JAKARTA, DISWAY.ID - Menyusul kembali memanasnya konflik peperangan antara Iran vs Amerika Serikat (AS), Ekonom kembali mewaspadai akan adanya dampak peningkatan premi risiko global, terutama mengingat kawasan Timur Tengah adalah jantung pasokan energi dunia.
Bukan tanpa alasan. Pasalnya ketika jalur diplomasi buntu, maka pasar langsung mengantisipasi potensi eskalasi konflik, termasuk risiko gangguan di Selat Hormuz yang menjadi “chokepoint” perdagangan minyak global.
BACA JUGA:Iran Sebut Telah Buka Selat Hormuz, 2 Kapal Indonesia Masih Terparkir di Teluk Persia
Hal serupa pun juga turut dituturkan oleh Ekonom dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita. Dalam penjelasannya, dirinya menyatakan bahwa dalam kondisi saat ini, di mana harga bahan baku sudah lebih dulu tertekan, tambahan shock ini memperbesar tekanan inflasi global.
"Imbas awalnya adalah lonjakan harga energi, yang kemudian menjalar ke kenaikan biaya produksi di hampir seluruh sektor," ucap Ronny ketika dihubungi oleh Disway, pada Jumat (17/04).
BACA JUGA:Sukuk PNM Tembus Panggung Dunia, Menang di The Asset Awards 2026 Hongkong
Tidak hanya itu, Ronny juga menambahkan bahwa dampak lanjutan dari potensi eskalasi konflik ini juga bersifat sistemik, di mana ekonomi global berpotensi masuk fase tekanan ganda antara inflasi tinggi dan perlambatan pertumbuhan.
Dalam hal ini, negara maju seperti Eropa sangat rentan karena ketergantungan energi, sementara negara berkembang menghadapi tekanan nilai tukar, capital outflow, dan ruang fiskal yang semakin sempit.
"Dalam skenario eskalasi berkepanjangan, ini bisa berkembang menjadi krisis energi yang berdampak ke sektor lain seperti pangan dan pupuk, sehingga memperluas tekanan ke stabilitas sosial dan ekonomi global," jelas Ronny.
BACA JUGA:bank bjb Tegaskan Peran Strategis dalam Ekosistem Digitalisasi Pendapatan Daerah
Diplomasi Politik jadi Senjata Penting
Sementara itu, Ekonom Prasasti Center for Policy Studies menilai bahwa faktor komunikasi juga dinilai penting agar masyarakat dapat memahami situasi yang berkembang dan memiliki ekspektasi yang realistis terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Dalam hal ini, Board of Experts lembaga Prasasti, Halim Alamsyah,bahwa faktor komunikasi juga dinilai penting agar masyarakat dapat memahami situasi yang berkembang dan memiliki ekspektasi yang realistis terhadap kondisi ekonomi ke depan.
"Di saat yang sama, selain diplomasi energi, aktivitas trading energi harus dioptimalkan agar pemerintah memiliki fleksibilitas dalam meredam gejolak harga global," tegas Halim.





