Ada yang terasa mengkhawatirkan ketika membuka kolom komentar di media sosial hari ini. Komentar yang seringkali tanpa etika dan empati dilontarkan tanpa risih di kolom umum. Kata-kata kasar menjadi hal biasa, seolah tidak ada batas antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial. Padahal, ruang digital ini juga dikonsumsi oleh generasi muda yaitu mereka yang sedang belajar memahami cara berkomunikasi dan bersikap di ruang publik.
Guru, orang tua atau orang dewasa yang bertanggung jawab pasti memberi pelajaran yang baik pada generasi muda. Namun, generasi muda tidak hanya dibentuk oleh apa yang diajarkan, tetapi juga oleh apa yang mereka saksikan. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesantunan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap orang lain yang dulunya sakral, saat ini melebur dengan berbagai macam sajian dari berbagai media yang tidak selalu positif. Di sinilah pentingnya kehadiran teladan dalam kehidupan sehari-hari untuk melengkapi nilai-nilai yang mereka dapatkan dari forum-forum kebaikan.
Namun, belakangan ini, ruang publik justru semakin miskin figur teladan. Banyak orang tua merasa kecewa atas keadaan hari ini. Nilai-nilai kebaikan yang mereka tanamkan sejak dini seolah tiada berbekas. Seiring bertambahnya usia dan waktu kebersamaan dengan keluarga berkurang, generasi muda lebih banyak mendapat teladan dari luar lingkup kehidupannya. Bila tidak mampu memilih dan memilah, bisa jadi teladan buruk lebih dominan mempengaruhi perilaku mereka.
Dunia yang dihadapi remaja hari ini jauh melampaui batas rumah dan sekolah. Internet menghadirkan beragam contoh perilaku dalam satu genggaman. Sayangnya, tidak semua yang tampil di sana mencerminkan nilai yang patut ditiru. Di ruang digital, perhatian sering kali justru diberikan kepada hal-hal yang sensasional, kontroversi, ujaran keras, hingga perilaku yang melanggar norma. Ternyata, popularitas tidak selalu berjalan beriringan dengan integritas.
Situasi ini menjadi semakin kompleks ketika figur publik yang seharusnya menjadi rujukan justru menunjukkan hal sebaliknya. Sebagai contoh, tidak sedikit tokoh yang terlibat dalam perdebatan di berbagai ruang publik menyajikan serangan personal, kata-kata yang tidak pantas, atau sikap yang lebih mengedepankan pencitraan daripada keteladanan. Ruang publik pun berubah menjadi arena adu ego, bukan ruang pembelajaran yang sehat.
Yang sering terlupakan, semua itu tidak hanya disaksikan oleh orang dewasa. Anak-anak dan remaja juga melihat, menyerap, dan menafsirkan apa yang terjadi. Tanpa disadari, ruang publik telah menjadi ‘kelas liar’ bagi generasi muda. Dari sana, mereka belajar tentang bagaimana berbicara, bagaimana bersikap, dan bagaimana memandang orang lain.
Ketika generasi ini melihat bahwa ketenaran bisa diraih dengan cara-cara yang kasar atau manipulatif, maka nilai yang mereka tangkap bisa menjadi bias. Apa yang diajarkan di rumah dan sekolah berpotensi berbenturan dengan realitas yang mereka lihat setiap hari. Dalam kondisi seperti ini, kebingungan nilai menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Karena itu, tidak adil jika pembentukan karakter generasi muda sepenuhnya dibebankan kepada keluarga dan sekolah. Pendidikan nilai adalah tanggung jawab bersama. Keluarga dan sekolah memang fondasi utama, tetapi masyarakat, terutama para figur publik, memiliki peran besar dalam memperkuat atau justru merusak fondasi tersebut.
Setiap perilaku di ruang publik, sekecil apa pun, memiliki dampak yang lebih luas dari yang terlihat. Para pemimpin, tokoh masyarakat, dan figur publik perlu menyadari bahwa mereka tidak hanya berbicara kepada sesama orang dewasa, tetapi juga kepada generasi yang sedang belajar memahami dunia.
Di sisi lain, generasi muda juga perlu dibekali kemampuan untuk memilih, memilah dan menilai. Literasi digital dan literasi moral menjadi penting agar mereka tidak sekadar menjadi penonton, tetapi mampu berpikir kritis terhadap apa yang mereka konsumsi setiap hari.
Membangun generasi berakhlak tidak cukup dengan nasihat. Kita perlu memastikan bahwa dunia yang mereka hadapi juga menghadirkan contoh teladan publik yang layak ditiru. Sebab masa depan mereka tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan, tetapi juga sikap orang-orang yang mereka saksikan setiap hari.





