MBG Rp117 Miliar per Hari Diserap 1,8 Juta Kelompok Miskin Ekstrem
Ngaku Siapkan Kado Buat Pekerja di Momen May Day, Menaker Yassierli: Banyak Surprise
80 Persen Pekerja Menolak AI di Kantor, Ada Apa?

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Astra Graphia (ASGR) Tebar Dividen Final Rp284 Miliar, Cair Bulan Depan
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Trending: Jawaban Rieke Diah Pitaloka Dijodohkan dengan Dedi Mulyadi
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Kebijakan PBB-P2 2026 Resmi Berlaku, Pemprov DKI Jakarta Gulirkan Beragam Insentif
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Penguatan BPJS Kesehatan, FKBI Dorong Sinergi Antar Lembaga
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Jamaah Haji 2026 Berangkat Sesuai Jadwal, Kesiapan Layanan Sudah 100 Persen
• 4 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.