Harapan Baru, Pasien Diabetes Tak Lagi Harus Minum Obat Seumur Hidup

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Selama ini, diabetes dipahami sebagai diagnosis penyakit seumur hidup. Saat orang terdiagnosis diabetes, berarti ia harus mengonsumsi obat seumur hidup agar kondisi tubuh tetap terkontrol sehingga risiko komplikasi bisa dihindari.

Narasi yang berkembang pun mengungkapkan bahwa diabetes tidak bisa disembuhkan. Diabetes hanya bisa dikendalikan dan dikontrol lewat terapi medis dan perubahan gaya hidup.

Namun, ilmu pengetahuan dan riset telah berkembang. Sejumlah studi menunjukkan bahwa pasien diabetes, khususnya diabetes melitus tipe 2, tidak harus mengonsumsi obat seumur hidup. Pada kondisi tertentu, pasien bisa mencapai remisi, yakni keadaan saat gula darah bisa terkontrol tanpa bantuan obat.

Baca JugaDiabetes Juga Terjadi pada Kucing dan Anjing
Baca JugaDiabetes Menjadi Penyakit Kronis dengan Pertumbuhan Tercepat di Dunia

Hal itu disampaikan oleh Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia yang juga Guru Besar Bidang Ilmu Endokrin, Metabolik, dan Diabetes Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Em Yunir, dalam acara diskusi media yang diselenggarakan Kalbe Farma di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

”Diabetes itu bukan penyakit yang cuma sebulan atau dua bulan. Penyakit ini seumur hidup. Namun, sekarang sudah ada penelitian bahwa diabetes bisa sembuh. Istilah sembuh ini disebut sebagai remisi,” katanya.

Ia mengatakan, remisi terhadap diabetes bukan berarti penyakit benar-benar hilang. Pasien tetap memiliki kerentanan untuk kembali mengalami diabetes. Akan tetapi, kondisi pasien yang sudah dinyatakan remisi berarti sudah terkendali tanpa perlu lagi mengonsumsi obat.

Peluang remisi semakin besar pada pasien dengan temuan diabetes pada tahap awal. Pada fase tersebut, fungsi tubuh terutama dalam mengatur kadar gula darah masih bisa diperbaiki.

Penelitian mengenai kondisi remisi pada pasien diabetes tersebut salah satunya dilakukan lewat program remisi diabetes di Thailand. Dikutip dalam artikel di laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang terbit pada 26 Februari 2026, program remisi diabetes di Thailand telah menunjukkan keberhasilan diabetes terkendali tanpa obat.

Diabetes itu bukan penyakit yang cuma sebulan atau dua bulan. Penyakit ini seumur hidup. Namun sekarang sudah ada penelitian bahwa diabetes bisa sembuh.

Pengujian dilakukan pada 106 orang pada periode 2020-2021. Dari jumlah itu, sekitar 50 persen mampu mempertahankan kondisi remisi hingga satu tahun. Pengujian serupa dilakukan di komunitas yang lebih luas di Thailand. Hasilnya, sebagian pasien bisa mencapai kondisi remisi diabetes.

Baca JugaObat untuk Obesitas, antara Kebutuhan Riil dan Kebutuhan Penampilan
Baca JugaKemajuan Pengobatan Diabetes Melitus

Dalam program remisi diabetes, pasien mendapatkan panduan secara ketat dalam mengatur pola makan dan olahraga harian. Pendampingan dilakukan secara intensif dalam periode tertentu.

Konsep remisi pada program tersebut mengacu pada kadar HbA1c yang di bawah 6,5 persen tanpa konsumsi obat minimal selama tiga bulan. Program tersebut menyasar pada pasien diabetes tipe 2 yang baru terdiagnosis.

Selain itu, Yunir menuturkan, penelitian lain juga dilakukan di Taiwan. Sejumlah pasien diabetes saat awal diagnosis langsung mendapatkan terapi insulin. Dari pemantauan yang dilakukan, kondisi gula darah pasien bisa kembali normal setelah terapi diberikan selama tiga bulan.

Namun, kondisi itu tidak berlangsung secara permanen. Pada beberapa kasus, kadar gula darah kembali meningkat akibat gaya hidup yang turut berubah.

Perubahan gaya hidup

Yunir mengatakan, kunci keberhasilan untuk mencapai target remisi diabetes yakni perubahan gaya hidup secara berkelanjutan. Pengaturan pola makan yang ketat serta aktivitas fisik yang rutin menjadi faktor penentu keberhasilan dalam jangka panjang.

“Kalau perilakunya kembali lagi tidak diatur, ya, siap-siap, gula darahnya akan naik lagi dan tidak terkontrol. Harus bisa disiplin jangka panjang. Kalau tidak, remisi sulit dipertahankan,” tuturnya.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, gaya hidup modern di masyarakat menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya kasus diabetes di Indonesia. Bahkan, Indonesia saat ini termasuk dalam lima besar dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak dengan jumlah mencapai 20,4 juta kasus.

Baca JugaDiabetes Makin Membebani Biaya Jaminan Kesehatan
Baca JugaKonsumsi Lemak Orang Indonesia Naik Dua Kali Lipat

Data pun menunjukkan, angka diabetes di Indonesia naik hampir 37 persen dari 2018 ke 2023. Di lain sisi, masih banyak kasus diabetes yang belum terdiagnosis. Diperkirakan lebih dari 70 persen kasus diabetes tidak terdiagnosis.

Nadia menyebutkan, gaya hidup yang meningkatkan risiko diabetes, antara lain, konsumsi makanan berisiko yang tinggi gula, garam, dan lemak; merokok, kurangnya aktivitas fisik, kurang makan buah dan sayur, serta konsumsi alkohol.

Penyakit diabetes harus menjadi perhatian serius. Diabetes dapat menjadi penyebab disabilitas. Orang yang mengalami diabetes berisiko tinggi mengalami kerusakan pada pembuluh darah serta organ tubuh lainnya. Dampaknya bisa sangat luas dan serius, termasuk risiko gagal ginjal.

Sejalan dengan peningkatan kasus diabetes, kasus gagal ginjal juga meningkat secara signifikan. Dalam satu tahun, pembiayaan untuk gagal ginjal dari program Jaminan Kesehatan Nasional melonjak hingga 478 persen.

Menurut Nadia, pola konsumsi masyarakat yang tidak sehat menjadi pintu masuk dari berbagai penyakit tersebut. Konsumsi gula di masyarakat cukup tinggi, sementara aktivitas fisik juga rendah.

Pemerintah telah berupaya untuk mengendalikan penyakit tidak menular, termasuk diabetes di masyarakat lewat berbagai cara. Deteksi dini juga digencarkan melalui program cek kesehatan gratis.

Deteksi dini dinilai penting dalam pengendalian diabetes agar kasus bisa segera ditangani. Selain itu, edukasi juga diperkuat yang salah satunya lewat penerapan label nutrisi atau nutrilevel pada makanan.

Serial Artikel

Diabetes Bisa Muncul di Semua Rentang Usia

Selama ini diabetes dianggap penyakit degeneratif yang muncul seiring penuaan. Kini, diabetes bisa dideteksi dari kanak-kanak, remaja, usia kerja, hingga lansia.

Baca Artikel

“Mengenai level gizi, nutri level ini sebagai cara untuk mengedukasi masyarakat, untuk bisa tahu berapa banyak kandungan gula dalam minuman yang dikonsumsi. Kita tahu gula ini berkaitan erat dengan obesitas dan diabetes,” kata Nadia.

Upaya pengendalian diabetes membutuhkan langkah komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak. Diabetes tidak bisa terkendali hanya dengan pengobatan dan terapi. Pencegahan dan perubahan gaya hidup di masyarakat juga harus berjalan dengan baik. Kebijakan pun diharapkan bisa mengakomodasi upaya pengendalian diabetes secara sistematis.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menkomdigi Sebut Jurnalis Senior Berperan Penting Jaga Standar Jurnalistik
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Studi: Pertengkaran Kakak Adik Ternyata Bisa Mempererat Hubungan saat Dewasa
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Pep Guardiola Yakin Manchester City Kembali Kalahkan Arsenal
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
6,98 Ton Ikan Sapu-Sapu Ditangkap di Jakarta, Mau Diapakan Setelahnya?
• 11 jam laluliputan6.com
thumb
Menteri Hukum Supratman Kebut RUU Kewarganegaraan demi Lindungi Pemain Naturalisasi
• 6 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.