Penderita Diabetes di Indonesia Tahun 2026 Masih Tinggi, Pendekatan Penangananya Dinilai Perlu Dievaluasi

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Indonesia disebut masih berada di peringkat kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak pada tahun 2026. Jumlahnya mencapai puluhan juta jiwa berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF).

Untuk itu, pendekatan penanganan diabetes tipe 2 di Indonesia dinilai perlu dievaluasi. Hal ini diungkap dokter sekaligus pengembang ekosistem kesehatan terintegrasi, Kelvin Candiago bertepatan dengan momentum Hari Diabetes Nasional yang jatuh pada 18 April.

Baca Juga :
Mengenal Line Dance, Olahraga Sederhana yang Efektif Jaga Jantung Hingga Kurangi Stres
Tingkat Kematian Akibat Penyakit Tidak Menular Masih Tinggi, Sistem Kesehatan Diminta Bertransformasi

Menurutnya, kondisi ini dirasa menjadi alarm serius bagi sistem kesehatan nasional. Ia menyoroti bahwa selama ini penanganan masih didominasi pendekatan medicine-centric, yang lebih berfokus pada penggunaan obat.

Berangkat dari pengalaman pribadi mendampingi sang ayah yang mengidap diabetes dengan komplikasi jantung, serta praktik klinisnya menangani ribuan pasien, Kelvin melihat bahwa pengendalian gula darah saja tidak cukup tanpa perbaikan sistem tubuh dan gaya hidup.

"Pendekatan medicine-centric sangat penting untuk stabilisasi kondisi awal, namun secara desain belum ditujukan untuk perbaikan pola hidup jangka panjang. Dalam penanganan diabetes yang berkelanjutan, medikasi seharusnya diposisikan sebagai jembatan, bukan tujuan akhir," kata dia, dikutip Sabtu, 18 April 2026.

Ia menegaskan, pendekatan tersebut perlu dilengkapi dengan strategi yang lebih komprehensif. "Kita membutuhkan kombinasi yang terstruktur antara medikasi, nutrisi dan monitoring," katanya.

Sebagai solusi, Kelvin memperkenalkan kerangka metodologis bernama Protokol 3R dalam penanganan diabetes tipe 2. Metode ini terdiri dari tiga tahapan utama, yakni Road to Rescue (penyelamatan), Road to Reverse (pembalikan), dan Road to Remission (remisi).

Tahap pertama berfokus pada stabilisasi cepat kadar gula darah yang fluktuatif. Selanjutnya, tahap kedua menitikberatkan pada perbaikan kondisi metabolik tubuh melalui perubahan gaya hidup dan intervensi klinis terukur, dengan target menurunkan kadar HbA1c hingga normal.

Sementara itu, tahap terakhir merupakan fase di mana pasien mampu mempertahankan kadar HbA1c di bawah atau sama dengan 6,5 persen dalam periode tertentu, baik dengan atau tanpa konsumsi obat.

Protokol ini disebut telah diimplementasikan melalui ekosistem layanan kesehatan terintegrasi, mGanik. Berdasarkan data internal sejak 2023, sekitar 500 pasien diabetes telah mencapai tahap reverse melalui pendekatan tersebut.

Baca Juga :
Pemilik Golongan Darah Ini Waspada, Ternyata Paling Rentan Kena Diabetes
Puasa Jadi Momen Reset Tubuh, Bisa Bantu Cegah Diabetes
Waspadai Kaki Mati Rasa, Bisa Jadi Awal Komplikasi Berat Penyakit Diabetes

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkab Sampang sediakan aplikasi Lapor MBG
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Menko Pangan Tekankan Pengelola SPPG Prioritaskan Misi Gizi Nasional daripada Keuntungan
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Momen Prabowo Tiba-Tiba Panggil Prajurit TNI Pembaca Doa saat Retret Ketua DPRD
• 17 menit lalurctiplus.com
thumb
Ketua Ombudsman Ditangkap, Komisi II DPR Sampaikan Permintaan Maaf ke Publik
• 11 jam lalueranasional.com
thumb
Update Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Sabtu, 18 April 2026: Didominasi Hujan Ringan!
• 7 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.