Kecintaan Belajar Seumur Hidup Kurangi Risiko Penyakit Demensia

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Memiliki memori dan fungsi kognitif yang tetap tajam saat usia semakin senja dengan terhindar dari risiko demensia perlu diusahakan sepanjang hidup sejak kita muda. Dengan mengembangkan kecintaan belajar seumur hidup dapat membantu mengurangi kejadian demensia, terutama akibat Alzheimer.

Mereka yang aktif menjalani pembelajaran seumur hidup secara langsung dapat mencegah Alzheimer. Karena itu, penting untuk memperluas akses semua orang sejak dini ke kesempatan belajar, memperkaya lingkungan, dan aktivitas intelektual. Langkah-langkah ini dapat memainkan peran penting dalam mendukung otak yang lebih sehat seiring bertambahnya usia.

Penelitian dari ilmuwan di Rush University Medical Center, Chicago, Amerika Serikat, yang dipublikasikan di jurnal Neurology edisi Februari 2026 menunjukkan hal tersebut. Riset ini menemukan bahwa orang yang tetap lebih terlibat secara intelektual sepanjang hidup mereka mengembangkan penyakit Alzheimer sekitar lima tahun lebih lambat daripada mereka yang memiliki tingkat stimulasi mental terendah. Mereka juga baru mengalami gangguan kognitif ringan rata-rata tujuh tahun kemudian.

Baca JugaDemensia Bukan Sekadar Pikun

Kesimpulan penelitan yang diterbitkan di jurnal medis American Academy of Neurology tersebut menekankan hubungan pembelajaran seumur hidup secara langsung dapat mencegah Alzheimer. "Studi kami melihat pengayaan kognitif dari masa kanak-kanak hingga kehidupan selanjutnya, dengan fokus pada aktivitas dan sumber daya yang merangsang pikiran," kata penulis studi Andrea Zammit dari Pusat Studi Penyakit Alzheimer di Rush University Medical Center di Chicago.

Lebih lanjut Zammit menjelaskan, hasil penelitian menunjukkan kesehatan kognitif di kemudian hari sangat dipengaruhi oleh paparan seumur hidup ke lingkungan yang merangsang intelektual. Hal ini dapat dilakukan melalui aktivitas membaca, menulis, dan mempelajari keterampilan baru seumur hidup.

Para peneliti mengikuti 1.939 orang dewasa dengan usia rata-rata 80 tahun yang tidak menderita demensia pada awal penelitian. Peserta dilacak selama sekitar delapan tahun.

Untuk lebih memahami pembelajaran seumur hidup, tim memeriksa pengayaan kognitif pada tiga tahap kehidupan. Faktor kehidupan awal, sebelum usia 18 tahun, termasuk seberapa sering peserta dibacakan, seberapa sering mereka membaca buku, apakah surat kabar dan atlas tersedia di rumah, dan apakah mereka belajar bahasa asing selama lebih dari lima tahun.

Baca JugaAlzheimer Masih Terabaikan, Banyak Kasus Tidak Terdeteksi

Pengayaan usia paruh baya termasuk tingkat pendapatan pada usia 40 tahun, akses ke sumber daya seperti langganan majalah, kamus, dan kartu perpustakaan, dan seberapa sering peserta mengunjungi tempat-tempat seperti museum atau perpustakaan. Pengayaan kehidupan di kemudian hari, dimulai sekitar usia 80 tahun, berfokus pada kegiatan seperti membaca, menulis, dan bermain gim, bersama dengan pendapatan dari Jaminan Sosial, pensiun, dan sumber lainnya.

Lalu, para peneliti menghitung skor pengayaan untuk setiap peserta. Selama penelitian, sebanyak 551 peserta mengembangkan penyakit Alzheimer, sementara sebanyak 719 mengembangkan gangguan kognitif ringan.

Robert S Wilson, peneliti di Rush University Medical Center, Chicago, yang juga terlibat dalam penelitian, menjelaskan, ketika timnya membandingkan 10 persen peserta teratas dengan skor pengayaan tertinggi dengan 10 persen terbawah, muncul perbedaan yang jelas. Di antara mereka yang memiliki pengayaan tertinggi, 21 persen mengembangkan Alzheimer, dibandingkan dengan 34 persen dari mereka yang memiliki pengayaan terendah.

Setelah memperhitungkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan pendidikan, pengayaan seumur hidup yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko penyakit Alzheimer 38 persen lebih rendah dan risiko gangguan kognitif ringan 36 persen lebih rendah.

Terlibat dalam berbagai aktivitas yang merangsang mental sepanjang hidup dapat membuat perbedaan dalam kognisi.

Waktu timbulnya penyakit juga berbeda secara signifikan. Orang dengan pengayaan tertinggi mengembangkan Alzheimer pada usia rata-rata 94 tahun, dibandingkan dengan usia 88 untuk mereka yang memiliki pengayaan terendah, ada penundaan lima tahun,”  kata Wilson.

Untuk gangguan kognitif ringan, lanjut Wilson, mereka yang memiliki pengayaan lebih tinggi mengembangkan gejala pada usia rata-rata 85 tahun, dibandingkan dengan usia 78 tahun untuk mereka yang memiliki pengayaan lebih rendah. Dengan demikian ada penundaan tujuh tahun.

Dalam kelompok peserta yang lebih kecil yang meninggal selama penelitian dan menjalani otopsi, mereka yang memiliki pengayaan yang lebih tinggi menunjukkan memori dan kemampuan berpikir yang lebih kuat dan penurunan kognitif yang lebih lambat sebelum kematian. Manfaat ini tetap ada bahkan setelah memperhitungkan perubahan otak awal yang terkait dengan Alzheimer.

"Temuan kami menggembirakan, menunjukkan bahwa secara konsisten terlibat dalam berbagai aktivitas yang merangsang mental sepanjang hidup dapat membuat perbedaan dalam kognisi," kata Zammit.

Sediakan perpustakaan

Oleh karena itu, kata Zammit, investasi publik yang memperluas akses ke lingkungan yang memperkaya, seperti perpustakaan. Selain itu, program pendidikan dini yang dirancang untuk memicu kecintaan belajar seumur hidup dapat membantu mengurangi kejadian demensia.

Menurut  Zammit, tetap aktif secara mental sepanjang hidup dapat dilakukan melalui aktivitas seperti membaca, menulis, dan belajar bahasa baru. Stimulasi mental di berbagai tahap kehidupan  dengan mengakses ke buku, surat kabar, dan perpustakaan, juga dapat membentuk kesehatan otak di kemudian hari.

Baca JugaDemensia pada Lansia, Apakah Bisa Dicegah?

Dampak aktivitas belajar dengan durasi yang semakin lama pada risiko penyakit demensia yang lebih lamban juga didapati dalam riset terpisah. Penelitian gabungan tim di rumah sakit dan pusat kesehatan akademik Mass General Brigham di Amerika Serikat dengan peneliti dari Massachusetts General Hospital, Brigham and Women's Hospital, Mass Eye and Ear, menemukan, pencapaian pendidikan yang lebih tinggi, yaitu lebih banyak tahun pendidikan, berkaitan dengan kemampuan kognitif yang terjaga, khususnya bagi mereka yang memiliki risiko genetik tertinggi berisiko pada penyakit Alzheimer.

Yakeel Quiroz, penulis utama yang juga ahli neuropsikologi klinis dan peneliti neuroimaging serta Direktur Laboratorium Neuroimaging Demensia Familial di Departemen Psik iatri dan Neurologi di Rumah Sakit Umum Massachusetts, memaparkan para peneliti menyelidiki pengaruh genetika dan pencapaian pendidikan terhadap penurunan kognitif. Mereka mempelajari data dari 675 orang yang membawa mutasi yang membuat mereka rentan terhadap penyakit Alzheimer yang muncul lebih dini.

Pembawa mutasi ini, yang dikenal sebagai PSEN1 E280A, memiliki usia rata-rata 49 tahun untuk timbulnya demensia.  Ketika membawa mutasi kedua, usia timbulnya penurunan kognitif yang lebih cepat.

“Tingkat pendidikan yang lebih tinggi mungkin memiliki efek perlindungan terhadap gangguan kognitif, bahkan dengan adanya faktor risiko genetik yang kuat," kata Quiroz. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertamina Naikkan Harga BBM Per 18 April 2026
• 11 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Rumah Modular Dinilai Jadi Solusi Hunian Cepat dan Terjangkau untuk Pascabencana di Indonesia
• 16 jam lalupantau.com
thumb
6 Fakta Ikan Sapu-Sapu, Dari Sungai Amazon ke Ciliwung, Jadi Makanan di Mexico
• 21 jam laludisway.id
thumb
Ade Govinda sinergikan perluasan jangkauan musik ke Malaysia
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Kasus Bayi Nyaris Dibawa Orang di RSHS Bandung, Sang Ibu Laporkan Perawat ke Polisi
• 23 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.