Menjaga Napas di Alur Dangkal, Ikhtiar di Nadi Konektivitas Sungai Musi

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Di balik perannya yang krusial sebagai gerbang keluar-masuk barang, alur pelayaran Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan berpacu dengan pendangkalan yang menantang efisiensi distribusi logistik. Meski demikian, PT Pelabuhan Tanjung Priok alias PTP Nonpetikemas Cabang Palembang, operator terminal serbaguna yang melayani bongkar muat kargo non-petikemas, tak tinggal diam. Manajemen berjibaku memastikan rantai pasok tetap dapat menembus alur yang tak lagi dalam.

Matahari tepat di atas kepala saat Hidayatullah (30) berkonsentrasi penuh di dalam kabin jib crane setinggi 25 meter di kawasan Pelabuhan Boom Baru, Palembang, Rabu (15/4/2026). Jemarinya lincah mengoperasikan tuas untuk mengangkat satu per satu karung berisi serbuk putih dari lambung Kapal MV Gold Spring.

Kapal besi sepanjang kurang lebih 100 meter asal Vietnam itu membawa Muriate of Potash (MOP) sebanyak 4.509 ton. Secara presisi, crane yang dikendalikan Hidayatullah memindahkan karung demi karung MOP ke 22 truk yang mengantre di Dermaga PTP Nonpetikemas Palembang. Dari sana, truk-truk itu akan mengantarkan MOP menuju gudang PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri).

Baca JugaHUT Ke-8 PTP Nonpetikemas, Menuju "Indonesia Conectivity Champion"

"Sebagai operator crane, saya tidak boleh sedikit pun kehilangan konsentrasi, apalagi mengantuk saat memindahkan barang dari kapal ke truk dan sebaliknya. Selain risikonya sangat besar untuk keselamatan para buruh yang bekerja di bawah, barang-barang ini juga bernilai sangat tinggi dan mempertaruhkan kepercayaan konsumen pengguna jasa," ujar Hidayatullah saat ditemui di sela waktu istirahatnya.

Tak jauh dari situ, di salah satu sudut dermaga, Andy Syahfril tidak kalah sibuk. Walau keringat terus membasahi wajah dan tubuhnya, Wakil Manajer Cabang Operasi dan Teknik PTP Nonpetikemas Palembang itu tetap fokus memastikan ritme sekitar 30 pekerja lapangan tetap stabil.

Sebab, mereka berpacu dengan waktu. Dengan intensitas kerja sekitar 1.000 ton per hari, proses bongkar 4.509 ton MOP itu ditargetkan tuntas dalam lima hari, terhitung sejak 14 April hingga 19 April 2026. Waktu mereka tersisa tiga hari lagi.

"Kami harus optimalkan waktu panas terik ini untuk menuntaskan target bongkar 1.100-1.200 ton sehari yang dibagi dua waktu kerja (shift), yakni pukul 08.00-20.00 dan pukul 20.00-08.00. Sebab, kalau hujan, pekerjaan harus dihentikan karena MOP bisa rusak kalau terkena air. Ini jadi salah satu tantangan dalam proses bongkar-muat," ungkap Andy.

Kisah Hidayatullah di balik kemudi alat berat dan Andy yang mengawasi pekerjaan di tengah sengatan matahari yang membakar kulit itu bukan sekadar rutinitas. Itu adalah potret kecil dari upaya PTP Nonpetikemas Palembang dalam memastikan kelancaran ketersediaan komoditas strategis untuk sektor industri pupuk nasional tersebut.

Sebab, dari setiap butiran MOP, kelak muncul pupuk NPK yang menjadi elemen krusial dalam menjaga denyut pertanian di "Bumi Sriwijaya" maupun wilayah lain di Indonesia. "MOP ini adalah bahan baku utama untuk Pusri memproduksi pupuk majemuk NPK (nitrogen, fosfat, dan kalium" kata Andy.

Baca JugaMemperluas Konektivitas Tol Laut
Melawan musuh tak terlihat

Bagi Hidayatullah atau Andy, terik matahari dalam bekerja bukanlah tantangan berarti. Justru, tantangan utama mereka adalah musuh tak terlihat berupa kondisi alam yang semakin tidak bersahabat.

Saat ini, sedimentasi di Sungai Musi kian kronis. Situasi itu menyebabkan aktivitas bongkar-muat logistik tidak selancar sekitar satu abad silam, yakni saat kawasan Boom Baru pertama kali dioperasikan pemerintah kolonial Belanda sebagai pelabuhan.

Kini, saat air pasang, jarak vertikal antara permukaan air dengan bagian terendah kapal (draft) di pelabuhan maksimal hanya 5,5-6 meter. Kondisinya kian pelik ketika air surut di mana draft di pelabuhan bisa menyusut menjadi 4-4,5 meter dan draft di alur pelayaran bisa jauh lebih dangkal.

Keadaan itu menimbulkan dilema dalam distribusi logistik. Setidaknya, kapal-kapal yang belum sempat bersandar ke dermaga harus bertahan di alur pelayaran selama 2-4 jam untuk menunggu air pasang kembali.

Di puncak musim kemarau, antara Juli-September, waktu tunggu itu bisa membengkak hingga 6 jam. "Situasi itu bisa turut menambah beban kerja petugas di pelabuhan. Sebab, waktu bongkar-muat tidak menentu dan berpeluang molor," terang Andy.

Menyikapi tantangan tersebut, Manajer Cabang PTP Nonpetikemas Palembang Ade Affandi mengatakan, pihaknya tidak tinggal diam. Langkah strategis telah disiapkan dengan penerapan sistem operasi terminal yang terintegritas secara digital (Pelindo Terminal Operating System Multipurpose/PTOS-M). Melalui standar perencanaan operasional (planning operation), mereka mendata kedatangan kapal, jenis dan jumlah muatan, hingga target waktu pengerjaan yang diselaraskan dengan jadwal pasang-surut sungai.

Baca JugaBaru Kuasai 11 Persen Pasar Nonpeti Kemas, Pelindo Perbaiki Operasional

Lewat standar pengendalian operasional (operation and control), koordinasi pemantauan antara penyedia jasa dan pelanggan diperkuat untuk memastikan setiap menit di dermaga berjalan optimal. Modernisasi dan perawatan rutin peralatan, seperti jib crane, hopper dan grab, reach stacker, serta forklift turut menjadi tumpuan untuk memastikan efisiensi pengerjaan.

Hasilnya dianggap nyata. Meski menghadapi tantangan alam yang relatif sulit, semua langkah strategis itu mampu mempertahankan PTP Nonpetikemas Palembang sebagai jembatan konektivitas berbagai komoditas dari Sumsel menuju daerah lain di Indonesia hingga luar negeri, serta sebaliknya.

Saat ini, PTP Nonpetikemas Palembang menjadi garda terdepan keluar-masuk komoditas curah cair, seperti minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya, aspal, serta kaustik soda. Komoditas curah kering, meliputi pupuk curah, bungkil inti sawit (PKE), pasir, dan batu split.

Ada pula kargo umum (general cargo) yang terdiri dari peralatan berat (heavy equipment), jasa pengiriman barang besar (project cargo), karet, mobil, dan lainnya. Selain itu, muatan karungan (bag cargo) ikut ditangani, antara lain pupuk karungan dan semen karungan.

"Di atas kertas, produktivitas bongkar-muat kami pun terus tumbuh. Setidaknya, bongkar-muat general cargo naik 3 persen dari sekitar 1.500 TSD (ton per kapal per hari) pada Triwulan I-2025 menjadi 1.544 TSD pada periode yang sama tahun 2026. Bongkar muat komoditas curah cair juga naik 1 persen dari 2.815 TSD pada Triwulan I-2025 menjadi 2.842 TSD pada periode yang sama tahun ini," tutur Ade.

Baca JugaKesibukan di Pelabuhan Tanjung Priok

Manajer Senior Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas Fiona Sari Utami, menuturkan, pertumbuhan aktivitas bongkar-muat di Palembang turut berkontribusi terhadap tren positif perusahaan secara nasional, yang total tersebar di 11 wilayah pelabuhan di Indonesia bagian barat. Paling tidak, pada Triwulan I-2026, aktivitas bongkar-muat keseluruhan mencapai 12,4 juta ton atau naik 3,84 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 11,9 juta ton.

Komposisinya didominasi oleh bongkar-muat kemasan curah kering sebesar 5,7 juta ton atau 46 persen, curah cair 3 juta ton atau 25 persen, general cargo 2,9 juta ton atau 24 persen, dan bag cargo 656.000 ton atau 5 persen. "Kami terus berupaya memastikan konektivitas komoditas strategis berjalan lancar, terutama bahan baku pupuk. Hal itu diharapkan mampu mendukung pengembangan ekonomi nasional secara berkelanjutan, khususnya dari produktivitas di sektor pertanian," ujar Fiona.

Kami terus berupaya memastikan konektivitas komoditas strategis berjalan lancar, terutama bahan baku pupuk. Hal itu diharapkan mampu mendukung pengembangan ekonomi nasional secara berkelanjutan, khususnya dari produktivitas di sektor pertanian.

Isu sistemik

Persoalan pendangkalan alur pelayaran Sungai Musi sejatinya telah menjadi isu sistemik di Sumsel selama beberapa dekade terakhir. Fenomena pendangkalan yang semakin parah dari waktu ke waktu itu telah memperlambat laju aktivitas ekspor-impor Sumsel. Padahal, Sumsel memiliki banyak komoditas unggul yang sangat diminati pasar nasional maupun internasional, seperti karet, sawit, kopi, hingga batubara.

Selain itu, kawasan Pelabuhan Boom Baru sudah sulit untuk dikembangkan karena dikepung oleh permukiman padat, pusat niaga, dan perkantoran. "Dampaknya, komoditas unggulan Sumsel sulit bersaing karena biaya logistik lebih besar, seperti batubara yang harus dilanjutkan bongkar-muat di tengah laut. Sumsel pun kehilangan citranya karena banyak komoditas unggulannya justru keluar dari pelabuhan di provinsi tetangga," kata Gubernur Sumsel Herman Deru.

Hal itu turut melatarbelakangi Deru untuk segera merealisasikan pembangunan Pelabuhan Palembang Baru/Pelabuhan Tanjung Carat di Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Setelah melewati proses yang sangat panjang, realisasi itu mulai menemui titik terang saat dilakukan "Peluncuran Proyek Pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat" di Palembang, Kamis (9/4/2026).

Acara itu dihadiri langsung oleh sejumlah petinggi kementerian/lembaga terkait, antara lain Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala BPN Nusron Wahid, Kepala Staf Presiden Muhammad Qodari, dan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu.

Adapun pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat akan dilakukan dengan skema pendanaan inovatif melalui konsorsium perusahaan BUMN, swasta, dan BUMD, yaitu oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), PT Samudera Pasai Indonesia, dan PT Sumsel Energi Gemilang. Peletakan batu pertamanya ditargetkan pada Triwulan IV-2026 dan diharapkan tuntas paling lambat pada 2029.

"Pembangunan pelabuhan samudera ini menjadi cita-cita panjang yang dirintis sejak 40 tahun lalu secara bertahap oleh enam gubernur sebelumnya. Dengan adanya pelabuhan ini, kita berhadap daya saing komoditas unggulan Sumsel meningkat karena biaya logistik bisa ditekan. Di sisi lain, perekonomian Sumsel diharapkan semakin tumbuh karena distribusi komoditas ke Sumsel akan lebih lancar dan lebih murah," tutur Deru.

Baca JugaKenapa Pelabuhan Samudra Tanjung Carat Sangat Dinanti Sumatera Selatan?

Dosen ekonomi pembangunan di Fakultas Ekonomi, Universitas Sriwijaya, Soekanto sependapat bahwa Sumsel sudah sangat membutuhkan pelabuhan baru yang terkoneksi langsung dengan laut. Sebab, peran pelabuhan sungai di Boom Baru sudah sangat tidak ideal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi secara optimal. Hal itu mengingat banyak tantangan dalam operasional dan pengembangan pelabuhan sungai tersebut.

Kendati demikian, Soekanto menekankan, keberadaan Pelabuhan Tanjung Carat diharapkan tidak hanya untuk menjual produk bahan mentah dari komoditas unggulan Sumsel. Sebaliknya, kehadiran pelabuhan itu harus dioptimalkan untuk menjual produk bernilai tambah dari komoditas-komoditas tersebut.

Dengan kata lain, Pelabuhan Tanjung Carat harus menjadi pintu gerbang keluar produk hilirisasi dari "Bumi Sriwijaya". "Jangan sampai, investasi besar yang dikeluarkan untuk membangun Pelabuhan Tanjung Carat hanya dimanfaatkan untuk menjual bahan mentah. Jadikan pelabuhan itu sebagai pintu gerbang menjual produk bernilai tambah agar dampak ekonominya lebih optimal untuk Sumsel," kata Soekanto.

Di tengah kepungan sedimentasi dan tantangan pasang-surut Sungai Musi, PTP Nonpetikemas Palembang tetap berdiri sebagai ”jembatan” yang menjaga denyut nadi ekonomi terus berdetak. Dedikasi para pekerja memastikan laju konektivitas komoditas strategis tidak terhenti oleh pendangkalan alur pelayaran. Ke depan, jembatan pengabdian itu diharapkan lebih kokoh saat Pelabuhan Tanjung Carat mulai berdiri menyambut samudera.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BFIN Alihkan 290 Juta Saham Treasuri untuk Program MESOP
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Baru Beberapa Jam Dibuka, Iran Tutup Lagi Selat Hormuz!
• 3 jam laludetik.com
thumb
Hadiri Wisuda ITS, Mentrans Kenang Sosok Patriot Muda Abdul Rohid
• 10 jam laludetik.com
thumb
Cerita Prabowo Disarankan untuk Diwakili Berikan Arahan ke Ketua DPRD se-Indonesia
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Iran Tolak Perundingan Kedua dengan Amerika
• 1 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.