Sebulan terakhir, Presiden Prabowo Subianto bersama jejeran kabinetnya aktif melakukan kunjungan diplomatik ke sejumlah negara mitra. Mulai dari Jepang, Korea Selatan, hingga terbaru Rusia dan Prancis.
Dalam kunjungannya bersama Prabowo ke Rusia misalnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut berhasil mengamankan kerja sama di bidang energi. Hal ini ia sampaikan setelah pertemuannya dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev.
“Kita mendapatkan hasil yang cukup baik, di mana kita bisa mendapatkan cadangan crude (minyak mentah) serta LPG,” kata Bahlil lewat siaran pers, Rabu, 15 April.
Bahlil memastikan, kerja sama energi Indonesia dengan Rusia ini tidak akan memicu dampak negatif terhadap perjanjian dagang Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, Indonesia terikat perjanjian dengan AS lewat Agreement on Reciprocal Tariff (ART).
“Jadi Indonesia boleh belanja di mana saja selama kita komitmen dengan orang-orang atau negara-negara yang telah kita ajak kerja sama,” kata Bahlil di Istana Merdeka Jakarta, Kamis, 16 April.
Di tengah upaya mengamankan stok energi dengan negara utama BRICS ini, Indonesia juga tengah mengamankan kerja sama bidang militer dengan negara blok Utara. Dalam pertemuannya dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris, Prabowo salah satunya membahas soal pengadaan alutsista dan penguatan industri petahanan.
Dalam periode yang sama, Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin juga bertolak ke Washington DC AS untuk bertemu dengan Menteri Urusan Perang AS Pete Hegseth. Dalam pertemuan ini, Indonesia dan AS meneken kerja sama bidang pertahanan lewat Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama atau Major Defence Cooperation Partnership (MDCP). Perjanjian itu meliputi modernisasi dan pengembangan kapasitas, pendidikan militer profesional, dan latihan serta kerja sama operasional.




