Gresik, tvOnenews.com – Pelemahan nilai tukar rupiah di tengah gejolak geopolitik global tidak melulu menjadi ancaman. Pemerintah justru melihat kondisi ini sebagai momentum emas bagi eksportir nasional untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di kancah internasional.
Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara DJPPR Kementerian Keuangan Tony Prianto menilai, perubahan lanskap global akibat konflik dan pergeseran geopolitik membuka ruang ekspansi ke negara-negara non-tradisional.
“Memang intinya kalau dari pemerintah, kita melihat ya just in time aja sih, sebetulnya justru ada PKE ini, support kepada pelaku usaha ekspor untuk negara-negara non-tradisional, itu kalau sekarang sudah terjadi perang, kemudian geopolitik juga shifting, itu justru memberikan peluang bagi pengusaha saya yakin sih ya,” katanya dalam media briefing di Gresik, Jawa Timur, dikutip Sabtu (18/4/2026).
Secara alami, pelemahan rupiah membuat harga produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global. Barang-barang nasional terasa lebih murah bagi pembeli luar negeri, sehingga berpotensi mendorong lonjakan permintaan.
Namun di balik peluang tersebut, tantangan tidak kalah besar mengintai. Industri dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku impor harus menghadapi lonjakan biaya produksi akibat kurs yang melemah.
Kondisi ini berisiko menekan margin keuntungan jika tidak diantisipasi dengan strategi bisnis yang matang. Biaya bahan baku yang terus meningkat dapat menjadi beban serius, terutama bagi sektor manufaktur.
Untuk merespons tekanan tersebut, pemerintah mengerahkan instrumen dukungan melalui program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) yang dijalankan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.
Program ini dirancang untuk membantu eksportir menembus pasar baru di luar tujuan tradisional, sekaligus memperkuat ketahanan ekspor nasional di tengah ketidakpastian global. Dukungan yang diberikan mencakup pembiayaan modal kerja, penjaminan, hingga mitigasi risiko bisnis.
Tony menegaskan bahwa disrupsi global seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman semata, melainkan peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekspor.
“Jadi kalau kami melihatnya yaitu disrupsi itu harusnya kita lihat sebagai sebuah hal yang positif bagi kita, bagi eksporter kita dan diharapkan di dunia tetap bisa kita leverage ya situasi ini dengan justru meningkatkan jumlah ekspor ya dan mungkin tumbuhnya baru,” tutupnya. (agr)




