FAJAR, SEMARANG — Kepastian selamatnya Persiku Kudus dari jerat degradasi justru menghadirkan tekanan baru bagi PSIS Semarang. Di saat satu tim mulai bernapas lega, tim lain dipaksa menghadapi kenyataan pahit bahwa nasib mereka kini benar-benar berada di ujung tanduk.
Persiku memastikan diri aman setelah mengoleksi 27 poin dan bertahan di papan tengah klasemen Grup Timur Pegadaian Championship 2025/2026. Dengan selisih poin yang tidak mungkin lagi dikejar oleh tim di bawahnya, mereka terbebas dari tekanan di tiga laga tersisa. Situasi ini memberi ruang bagi tim asuhan Bambang Pujo Sumantri untuk bermain lebih lepas, bahkan mengejar posisi yang lebih baik di akhir musim.
Namun kondisi itu berbanding terbalik dengan PSIS. Tim asal Semarang itu justru semakin tertekan, terutama setelah hasil-hasil di papan bawah mulai mengerucut. Dalam kompetisi dengan margin poin yang tipis, setiap kemenangan menjadi krusial, dan setiap kegagalan berpotensi fatal.
Laga melawan Persiku di Stadion Wergu Wetan menjadi gambaran jelas situasi tersebut. PSIS memang sempat menunjukkan efektivitas yang mengesankan. Di tengah dominasi tuan rumah, mereka mampu mencuri keunggulan melalui Beto Goncalves pada menit ke-24. Gol itu lahir dari pengalaman dan naluri tajam seorang penyerang yang tahu bagaimana memanfaatkan peluang sekecil apa pun.
Keunggulan tersebut diperbesar oleh Rafinha menjelang akhir babak pertama. Skor 2-0 seharusnya menjadi modal kuat untuk mengamankan hasil. Namun dalam konteks musim yang penuh tekanan seperti ini, satu pertandingan tidak pernah cukup untuk menjamin keselamatan.
Masalah utama PSIS bukan hanya pada satu laga, melainkan konsistensi sepanjang musim. Cedera pemain kunci seperti Delvin Rumbino, Rizki Darmawan, dan Dani Ibrohim membuat kedalaman skuad mereka tergerus. Dalam kondisi seperti itu, pelatih dipaksa melakukan penyesuaian yang tidak ideal, termasuk memainkan pemain di luar posisi terbaiknya.
Sementara itu, tim-tim di sekitar zona degradasi mulai menunjukkan perlawanan. Persaingan tidak lagi tentang siapa yang bermain lebih baik, tetapi siapa yang lebih mampu bertahan dalam tekanan. Setiap poin menjadi sangat berharga, dan kesalahan sekecil apa pun bisa berujung pada konsekuensi besar.
Di sisi lain, Persiku justru sedang menikmati momentum positif. Catatan tak terkalahkan dalam enam pertandingan terakhir menunjukkan bahwa mereka berhasil menemukan ritme permainan. Dengan tiga kemenangan dan tiga hasil imbang, kepercayaan diri tim meningkat, membuat mereka berpotensi menjadi batu sandungan bagi lawan-lawannya di sisa musim.
Situasi ini membuat PSIS tidak punya banyak pilihan. Mereka harus menang di laga-laga berikutnya, termasuk menghadapi Persipura Jayapura yang juga dikenal sebagai tim dengan pengalaman besar di kompetisi nasional. Pertandingan seperti ini bukan hanya soal taktik, tetapi juga mentalitas.
Tekanan yang dihadapi PSIS saat ini bisa menjadi dua hal. Ia bisa menghancurkan kepercayaan diri tim, atau justru memicu kebangkitan. Dalam sepak bola, momen krisis sering kali menjadi titik penentu arah sebuah tim.
Jika mampu memanfaatkan pengalaman pemain seperti Beto Goncalves, serta menjaga disiplin permainan seperti yang ditunjukkan saat menghadapi Persiku, peluang untuk bertahan masih terbuka. Namun jika inkonsistensi terus berlanjut, ancaman degradasi bukan lagi sekadar bayangan.
Di fase akhir musim seperti sekarang, tidak ada ruang untuk kesalahan. Setiap pertandingan adalah final. Setiap gol bisa menjadi penentu nasib. Dan bagi PSIS Semarang, waktu untuk memperbaiki keadaan semakin menipis.





