Konflik Iran Tekan Manufaktur China

tvrinews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews – Guangzhou, China

Lonjakan biaya bahan baku dan penurunan permintaan global mengancam margin keuntungan eksportir di Canton Fair.

Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai mengirimkan gelombang kejut ke pusat manufaktur dunia. 

Di koridor luas Canton Fair, pameran dagang terbesar di China, kecemasan membayangi ribuan eksportir saat eskalasi konflik antara Iran dan Israel memicu lonjakan biaya produksi dan ketidakpastian pasar global.

Bagi Shao Haixia, Manajer Umum pabrik plastik yang telah berdiri selama 27 tahun, realitas perang terasa sangat nyata di laporan laba ruginya. Sejak konflik dimulai, harga bahan baku melonjak sebesar 20%.

"Kami terpaksa mengutip ulang harga, dan klien masih mempertimbangkannya," ujar Shao. 

Ia mengungkapkan bahwa margin keuntungan perusahaannya, Xiatao Plastic Industry, telah merosot tajam menjadi hanya 5% setengah dari biasanya. 

"Bagi perusahaan perdagangan luar negeri seperti kami, situasi ini sulit. Kami hanya berharap perang segera berakhir."

Dilema Biaya dan Permintaan yang Melemah

Xiatao hanyalah satu dari 32.000 perusahaan yang memadati area pameran seluas lebih dari 200 lapangan sepak bola tersebut. 

Sebelum pecahnya konflik, sektor ekspor China berada di atas angin setelah berhasil menaklukkan pasar baru meskipun ada kenaikan tarif dari Amerika Serikat, hingga mencatatkan rekor surplus perdagangan tahun lalu.

Namun, kejutan energi dan kenaikan harga komoditas kini mengancam margin tipis di pabrik-pabrik yang mempekerjakan ratusan juta orang. 

Data perdagangan dari Beijing pekan ini menunjukkan permintaan global mulai goyah, memaparkan kerentanan China terhadap ketergantungan ekspor.

Kondisi lebih suram dirasakan oleh Liang Su, Manajer Umum produsen alat elektronik Weking. Ia melaporkan output produksinya terpangkas hingga separuh akibat merosotnya pesanan dan melonjaknya harga plastik, tembaga, serta aluminium.

"Jika pertempuran berlanjut, bukan hanya kami yang terdampak ekonomi Eropa sedang tidak baik, Asia Tenggara sudah lemah sejak awal, dan sekarang dolar AS juga melemah," kata Liang.

Ia menambahkan bahwa jika situasi tidak segera membaik, langkah selanjutnya adalah efisiensi ekstrem, termasuk pengurangan tenaga kerja.

Strategi Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Tidak semua perusahaan merasakan dampak yang sama. Steven Shen, manajer firma alat pembersih industri, relatif lebih tenang karena mampu membebankan kenaikan biaya bahan baku sepenuhnya kepada konsumen. 

Tanpa langkah tersebut, keuntungan perusahaannya akan tersapu bersih oleh biaya material dan penguatan yuan.
"Bukan hanya kami, kompetitor juga menaikkan harga jadi saya pikir ini masih aman," ungkap Shen.

Di sisi lain, Jojo Lei dari Golden Field Industrial memilih strategi berbeda. Meski biaya input naik sekitar 8%, perusahaannya memilih untuk menyerap beban tersebut selama setidaknya enam bulan guna menjaga hubungan dengan pelanggan. 

Namun, ia telah menyiapkan 'Rencana B': mempercepat relokasi produksi ke Asia Tenggara jika permintaan global benar-benar runtuh.

Harapan pada Stabilisasi Hubungan AS-China

Di tengah kemelut ini, para pelaku usaha juga menaruh harapan pada diplomasi politik. Rencana kunjungan Donald Trump ke China bulan depan menjadi secercah harapan bagi para eksportir yang masih terbebani tarif tinggi setelah gejolak perdagangan tahun 2025.

Shao Haixia memandang potensi kunjungan tersebut sebagai sinyal stabilisasi hubungan Washington-Beijing. 

"Jika dia benar-benar datang ke China, bagi perusahaan perdagangan luar negeri seperti kami, itu akan menjadi tanda yang disambut baik, hampir seperti datangnya musim semi," pungkasnya.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usai Dilaporkan Akibat Pencabulan Lima Santri, Dai Kondang Ini Sudah Tinggal di Mesir
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tabel Angsuran KUR BRI April 2026 Terbaru, Cek Syarat dan Cara Pengajuannya
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Arema vs Persis: Tren Positif Laskar Sambernyawa jadi Ujian Singo Edan
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Retret di Magelang, Ace Hasan Bicara Peran Strategis Ketua DPRD
• 4 jam laludetik.com
thumb
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Suap, MAKI Apresiasi Langkah Kejagung Ungkap Kasus Tanpa OTT
• 20 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.