Bisnis.com, JAKARTA — Dunia usaha semakin tertekan pada tiga bulan pertama 2026. Pada saat yang sama, industri manufaktur yang ekspansi justru tak serap tenaga kerja. Pelaku usaha pun mengharapkan intervensi nyata dari pemerintah.
Tekanan dunia usaha tercermin dari Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) terbaru dari Bank Indonesia. SKDU Bank Indonesia menunjukkan nilai saldo bersih tertimbang (SBT) kegiatan usaha sebesar 10,11% pada kuartal I/2026, lebih rendah dari 10,61% pada kuartal IV/2025.
Bahkan, apabila dilihat data historis lebih jauh, ini menjadi perlambatan ketiga beruntun dalam tiga kuartal terakhir.
Periode
Nilai SBT (%)
Kuartal I/2025
7,63
Kuartal II/2025
11,70
Kuartal III/2025
11,55
Kuartal IV/2025
10,61
Kuartal I/2026
10,11
Kuartal II/2026*
14,80
*Data prakiraan
Sumber: Bank Indonesia
Baca Juga
- Industri Manufaktur Ekspansi tapi Tak Serap Tenaga Kerja
- Mengukur Risiko PHK Sektor Manufaktur
- PMI Manufaktur Diproyeksi Tetap Ekspansif, Daya Beli Jadi Penopang
Kabar baiknya, industri manufaktur masih mengalami ekspansi (>50%). Prompt Manufacturing Index (PMI) dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa kinerja manufaktur ekspansi di level 52,03% pada kuartal I/2026, bahkan naik dari periode sebelumnya sebesar 51,86%.
Hanya saja, peningkatan produksi ternyata tidak diikuti oleh penyerapan tenaga kerja. PMI Bank Indonesia menunjukkan indeks jumlah tenaga kerja masih berada di zona kontraksi dengan indeks 48,76% pada kuartal I/2026.
Bahkan, jika ditarik ke belakang maka tampak indeks jumlah tenaga kerja selalu berada di zona kontraksi (<50%) sejak kuartal II/2025.
Periode
Indeks Jumlah Tenaga Kerja (%)
Kuartal I/2025
50,49
Kuartal II/2025
48,75
Kuartal III/2025
48,70
Kuartal IV/2025
48,80
Kuartal I/2026
48,76
Kuartal II/2026*
49,49
*Data prakiraan
Sumber: Bank Indonesia
Fenomena tersebut sejalan dengan hasil SKDU Bank Indonesia, yang menunjukkan kegiatan usaha industri pengolahan terindikasi meningkat: SBT kegiatan usaha industri pengolahan mencapai 1,46% pada atau lebih tinggi dari 1,18% pada kuartal I/2026, lebih tinggi dari 1,18% pada kuartal IV/2025.
Hanya saja dari sisi ketenagakerjaan, tingkat penggunaan tenaga kerja industri pengolahan pada justru memburuk dan berada di fase kontraksi, dengan SBT sebesar -0,47% (lebih rendah dari periode sebelumnya di -0,34%).
Kombinasi TekananPelaku usaha hingga ekonom melihat fenomena tekanan dunia usaha pada kuartal I/2026 ini merupakan kombinasi sejumlah faktor, antara lain daya beli masyarakat yang belum pulih hingga tekanan eksternal dari ketidakpastian global.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menyoroti pelemahan kegiatan usaha pada kuartal I/2026, padahal ada momen perayaan hari besar keagamaan seperti Imlek hingga Lebaran serta musim panen. Apalagi, pelemahan tersebut melanjutkan tren yang terjadi dalam dua kuartal sebelumnya.
“Ini memberi sinyal bahwa mesin pertumbuhan di level usaha memang masih hidup tetapi, tenaganya tidak sekuat sebelumnya,” jelas Josua kepada Bisnis, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, pelemahan tersebut merupakan kombinasi dari empat perkembangan. Pertama, kualitas permintaan domestik belum merata: meski konsumsi awal tahun masih cukup baik, namun daya beli rumah tangga kelas menengah bawah masih tertahan sehingga tidak semua sektor menikmati permintaan yang kuat.
Kedua, korporasi masih sangat berhati-hati dalam ekspansi. Pelaku usaha cenderung menahan ekspansi ketika tingkat penjualan relatif stagnan dan lebih banyak memanfaatkan dana internal daripada menambah pembiayaan baru.
Ketiga, ketidakpastian global masih tinggi, baik dari sisi geopolitik, perang dagang, maupun tekanan rantai pasok. Akibatnya, keyakinan usaha cenderung menurun dan perusahaan lebih defensif dalam mengambil keputusan.
Keempat, yang menurut Josua menjadi poin penting, yaitu perlambatan kegiatan usaha bukan terutama karena akses pembiayaan yang macet. Dia mencontohkan, SKDU memperlihatkan pelaku usaha menilai akses kredit perbankan lebih mudah pada kuartal I/2026, sementara kapasitas produksi terpakai juga meningkat.
“Jadi masalah utamanya lebih pada kehati-hatian dunia usaha, penjualan yang tidak sekuat harapan, penurunan likuiditas dan rentabilitas dibanding kuartal sebelumnya, serta kenaikan biaya bahan baku dan biaya operasional yang menekan margin,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, dia pun tidak heran apabila kinerja manufaktur masih ekspansi namun tidak menyerap tenaga kerja. Dalam konteks ini, sambungnya, dunia usaha masih ekspansi, tetapi ekspansinya makin selektif, makin hati-hati, dan makin sensitif terhadap tekanan biaya serta ketidakpastian eksternal.
Dia mengambil contoh PMI manufaktur edisi Maret 2026 dari S&P yang menunjukkan bahwa justru terjadi penurunan output dan pesanan baru, disertai tekanan harga bahan baku dan gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah.
“Dalam situasi seperti itu, perusahaan cenderung memilih menahan rekrutmen dan memperketat biaya, meski secara triwulanan aktivitas produksi masih berada di zona ekspansi,” ungkapnya.
Dia pun menyimpulkan bahwa masalahnya tidak satu namun merupakan gabungan antara efisiensi perusahaan, kehati-hatian ekspansi, daya beli yang belum sepenuhnya pulih, dan ketidakpastian eksternal yang kembali menekan kepercayaan pelaku usaha.
“Pesannya, ekonomi usaha Indonesia pada awal 2026 belum masuk fase kontraksi, tetapi kualitas ekspansinya sedang melemah. Produksi masih bisa tumbuh, namun tidak otomatis menciptakan pekerjaan. Kegiatan usaha masih meningkat, tetapi lajunya melambat karena permintaan belum merata, dunia usaha masih defensif, dan tekanan global kembali naik,” ungkap Josua.
Senada, Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet juga menekankan permasalahan dunia usaha ada banyak.
Dari sisi permintaan misalnya, daya beli belum benar-benar pulih. Dia melihat bahwa kelas menengah jumlahnya berkurang sekitar 10 juta orang sejak 2019 mulai terasa dampaknya ke permintaan.
Laporan Mandiri Institute memang menunjukkan bahwa kontribusi nilai konsumsi kelas menengah dan kelas menengah rentan terus menurun: dari 84% pada 2019 menjadi 81,2% pada 2025 alias turun 2,8 poin persentase.
Dari eksternal, sambungnya, tekanan juga belum reda: permintaan ekspor tidak sekuat sebelumnya, sementara biaya, terutama energi, mulai naik lagi sehingga pelaku usaha cenderung menahan diri.
Akibatnya, meski likuiditas di perbankan melimpah namun permintaan kredit justru melemah, pada Februari 2026, pertumbuhan kredit perbankan ke sektor riil mencapai 9,37% atau melambat dari bulan sebelumnya (9,96%).
Pada akhirnya, menurut Yusuf, ketidakpastian permintaan dari konsumen ke depannya belum membuat pelaku usaha yakin melakukan ekspansi dengan membuka lowongan baru. Ekspansi PMI, sambungnya, sekadar cerminan dari peningkatan produktivitas lewat efisiensi bukan ekspansi.
“Kalau dua rilis ini dibaca bareng, kesimpulannya cukup terang: ekonomi masih tumbuh, tapi dorongannya sempit. Produksi naik, tapi tidak menciptakan banyak pekerjaan. Dunia usaha tetap ekspansi, tapi dengan kehati-hatian tinggi,” ungkap Yusuf kepada Bisnis, Jumat (17/4/2026).
Karyawan di pabrik tekstil.
Perlu Intervensi PemerintahWakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang mengamini bahwa kombinasi lemahnya daya beli hingga tekanan eksternal membuat pelaku usaha mengambil sikap wait and see alias ragu-ragu melakukan ekspansi.
Sarman mengungkapkan bahwa Kadin selalu mendorong pemerintah agar mampu menjaga daya beli masyarakat. Dia pun berharap otoritas memperluas kebijakan yang selama ini dinilai sudah cukup mendorong daya beli masyarakat.
Dia mencontohkan program padat karya di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Perhubungan turut mendongkrak daya beli masyarakat di desa karena ikut terserap dalam proyek-proyek pembangunan seperti drainase hingga irigasi.
“Mungkin lebih diperluas lagi [program padat karya], tidak hanya di Kementerian PU atau Kementerian Perhubungan tapi juga kementerian lain,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (17/4/2026).
Sarman turut mendorong pemberian program bantuan sosial yang lebih tepat sasaran dan tetap waktu. Dia juga mengusulkan keberlanjutan program magang nasional.
Di samping itu, Kadin menilai tekanan eksternal dari ketidakpastian geopolitik global justru membuat mengubah pola konsumsi masyarakat. Menurut Sarman, kelas menengah akan cenderung menahan investasi seperti pembelian properti atau mobil di tengah ketidakpastian ekonomi.
Perilaku konsumen tersebut akhirnya juga mempengaruhi pelaku usaha: jika permintaan melemah maka dunia usaha juga cenderung ragu-ragu melakukan ekspansi.
Belum lagi perang di Timur Tengah mengganggu jalur logistik perdagangan global hingga menekan nilai tukar rupiah. Sarman mengungkapkan serangan rudal Israel-AS ke Iran pada akhir Februari lalu telah menyebabkan gangguan suplai bahan baku pelaku usaha di Indonesia.
Masalahnya, gangguan rantai pasok dan pelemahan kurs rupiah pada akhirnya membuat harga produk semakin naik. Dunia usaha pun akan melakukan penyesuaian harga operasional, yang menyebabkan harga produk akhir di tingkat konsumen juga naik.
“Tentu ini juga menjadi psikologi bagi dunia usaha kita apakah nantinya dengan kenaikan itu akan mampu meningkatkan penjualan kan. Lagi-lagi ini berhubungan juga dengan daya beli masyarakat,” papar Sarman.
Oleh sebab itu, Kadin berharap pemerintah melakukan intervensi nyata lewat kebijakan agar produktivitas dunia usaha bisa tetap bertahan tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja sehingga pertumbuhan ekonomi bisa tetap optimal.





