Washington: Postur makroekonomi di kawasan Asia dinilai masih menunjukkan daya tahan yang stabil di tengah berbagai dinamika ekonomi global. Meski demikian, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperingatkan adanya ancaman dari siklus baru guncangan harga energi yang diproyeksikan bakal membawa efek berantai negatif bagi stabilitas perekonomian kawasan.
Melansir Xinhua, Sabtu, 18 April 2026, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan menyoroti kerentanan struktural Asia di tengah memanasnya eskalasi global. Ia mengatakan tingginya intensitas penggunaan bahan bakar fosil di kawasan Asia dan besarnya ketergantungan pada komoditas energi dari area konflik akan memberikan tekanan bagi Asia.
Meski dihantui risiko geopolitik, Srinivasan mencatat laju pertumbuhan di mayoritas negara Asia pada pengujung 2025 nyatanya berhasil melampaui ekspektasi awal pasar. Srinivasan menambahkan lonjakan kinerja ekspor baru-baru ini ditopang oleh tingginya permintaan global terhadap produk-produk teknologi.
"Hal ini memberikan keuntungan besar bagi banyak negara Asia yang terintegrasi erat dengan rantai pasok teknologi global. Selain itu, diversifikasi perdagangan ke berbagai belahan dunia lainnya juga membantu meredam dampak pelemahan permintaan impor dari Amerika Serikat,” ungkap Srinivasan dalam konferensi pers Pertemuan Musim Semi IMF dan Grup Bank Dunia 2026.
Baca juga: Bos Bank Dunia hingga ADB Siap Bantu Negara-negara yang Terancam Kena Krisis Gegara Perang AS-Iran
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Ancaman inflasi dan disrupsi rantai pasok
Pejabat senior IMF tersebut menggarisbawahi dampak langsung dari berkecamuknya perang di Timur Tengah terhadap meroketnya harga minyak dan gas dunia. Tren tersebut mempertegas tingginya eksposur Asia terhadap guncangan energi, mengingat karakteristik industri manufaktur Asia yang padat energi dan bergantung pada bahan bakar impor.
Srinivasan memperingatkan Asia sangat rentan terhadap disrupsi pasokan input pendukung manufaktur dan agrikultur seperti produk petrokimia dan pupuk. Jika konflik berkepanjangan berpotensi merusak tatanan rantai pasok global secara lebih luas.
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia akan melandai dari level 5,0 persen pada 2025 dan turun menjadi 4,4 persen pada 2026, kemudian kembali mereda ke posisi 4,2 persen pada 2027 mendatang. Tiongkok dan India diproyeksikan masih akan menjadi motor utama pertumbuhan dan menyumbang sekitar 70 persen dari total ekspansi ekonomi kawasan Asia.
Sebagai langkah mitigasi jangka pendek, Srinivasan mendesak para pembuat kebijakan di Asia untuk smeredam guncangan tanpa mengorbankan mekanisme sinyal harga pasar maupun kredibilitas kebijakan.
Sementara untuk cakrawala jangka menengah, ia mendorong pemerintah agar memprioritaskan reformasi struktural untuk membangun pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh, seimbang dan inklusif di tengah pusaran ketidakpastian global.




