REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rencana Indonesia mengimpor minyak mentah dan LPG dari Rusia dinilai menarik dari sisi harga, tetapi menyimpan tantangan besar. Faktor logistik hingga kesiapan kilang menjadi penentu apakah kebijakan ini bisa berjalan efektif.
Praktisi migas Hadi Ismoyo mengatakan, jarak pengiriman menjadi isu utama dalam skema impor ini. Jika pasokan berasal dari Rusia bagian Eropa, waktu tempuh bisa mencapai 45 hingga 60 hari dengan biaya logistik dan asuransi yang tinggi.
“Tantangannya ada pada lokasi pengiriman. Jika titik pengiriman berada di Rusia bagian Eropa, maka biaya pengiriman, asuransi, serta kebutuhan armada akan lebih besar dengan waktu tempuh sekitar 45 hingga 60 hari,” kata Hadi kepada Republika, Sabtu (18/4/2026).
Sebaliknya, jika pengiriman dilakukan dari wilayah Rusia bagian Asia, waktu tempuh bisa ditekan jauh lebih singkat. “Namun jika titik pengiriman berada di Rusia bagian Asia, waktu tempuh bisa sekitar 15 hari,” ujarnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Selain logistik, aspek teknis juga menjadi tantangan. Tidak semua kilang di Indonesia mampu mengolah jenis minyak mentah tertentu, sehingga perlu penyesuaian spesifikasi. “Tidak setiap kilang cocok dengan jenis minyak dari Rusia, sehingga perlu dipastikan spesifikasi yang sesuai,” jelas Hadi.