Harga Avtur Naik Tajam, Pariwisata Nasional Hadapi Tekanan Baru

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dan Iran tak hanya berdampak pada penerbangan internasional yang melewati wilayah tersebut, tetapi juga mulai memengaruhi penerbangan domestik. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang berkepanjangan memicu kenaikan harga avtur global yang berimbas pada melambungnya harga tiket pesawat, termasuk di Indonesia. Dampaknya kini meluas ke sektor pariwisata.

Pada 1 April 2026, harga bahan bakar pesawat melonjak hingga lebih dari 70 persen, baik untuk penerbangan internasional maupun domestik. Maret 2026, harga terendah avtur penerbangan internasional berada pada level 74,2 sen AS per liter. Kini, harganya melejit 80,3 persen menjadi 133,8 sen AS per liter. Demikian pula harga avtur untuk penerbangan domestik. Di Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, harga avtur naik dari Rp 13.656,51 per liter menjadi Rp 23.551,08 per liter. Artinya, ada kenaikan hingga 72,5 persen (Kompas.id, 1/4/2026).

Apalagi, jika dibandingkan dengan harga avtur April tahun lalu, terjadi kenaikan yang lebih tinggi lagi, yakni mencapai 82,3 persen. Padahal, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta per April dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren yang cenderung menurun, dari Rp 14.608,13 per liter tahun 2022 menjadi Rp 12.921,93 per liter tahun 2025.

Konflik menciptakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global, yang mendorong lonjakan harga minyak mentah. Karena avtur adalah turunan minyak bumi, kenaikan harga minyak mentah secara langsung mendongkrak biaya produksi avtur.

Industri penerbangan tertekan            

Kenaikan harga avtur yang drastis tentu membuat industri penerbangan tertekan jika tidak dilakukan penyesuaian. Pasalnya, industri penerbangan sangat bergantung pada bahan bakar avtur, sehingga gejolak harga minyak global langsung terasa dampaknya. Komponen avtur menyumbang sekitar 30-40 persen dari seluruh biaya operasional. Mau tak mau, maskapai akan menyesuaikan biaya operasionalnya, termasuk harga tiket pesawat, yang diperkirakan bisa naik hingga 30-35 persen.

Di tengah lonjakan harga avtur paling tidak ada dua opsi yang direkomendasikan Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA). Opsi pertama, harga tiket dijual pada tarif batas atas (TBA) dan penyesuaian biaya tambahan (fuel surcharge). Jumlah penerbangan dikurangi pada rute-rute dengan okupansi atau tingkat keterisian (load factor) rendah.

Adapun opsi kedua, harga tiket dijual pada TBA dengan menaikkan fuel surcharge yang disesuaikan dengan persentase kenaikan harga avtur. Kedua opsi tersebut dilakukan untuk mencapai titik impas (break-even point) guna mencegah kerugian (Kompas.id, 1/4/2026).

Baca JugaHarga Avtur Melejit hingga 80 Persen, Harga Tiket Pesawat Bakal Melambung

Merespons dampak kondisi pasokan energi global pada industri penerbangan ini, pemerintah pada 6 April 2026 mengeluarkan sejumlah kebijakan, antara lain dengan memberikan subsidi PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 11 persen untuk tiket ekonomi domestik, penerapan fuel surcharge maksimal 38 persen dengan target kenaikan harga tiket final terkendali di angka 9 hingga 13 persen, serta membebaskan bea masuk suku cadang pesawat.

Pemerintah juga mengucurkan subsidi sebesar Rp 2,6 triliun dalam dua bulan untuk menahan lonjakan harga tiket akibat kenaikan biaya avtur. Kebijakan yang akan di evaluasi setiap dua bulan ini bertujuan menjaga stabilitas harga tiket di tengah kenaikan biaya operasional. Bantalan fiskal tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan sektor pariwisata.

Menjaga pariwisata domestik

Bagimanapun, sebagai negara kepulauan, transportasi udara menjadi jembatan konektivitas antardaerah yang sangat dibutuhkan. Selain untuk percepatan pemerataan pembangunan, juga dibutuhkan untuk pengembangan sektor pariwisata. Apalagi, Indonesia sedang gencar-gencarnya mempromosikan destinasi pariwisata prioritas.

Setelah lima Destinasi Super Prioritas, yaitu Danau Toba (Sumatera Utara), Candi Borobudur (Jawa Tengah/DI Yogyakarta), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), dan Likupang (Sulawesi Utara), menyusul destinasi prioritas lainnya. Di antaranya,  Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Tanjung Lesung (Banten), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Morotai (Maluku Utara), Raja Ampat (Papua Barat Daya), dan Desa Adat Wae Rebo/Sumba (Nusa Tenggara Timur).

Di samping itu, Jakarta Raya (Greater Jakarta), Bali, dan Kepulauan Riau juga menjadi Destinasi Pariwisata Prioritas Penguatan/Regeneratif. Ketiga wilayah tersebut menjadi pintu masuk utama sekitar 76 persen wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Selama periode libur dan cuti bersama 13–29 Maret 2026, Kementerian Perhubungan mencatat pergerakan perjalanan menuju 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 3 Destinasi Regeneratif mencapai 12,77 juta perjalanan, atau tumbuh 18,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, harga avtur April 2026 di bandara-bandara tujuan pariwisata prioritas tersebut terpotret bergerak naik di atas Rp 22.000 per liter dengan rata-rata Rp 24.859 per liter. Harga avatar di Bandara Sultan Babullah (Maluku Utara) tercatat paling tinggi di antara destinasi prioritas lainnya, yakni Rp 25.621,26 per liternya.

Kondisi ini tercermin dari harga tiket pesawat menuju Ternate dari Jakarta yang terpantau melambung tinggi, dari biasanya di kisaran Rp 2,5 juta meroket menjadi kisaran Rp 4 juta. Demikian pula tiket pesawat ke Labuan Bajo dari Bandara Juanda Surabaya. Biasanya rata-rata di kisaran Rp 1,5 juta, kini sudah mendekati Rp 2 juta.

Kenaikan harga tiket pesawat ke lokasi-lokasi destinasi pariwisata prioritas tentu menjadi kendala pertumbuhan sektor pariwisata yang secara total memberikan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 3,9 persen hingga 4 persen pada tahun 2024 hingga kuartal I 2025.

Kontribusi kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) jauh lebih dominan dibanding wisatawan mancanegara (wisman). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Desember 2025, tercatat 105,98 juta perjalanan wisnus dibandingkan 1,41 juta kunjungan wisman, atau menunjukkan rasio lebih dari 70 berbanding 1 (70:1). Hal ini menegaskan wisatawan nusantara adalah tulang punggung pariwisata domestik.

Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan kontribusi pariwisata yang didorong oleh pergerakan Wisnus, dengan estimasi sumbangsih pariwisata mencapai Rp 904,9 triliun - Rp 1.015 triliun pada 2024.

Apalagi, jika dilihat dari data jumlah kunjungan wisnus, setelah turun digempur Pandemi Covid-19 tahun 2020, trennya kembali menguat hingga tahun 2022 sudah kembali di angka sebelum pandemi, yaitu 734,86 juta kunjungan. Kunjungan wisnus terus meningkat di tahun 2023, bahkan jumlah perjalanan tahun 2025 mencapai 1,2 miliar perjalanan. Angka ini meningkat 17,55 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar 1,02 miliar perjalanan.

Tren positif kunjungan wisata ini harus terus dipertahankan keberlangsungannya di tengah tantangan gejolak geopolitik di Timur Tengah. Oleh karena itu, insentif fiskal dari hulu hingga hilir serta menjaga keseimbangan antara maskapai dan masyarakat harus terus dijaga supaya minat masyarakat untuk berwisata terus tumbuh. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harapan Baru, Pasien Diabetes Tak Lagi Harus Minum Obat Seumur Hidup
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Bhayangkara Presisi Lampung FC Bangkit dan Kalahkan PSIM Yogyakarta 2-1 Usai Tertinggal Lebih Dulu
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Siswa SDN Cibilik Antusias Ikuti Edukasi Lingkungan oleh MNC Peduli dan MNC Tourism
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Geruduk YLBHI, Jagara: Jangan Hanya Bela yang Viral, Rakyat Kecil Juga Butuh
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Foto: Serunya Nobar Film Ghost In The Cell bersama kumparan di The Park Pejaten
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.