Di Balik Skripsi, Ada Kecemasan Mahasiswa yang Sering Diabaikan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ada yang aneh dengan cara kita membicarakan skripsi. Di satu sisi, ia disebut sebagai puncak intelektual perjalanan kuliah. Di sisi lain, ia menjadi sumber tangis diam-diam di kamar kos, alasan seseorang mengganti status WhatsApp berkali-kali, dan dalih untuk tidak mengangkat telepon dari orang tua. Kita bicara tentang skripsi seolah ia hanya persoalan teknis mengenai BAB berapa, metode apa, sitasi model apa. Padahal, yang sesungguhnya terjadi jauh lebih dalam dari itu.

Kecemasan dalam proses skripsi adalah nyata dan terukur. Istilah psikologis yang relevan di sini adalah prolonged academic anxiety, kecemasan akademik berkepanjangan yang muncul bukan karena satu ujian, melainkan karena tekanan yang terus-menerus dan tidak jelas kapan berakhirnya.

Berbeda dari kecemasan ujian biasa yang datang dan pergi dalam hitungan hari, kecemasan skripsi bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan tahun. Dan dalam rentang waktu itulah ia pelan-pelan menggerus.

Labirin yang Tak Ada Petanya

Yang membuat kecemasan skripsi berbeda dari tekanan akademik lainnya adalah sifatnya yang tidak linier. Seorang mahasiswa bisa merasa sudah maju, lalu tiba-tiba dosen pembimbing meminta revisi besar yang terasa mengulang dari awal. Tidak ada SOP yang pasti, tidak ada batas revisi yang baku, tidak ada jaminan bahwa usaha hari ini akan dihargai besok. Ini bukan kelemahan mahasiswanya. Ini adalah ciri khas dari sistem bimbingan skripsi yang memang tidak dirancang dengan mempertimbangkan kondisi psikologis pelajar.

Di sinilah letak masalah yang jarang diakui secara terbuka. Institusi pendidikan kita masih memandang skripsi sebagai proses intelektual semata, bukan proses manusiawi. Dosen pembimbing dievaluasi dari jumlah mahasiswa yang lulus, bukan dari bagaimana ia mendampingi proses. Tidak ada ruang resmi untuk mahasiswa berkata, "Pak, saya tidak baik-baik saja."

Diam yang Menjadi Masalah Lebih Besar

Ironisnya, semakin cemas seorang mahasiswa, semakin kecil kemungkinan ia meminta tolong. Ada mekanisme psikologis yang disebut avoidance behavior, perilaku menghindar yang justru dipicu oleh kecemasan itu sendiri. Mahasiswa yang cemas cenderung menunda bimbingan, menghindari membuka laptop, dan mengurangi komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Dari luar, ia tampak malas. Dari dalam, ia sedang berjuang melawan dirinya sendiri setiap harinya.

Ini bukan soal karakter lemah. Ini adalah respons psikologis yang sangat manusiawi terhadap tekanan yang tidak memiliki ujung yang jelas. Dan alih-alih mendapat respons yang empatik, mahasiswa dalam kondisi ini sering justru mendapat stigma "Belum selesai juga?", "Begitu saja kok tidak bisa?", atau yang paling menyengat tatapan kasihan dari keluarga di suatu momen.

Apa yang Sebenarnya Perlu Berubah

Solusinya bukan sekadar menyarankan mahasiswa untuk kelola stres atau jaga kesehatan mental. Itu seperti menyuruh orang yang tenggelam untuk belajar berenang dulu sebelum diselamatkan. Yang perlu berubah adalah strukturnya.

Pertama, institusi perlu menetapkan standar bimbingan yang lebih transparan. Bukan hanya soal jumlah pertemuan, melainkan juga soal ekspektasi dua arah antara dosen dan mahasiswa. Kedua, universitas perlu menyediakan layanan konseling akademik yang proaktif, bukan reaktif—artinya tidak hanya tersedia ketika mahasiswa sudah krisis, tetapi juga hadir sebagai bagian dari proses itu sendiri. Ketiga, dan ini yang paling krusial, kita perlu mengubah narasi budaya tentang skripsi, dari ujian keberanian menjadi proses belajar yang membutuhkan dukungan.

Skripsi memang seharusnya menantang. Namun, tantangan yang sehat adalah yang mendorong seseorang tumbuh, bukan yang diam-diam menghancurkan kepercayaan dirinya selama berbulan-bulan.

Kepada Siapa pun yang Sedang di Tengah-tengahnya

Jika kamu sedang di sana dan menunda buka laptop, menghindari panggilan dosen, merasa tidak layak menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai, ketahuilah bahwa kamu tidak sedang gagal. Kamu sedang mengalami sesuatu yang nyata, dan itu bukan tanda bahwa kamu tidak mampu.

Yang membedakan mereka yang akhirnya selesai dengan yang tidak bukan soal siapa yang lebih pintar, melainkan siapa yang cukup berani untuk mengakui bahwa ia butuh bantuan dan cukup beruntung untuk menemukan lingkungan yang mau memberikannya bantuan.

Skripsi adalah tentang data. Namun lebih dari itu, ia adalah tentang siapa kamu di depan ketakutanmu sendiri dan itu pekerjaan yang tidak harus kamu lakukan sendirian.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kisah Inspiratif Chreestella, Satu-satunya Peserta asal NTT Lolos Taruna Bhayangkara
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
China Dukung Gencatan Senjata Lebanon-Israel dan Dorong Penyelesaian Diplomatik
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Komisi I Minta Sidang Andrie Yunus di Pengadilan Militer Digelar Terbuka
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Prediksi Skor Chelsea vs MU Dini Hari Nanti, Susunan Pemain dan Rekor Head to Head
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Setelah Status 3 Tersangka Dicabut di Kasus Ijazah Jokowi
• 11 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.